skripsi 1

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Aqidah akhlak di lembaga pendidikan merupakan salah satu implementasi dari jiwa pendidikan Islam dan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pendidikan agama Islam. Maksud dari pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang mereka ketahui, tetapi mendidik akhlak dan jiwa mereka, membentuk moral/tingkah laku yang tinggi, menanamkan akhlak mulia, meresapkan fadhilah (keutamaan) di dalam jiwa para siswa, membiasakan mereka berpegang pada moral yang tinggi dan menghindari hal-hal yang tercela, berfikir secara rohaniyah dan insaniyah, dan menyiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang tinggi.

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa seseorang yang melakukan sesuatu kegiatan dengan sengaja itu pasti mempunyai kebutuan dan tujuan yang ingin di capai. Berbicara tentang tujuan belajar kita tidak terlepas dari  tujuan pendidikan.Tujuan pendidikan nasional tersebut telah di rumusan dalam Undang – Undang pendidikan Nomor : 2 / 1989 sebagai berikut :

1

“Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi,  1995: 4).

Pada dasarnya belajar mata pelajaran  aqidah akhlak  merupakan bagian dari ajaran islam karena di dalamnya akan di pelajari hal- hal yang pokok, seperti masalah aqidah atau keyakinan yang benar. Dan contoh – contoh akhlak yang terpuji yang harus di miliki, serta akhlak yang tercela yang harus di jauhi dan di tinggalkan. Dari Abu Hurairah ra. Rosulullah saw bersabda :

ﻮﻋﻦ ﺍ ﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮ ﺓ ﺮﻀﻲ ﺍﻠﻠﻪ ﻋﻧﻪ ﻗﺎﻞ : ﺳﺌﻞ ﺮﺴﻮﻞ ﺍﻠﻠﻪ ﻮﺼﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻮﺴﻠﻡ ﻋﻦ ﺍﻜﺜﺮﻣﺎ ﻳﺪﺧﻞ ﺍﻠﻧﺎ ﺱ ﺍﻠﺠﻨﺔ ؟ ﻔﻘﺎﻞ : ﺗﻘﻮﻯ ﺍﻠﻠﻪ, ﻮﺤﺴﻦ ﺍﻠﺧﻠﻖ ﻮﺴﺌﻞ ﻋﻦ ﺍﻜﺛﺮﻤﺎ ﻴﺪﺨﻞ ﺍﻠﻧﺎ ﺲ ﺍﻠﻧﺎ ﺭ؟ ﻔﻘﺎﻞ ﺍﻠﻔﻢ ﻮﺍﻠﻔﺭﺝ ( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻠﺗﺮﻣﺬﻱ, ﻮﻗﺎﻞ ﺣﺩﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺼﺣﻴﺢ)

Artinya      :    “Dari Abu Hurairah ra. berkata : “ Rasulullah saw. Ditanya tentang perbuatan apakah yang paling banyak memasukkan manusia kedalam surga ?” beliau menjawab : “ Taqwa kepada Allah dan budi pekerti yang baik “ dan beliau juga ditanya tentang perbuatan apakah yang paling banyak memasukkan seseorang masuk kedalam neraka ? Beliau menjawab : “ Mulut dan kemaluan”( Riwayat At Turmudzy ) (Muslich Shabir, 1981: 324)

Akhlak yang termanifestasikan pada kepribadian seseorang tidak akan sempurna tanpa dilandasi dengan pondasi yang kokoh yaitu berupa aqidah. Dengan pondasi aqidah yang kokoh maka anak tidak akan roboh oleh pengaruh kebudayaan modern yang mampu merusak moral (akhlak) seseorang.

Gejala kemerosotan moral dewasa ini sudah sangat mengkhawatirkan. Kejujuran, kebenaran, keadilan, tolong-menolong dan kasih sayang sudah tertutup oleh penyelewengan, penipuan, penindasan, saling menjegal dan saling merugikan. Banyak terjadi adu domba dan fitnah, menjilat, menipu, mengambil hak orang lain sesuka hati, dan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya.

Kemerosotan moral yang demikian itu lebih mengkhawatirkan lagi, karena bukan hanya menimpa kalangan orang dewasa dalam berbagai jabatan, kedudukan dan profesinya, melainkan juga telah menimpa pada para pelajar tunas-tunas muda yang diharapkan dapat melanjutkan perjuangan membela kebenaran, keadilan dan perdamaian masa depan.

Tingkah laku peyimpangan moral yang ditunjukkan oleh sebagian generasi muda harapan bangsa itu sungguhpun jumlahnya hanya sepersekian persen dari jumlah pelajar secara keseluruhan, sungguh amat disayangkan dan telah mencoreng kredibilitas dunia pendidikan. Para pelajar yang seharusnya menunjukkan moral yang baik sebagai hasil didikan itu, justru malah menunjukkan tingkah laku yang buruk.

Salah satu upaya yang mungkin dilakukan adalah dengan mengoptimalkan pendidikan moral yaitu pendidikan aqidah akhlak yang diharapkan mampu memberikan konstribusi yang berarti dalam membentuk religius pada diri siswa, yakni terciptanya mental akhlak dan kekuatan aqidah yang kokoh yang teraplikasikan dalam sikap keagamaan di berbagai dimensi kehidupan. Oleh karena itu mata pelajaran aqidah akhlak sangat diharapkan mampu menciptakan anak didik yang memiliki religiusitas yang tinggi, yang beraqidah dan berakhlak mulia, yang mampu mengaplikasikan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Melihat problematika inilah timbul sesuatu yang menarik untuk diteliti lebih lanjut terutama akhlak siswa MI Islamiyah Lego Wetan yang telah memperoleh materi aqidah akhlak, karena hal ini berpengaruh terhadap tingkah laku mereka dan prestasi belajar yang diraihnya. Sehingga akan diketahui apakah siswa yang prestasi aqidah akhlaknya baik juga bertingkah laku baik ataukah sebaliknya. Siswa yang prestasi aqidah akhlaknya kurang yang baik juga bertingkah laku kurang baik.

Dari masalah tersebut diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “ PENGARUH PRESTASI BELAJAR AQIDAH AKHLAK TERHADAP TINGKAH LAKU SISWA KELAS V DAN VI MI ISLAMIYAH LEGO WETAN KEC. BRINGIN KAB. NGAWI TAHUN PELAJARAN 2009/2010.

  1. B. Penegasan Istilah

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menghindari akan terjadinya interprestasi yang salah, maka perlu penulis jelaskan istilah istilah yang terdapat didalam judul skripsi ini.

Adapun istilah-istilah yang perlu dijelaskan pengertiannya adalah sebagai berikut :

1.   Pengaruh adalah daya yang timbul dari sesuatu ( orang, benda ) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang. (Balai Pustaka, 1998 : 664)

2.   Prestasi adalah hasil yang dicapai yang telah dikerjakan atau dilakukan. (Balai Pustaka, 1998 : 664)

3.   Belajar adalah proses dimana seseorang mengalami perubahan tingkah laku, meningkatkan penamoilan, mengorganisasikan atau menemukan sesuatu cara baru dalam bertingkah laku. (Sutrisno, 2004 : 4)

4.  Aqidah adalah suatu perkara yang wajib dibenarkan di dalam hati, sehingga ia menjadi tenang dan menjadi keyakinan yang mantap, tidak bercampur dengan keragu-raguan atau kebimbangan. (Jamaluin Kafie, Abd. Mu’is, 2002 : 18)

5.   Akhlak adalah ukuran tingkah laku manusia dengan suatu norma yang tetap dan pasti. (Departemen Agama RI,1983 : 18)

  1. Tingkah Laku adalah : perbuatan kelakuan, cara menjalankan atau cara berbuat. (Poerwadarminto, W.J.S., 1989 : 553) Jadi tingkah laku adalah  suatu perbuatan yang dilakukan dalam kebiasaan individu didalam situasi pendidikan

7.   Siswa kelas V dan VI MI Islamiyah Lego Wetan adalah Yang dimaksud siswa di sini adalah pelajar siswa kelas V dan VI MI Islamiyah Lego Wetan Kec. Bringin Kab. Ngawi.

Berdasarkan dari beberapa penegasan judul diatas dapat diambil kesimpulan peneliti mengambil bahasan tentang pengaruh prestasi belajar aqidah akhlak terhadap tingkah laku siswa kelas V dan VI MI Islamiyah Lego Wetan Kec. Bringin Kab. Ngawi Tahun Pelajaran 2009/2010.

  1. C. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang di atas maka yang menjadi masalah di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Apakah ada pengaruh prestasi belajar aqidah akhlak  terhadap tingkah laku siswa kelas V dan VI MI Islamiyah Lego Wetan Kec. Bringin Kab. Ngawi Tahun Pelajaran 2009/2010?
  2. Bagaimana tingkah laku siswa kelas V dan VI MI Islamiyah Lego Wetan Kec. Bringin Kab. Ngawi Tahun Pelajaran 2009/2010 ?
  3. Apa saja faktor-faktor yang menunjang dan menghambat pelaksanaan pengajaran aqidah akhlak agar bisa berpengaruh terhadap tingkah laku siswa kelas V dan VI MI Islamiyah Lego Wetan Kec. Bringin Kab. Ngawi Tahun Pelajaran 2009/2010 ?
  4. D. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian

a.  Tujuan Penelitian.

Suatu usaha dikatakan berhasil atau dapat diketahui hasilnya jika mempunyai pedoman yang jelas untuk mengevaluasinya, yang tidak lain adalah tujuan penelitian berdasarkan pokok bahasan di atas, maka tujuan yang penulis capai dalam penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui pengaruh prestasi belajar aqidah akhlak  terhadap tingkah laku siswa kelas V dan VI MI Islamiyah Lego Wetan Kec. Bringin Kab. Ngawi Tahun Pelajaran 2009/2010.
  2. Untuk mengetahui tingkah laku kelas V dan VI MI Islamiyah Lego Wetan Kec. Bringin Kab. Ngawi Tahun Pelajaran 2009/2010.
  3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menunjang dan menghambat pelaksanaan pengajaran aqidah akhlak agar bisa berpengaruh terhadap tingkah laku siswa kelas V dan VI MI Islamiyah Lego Wetan Kec. Bringin Kab. Ngawi Tahun Pelajaran 2009/2010.

b.  Kegunaan Penelitian

  1. 1.      Bagi Peneliti

Diharapkan dapat menemukan temuan-temuan baru yang berguna untuk mengembangkan pelaksanaan kegiatan belajar untuk mendapat prestasi belajar yang memuaskan. Dan  bisa di jadikan keteladanan untuk peneliti yang nantinya juga terjun di dunia kependidikan.

  1. 2.      Bagi Guru

Dapat dijadikan bahan masukan tentang pentingnya pentingnya pelajaran Aqidah akhlak dalam membentuk tingkah laku siswa, Dengan demikian guru dapat memberikan contoh yang baik tentang perilaku yang baik.

3.  Bagi siswa

Sebagai motivasi untuk lebih meningkatkan prestasinya di sekolah dan untuk memperbaiki perilaku.

4.   Bagi STITI KP Paron

Sebagai referensi di perpustakaan sehingga dapat dijadikan tolak ukur mahasiswa STITI KP Paron dalam pembuatan skripsi.

E.  Alasan Pemilihan Judul

Sudah menjadi kebiasaan atau keharusan dalam penulisan karya ilmiah ini ada beberapa alasan tertentu sebagaimana argumentasinya. Adapun alasannya yang melandasi dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

1.   Timbulnya gejala umum yang menunjukkan adanya perubahan tingkah laku siswa yang semakin berkurang karena pergaulan.

2.   Sebagai mahasiswa fakultas Tarbiyah STITI KP Paron Ngawi sudah barang tentu sebagai calon pendidik, maka dalam hal ini penulis ingin mengetahui sampai seberapa jauh hubungan prestasi belajar aqidah akhlak dengan tingkah laku siswa kelas kelas V dan VI MI Islamiyah Lego Wetan Kec. Bringin Kab. Ngawi Tahun Pelajaran 2009/2010.

3.   Sepanjang pengetahuan peneliti, belum ada orang yang membahas masalah ini atau meneliti, khususnya hubungan prestasi belajar aqidah akhlak dengan tingkah laku siswa kelas V dan VI MI Islamiyah Lego Wetan Kec. Bringin Kab. Ngawi Tahun Pelajaran 2009/2010.

4. Lokasi penelitian berdekatan dengan tempat  tinggal sehingga dapat mengurangi biaya.

  1. F. Hipotesis

Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul. (Arikunto, 1989 : 62)

Dalam rangka mengarahkan penelitian ini penulis mengajukan hipotesa sebagai berikut :

Hi  : “Ada pengaruh prestasi belajar aqidah akhlak dengan tingkah laku siswa kelas kelas V dan VI MI Islamiyah Lego Wetan Kec. Bringin Kab. Ngawi Tahun Pelajaran 2009/2010.

Ho  : “Tidak ada pengaruh prestasi belajar aqidah akhlak dengan tingkah laku siswa kelas kelas V dan VI MI Islamiyah Lego Wetan Kec. Bringin Kab. Ngawi Tahun Pelajaran 2009/2010.

G.  Sistematika Pembahasan

Agar dapat urut-urutan dalam bahasan skripsi ini maka disusunlah sistematika pembahasan mulai dari bagian preliminaries hingga akhir skripsi ini sebagai berikut :

Bab I   :        PENDAHULUAN pada bab ini dibahas secara urut mengenai latar belakang masalah, penegasan judul, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, alasan memilih judul, hipotesis dan sistematika pembahasan.

Bab II  :        LANDASAN TEORI bab ini meliputi beberapa sub : prestasi belajar terdiri dari pengertian prestasi belajar, teori belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. selanjutnya tinjauan tentang pengertian aqidah akhlak, dasar pengajaran aqidah akhlak, kurikulum dan silabus pengajaran aqidah akhlak, tujuan pengajaran aqidah akhlak. kemudian pengertian tingkah laku, peranan pembentukan perilaku, faktor yang mempengaruhi tingkah laku, macam-macam tingkah laku

Bab III :          METODE PENELITIAN dalam bab ini memuat tentang populasi dan sampel, metode pengumpulan data dan metode analisis data.

Bab IV :       LAPORAN HASIL PENELITIAN meliputi : latar belakang obyek penelitian terdiri dari keadaan geografis, sejarah berdirinya mi islamiyah dawu, struktur organisasi, keadaan guru/karyawan, kondisi siswa, kondisi sarana prasarana, penyajian data, analisis data.

Bab V  :        KESIMPULAN pada bab ini berisi tentang kesimpulan akhir, saran-saran dan penutup sedangkan bagian paling akhir skripsi ini dikemukakan daftar kepustakaan, daftar lampiran-lampiran.

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. A. Prestasi Belajar
    1. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar merupakan kalimat yang terdiri dari dua suku kata, yaitu prestasi dan belajar. Adapun pengertiannya masing-masing adalah :

Prestasi adalah “hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya). (Poerwadarminto, 1992 : 768)

Belajar adalah dengan mengalami dan dengan mengalami itu sipelajar menggunakan panca indera. (Suryabrata, 1984 : 247)

Di lain pihak dapat pula kita berikan pengertian, bahwa prestasi belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atas perubahan yang diperoleh seseorang akibat pengalaman dan latihan yang dialaminya.

11

Dari beberapa pengertian tentang definisi sebagaimana telah diuraikan di atas, maka dapatlah kita ambil kesimpulan,bahwa pengertian prestasi belajar adalah “hasil yang telah dicapai sesudah seseorang mengalami proses belajar, membaca, melakukan sesuatu dalam waktu yang relatif cukup lama”. Dengan demikian bahwa dalam rangka pencapaian prestasi belajar khususnya di bangku sekolah, tidak hanya tergantung pada diri murid itu sendiri, tetapi gurupun mempunyai peranan yang sangat penting di samping faktor-faktor lain diluar diri murid tersebut.

Selain untuk mencapai prestasi belajar yang lebih baik, perlu diupayakan beberapa jalan atau usaha dalam mempertinggi pengetahuan, kemampuan sikap hidup dan sebagainya yaitu dengan cara belajar yang lebih efekif.

  1. 2. Teori Belajar

Belajar adalah merupakan suatu proses psikologis yang sangat komplek, dimana proses itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang diantaranya : faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri, dan di lain pihak adalah faktor yang berasal dari luar individu.

Sesuai dengan pengertian di atas, maka dalam penulisan kripsi ini penulis akan kemukakan 3 (dua) macam teori belajar, yaitu :

  1. Teori Daya

Teori belajar menurut Ilmu Jiwa Daya ini dikemukakan oleh para ahli diantaranya adalah : “Manusia terdapat bermacam-macam daya yang dapat dipisahkan, terutama daya ingatan, daya fantasi, daya mengabstraksi, daya merumuskan dan daya mempercepat sesuatu” (Dirjendepag, 1983 : 5)

Dengan demikian dapat kita tarik kesimpulan, bahwa daya ingatan dapat dikatan usaha pembentukan nilai, sebab daya-daya tersebut menjadi daya yang terlatih dengan baik untuk menyelesaikan persoalan bila diperlukan dan meningkatkan kwalitas siswa dalam mencapai nilai yang baik.

b.   Teori Tanggapan.

Menurut teori tanggapan , semua pengetahuan adalah gambaran yang tinggal dalam ingatan kita sesudah pengamatan. (Dirjendepag, 1983 : 5)

Dari teori tanggapan dapat kita tarik kesimpulan bahwa walaupun tanggapan itu berbeda-beda , namun pada hakekatnya setiap tnaggapan itu mempunyai hubungan yang sama dengan yang lainnya.

c.   Teori Gestalt ( keseluruhan )

bahwa pelajar itu pokoknya yang terpenting adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapat respons yang tepat, karena penemuan respons yang tepat tergantung kepada struckturierung dari pada bahan yang tersedia didepan sipelajar, maka mudah atau sukarya problem terutama adalah masalah pengamatan dan apabila dapat melihat situasi itu dengan tepat maka mereka memperoleh pencerahan dan dapat memecahkan problem yang dihadapinya. (Suryabrata, 1984
: 296)

Dari uraian diatas, dapatlah kiranya penulis mengambil kesimpulan, bahwa teori ini tidak menerima adanya bagian otak manusia yang mempunyai fungsi tertentu lain daripada itu, teori ini mengemukakan beberapa azas, yaitu :

1.   Anak yang belajar merupakan suatu keseluruhan.

2.   Belajar merupakan proses perkembangan.

3.   Belajar dengan pemahaman.

4    Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan.

5    Belajar adalah satu proses yang berlangsung terus-menerus.

Beberapa teori tersebut diatas sudah barang tentu dilaksanakan secara kontinyu, sehingga menjadi kebiasaan dan pada akhirnya akan menjadi suatu hal yang ringan dan mudah

  1. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Kita ketahui bersama, bahwa prestasi belajar yang dicapai murid tentu akan berbeda antara satu dengan yang lainya, walaupun pada hakekatnya mereka belajar dalam satu kelas. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor yang mmpengaruhi kegiatan belajar.

Adapun faktor yang mempengaruhi anak didalam mencapai prestasi belajar, yaitu :

  1. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor keturunan yang dimiliki oleh setiap anak yang merupakan warisan dari kedua orang tuanya.

1.  Kecerdasan

Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ. IQ yang tinggi saat menjadikan kesukesan dalam prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses dimasyarakat.

Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut enteligensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah sitentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut enteligensi., sangat di pengaruhi enteraksi oleh lingkungannya, pada kala bayi lahir ia telah di modali 100 – 200 milyar sel otak dan siap memproseskan beberapa trilyun informasi.

Cara pengelolaan enteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan linkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan yang berpengaruh terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia. Sementara kemampuan kognitif relayif tidak berubah ,maka kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja. Tidak peduli orang peka atau tidak, pemalu, pemarah atau sulit bergaul dengan orang lain sekalipun dengan motivasi dan usaha yang benar, kita dapat mempelajari dan menguasai kecapan emosi tersebut. Kecerdasan emosi ini dapat meningkat dan terus meningkat sepanjang hidup kita. (Ary Ginanjar, 2001: Iii)

  1. Latihan dan ulangan.

Dapat terlatih, karena sering kali mengulangi sesuatu, dengan demikian kecakapan dan pengetahuan yang dimilikinya dapat menjadi makin dikuasai dan makin mendalam. Sebaliknya, tanpa mendalam tanpa latihan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan yang telah dimilikinya dapat menjadi hilang atau berkurang. Dengan latihan, sering mengalami sesuatu, seseorang dapat timbul niatnya kepada sesuatu. Makin besar minat makin baik pula perhatiannya, sehingga memperbesar hasratnya untuk mempelajari, hal ini untuk mencapai prestasi belajar yang lebih baik.

3.  Motivasi.

Motivasi merupakan pendorong dari suatu organisme untuk melakukan sesuatu, motivasi dapat mendorong seorang siswa sehingga akhirnya menjadi spesial dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu. Tak mungkin siswa mau berusaha mempelajari sesuatu dengan sebaik-baiknya, jika ia tidak mengetahui betapa pentingnya dan faedahnya hasil prestasi belajar yang akan dicapai dari belajar itu bagi dirinya sendiri.

4.   Sifat-sifat pribadi siswa.

Tiap-tiap siswa mempunyai sifat-sifat kepribadian masing-masing, yang berbeda antara seorang dengan orang lain. Ada siswa yang mempunyai sifat keras hati, kemauan keras, tekun dalam segala usahanya, halus perasaanya,dan ada pula sebaliknyan. Sifat-sifat itu sedikit banyak turut pula mempengaruhi sampai simanakah hasil prestasi belajarnya dapat dicapai. Termasuk didalam sifat sifat kepribadianini, yaitu faktor phisik yang meliputi kesehatan dan kondisi badan.

Secara garis besar faktor-faktor ini memberikan perhatian khusus kepada salah satu hal, yaitu hal yang mendorong aktivitas belajar  antara lain sebagai berikut :

1.  Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih    luas.

2.  Adanya sifat kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju.

3.   Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman-teman.

4.   Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik denagn koperasi maupu dengan kompetitisi.

5.   Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.

6.   Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada belajar.

  1. Faktor Eksternal

Faktor-faktor eksternal bagi kegiatan belajar anak itu diantaranya :

  1. Faktor Keluarga

Keluarga adalah lembaga terkecil dari kehidupan ini, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Pada lingkungan keluarga inilah tempat anak mendapatkan curahan kasih sayang dari kedua orang tuanya, begitu juga sebaliknya tempat orang tua untuk mencurahkan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Di lain pihak, keluarga merupakan langkah awal didalam melaksanakan kegiatan belajar, sehingga pengaruh lingkungan keluarga ini sangat penting perannya dalam kegiatan belajar anak.

  1. Faktor Lingkungan Sekolah

Sekolah yang baik tentunya memperhatikan dan bertanggung jawab akan keadaan dan suasana di sekolah, misalnya memperhatikan kegiatan belajar siswa, guru memberi motivasi belajar terhadap anak didik agar mereka memiliki tanggung jawab  dalam setiap menerima apa yang diberikan kepadanya.

  1. Faktor Lingkungan Masyarakat

Masyarakat adalah suatu tempat dimana anak melangsungkan pergaulan yang lebih luas dan bercorak warna kehidupan. Masyarakat akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan jiwa anak dalam mencapai hasil prestasi belajar yang baik.

B. Aqidah Akhlak

1.  Pengertian Aqidah Akhlak

Aqidah akhlak adalah salah satu mata pelajaran yang terdapat disekolah-sekolah dibawah naungan Departemen Agama RI, dalam kelompok pendidkan dasar umum yang membahas ajaran agama Islam dalam segi aqidah dan akhlak. Mata pelajaran aqidah akhlak mempunyai ruang lingkup antara lain :

  1. Mampu memahami dan menghayati kalimat Thoyyibah.
  2. Mampu melaksanakan akhlakul karimah.
  3. Menjahui aklak tercela.
  4. Menerapkan adab secara islami dalam beribadah dan bertetangga.

Adapun pengertian aqidah akhlak adalah sebagai berikut :

a. Aqidah berasal dari bahasa arab   “ ﻋﻘﻴﺪ  “  yang berjanji, jamaknya “             ﻋﻘﺎﺋﺪ   “ yang dipercayai hati.” (Mahmud Yusuf,  1989 : 275)

Pengertian aqidah atau iman secara luas adalah keyakinan penuh yang dibenarkan oleh hati, diucapkan secara lisan, dan diwujudkan oleh amal perbuatan.” (Deppennas, Tim FISIP-UP, 2003 : 2.81)

Dari pengertian itu, dapat diambil kesimpulan, bahwa aqidah adalah sesuatu yang harus diyakini atau dipercayai dalam hati seorang yang dengannya itulah seseorang akab selalu beraktivitas dalam hidup dan kehidupannya dengan senantiasa berpegang teguh dengan apa yang telah menjadi keyakinannya pada akhirnya akan menjadi tenang dan tentram dalm hidup dan kehidupannya untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Sedangkan Menurut Syaikh Abu Bakar Al Jailani :

Akidah adalah kumpulan dari hukum-hukum kebenaran yang jelas yang dapat siterima oleh akal, pendengaran dan perasaan, yang diyakini oleh hati manusia, dan dipujinya, dipastikan kebenarannya, ditetapkan keshohihannya dan yidak melihat ada yang menyalahinya, dan bahwa ia itu benar serta berlaku selamanya.” (Al Jailani,  1995 : 16)

Kompentensi iman seseorang yang sempurna antara lain menunjukkan ciri-ciri :

  1. Segala perilaku manusia disaksikan oleh pencitanya.
  2. Memelihara sholat dan amanat serta memenuhi janji.
  3. Menghindari perbuatan maksiat.
  4. Mentaati dan menjahui larangan Alla SWT.
  5. Apabila mendapat keberuntungan, ia bersyukur.
  6. Apabila mendapat musibah, ia bersabar.
  7. Rela atas ketentuan Allah yang dilimpahkan kepadanya.
  8. Apabila mempunyai rencana, maka ia bertawakkal kepada Allah.

Jadi aqidah adalah masalah fundamental dalam islam, ia menjadi titik tolak permulaan sebagai seorang muslim. Sebaliknya tegak aktiftas keislaman dalam kehidupan seseorang itulah yang dapat menerangkan bahwa orang itu memiliki aqidah atau menunjukkan kwalitas iman yang dimiliki.

Dari beberapa  pengertian tentang aqidah diatas, dapat penulis jelaskan bahwa yang dimaksud aqidah disini adalah aqidah Islamiyah. Islam sebagai agama yang memiliki dua dimensi, yaitu sebagai perangkap keyakinan/aqidah dan sebagai sesuatu yang diamalakan. Amal dan perbuatan itu merupakan pelaksanaan aqidah tersebut.

Iman / aqidah bukanlah semata-mata ucapan yang keluar dari bibir dan lidah saja, atau hanya semacam keyakinan dalam hati belaka, tetapi iman / aqidah yng sebenarnya adalah merupakan suatu aqidah atau kepercayaan yang memenuhi isi hati nurani dari hati situ akan muncul pula bekas-bekas atau bukti-buktinya.

b.   Akhlak

Akhlak  berasal dari bahasa arab “  ﺧﻟﻕ “  jamaknya “ﺃﺧﻼﻕ  “  yang secara singkat berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku. (Mahmud Yusuf : 120)

Selanjutnya akan penulis kemukakan beberapa pendapat mengenai akhlak adalah sebagai berikut : “Akhlak  adalah keadaan pada diri seseorang yang ditampakkan dalam perbuatannya, baik maupun buruk secara spontan tanpa melewati pikiran. ( Qahthani, 2005 : 324)

Dari penjelasan di atas, penulis mengambil kesimpulan, bahwa akhlak adalah sikap atau tingkah laku seseorang yang dilakukan atas dorongan jiwanya terhadap Allah SWT atau terhadap sesama makhluk-Nya menurut ajaran Islam.

2.  Dasar Pengajaran Aqidah Akhlak

Pelaksanaan pendidikan aqidah akhlak di sekolah-sekolah ataupun madrasah-madrasah di seluruh Indonesia tidak terlepas dari dasar pelaksanaan pendidikan secara umum yang berlaku di dalamnya.

  1. Dasar Yuridis/Hukum
  2. Dasar Religius

Adapun penjelasan dasar- dasar aqidah aklak adalah sebagai berikut :

  1. Dasar Yuridis/Hukum

Adalah dasar-dasar pelaksanaan pendidikan agama yang berasal dari peraturan perundang-undangan yang secara langsung dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama khususnya materi aqidah akhlak di madrasah atau lembaga pendidikan formal lainnya.

Adapun dasar dari segi yuridis formal tersebut dibagi menjadi 3 macam, yaitu :

1)      Dasar Idiil

Adalah Pancasila merupakan pedoman hidup bangsa Indonesia, khususnya sila pertama : KETUHANAN YANG MAHA ESA.”

2)      Dasar Struktural/Konstitusional

“Adalah dasar yang berasal dari UUD 1945 dalam bab XI pasal 29 ayat (1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. (Undang-Undang Dasar 1945 : 21.

3)      Dasar Operasional

“Adalah dasar yang secara langsung mengatur pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah di Indonesia, seperti yang tertuang dalam Tap MPR No. IV/MPR/73, yang kemudian dikokohkan kembali pada Tap MPR No. II/MPR/83 tentang GBHN, yang intinya dinyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimasukkan ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah sejak dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. (Undang-Undang Dasar 1945 Negara Republik Indonesia : 21)

  1. Dasar Religius

1)   Al Quran

Alquran adalah Firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad berupa perintah, larangan dan petunjuk untuk kebahagian manusia dan diakhirat membacanya adalah ibadah. (Abdullah Ali, 1996, hal 40)

Dari pengertian diatas telah difirmankan Allah didalam alquran surat  “Surat An-Nahl ayat 125”

ﺍﺪﻉ ﺍﻠﻰ ﺴﺒﻴﻞ ﺮﺒﻚ ﺒﺎ ﻠﺤﻛﻤﺔ ﻮﺍﻠﻤﻮﻋﻈﺔ ﺍﻠﺤﺴﻨﺔ

ﻮﺠﺎ ﺪﻠﻬﻢ ﺒﺎ ﻠﺘﻰ ﻫﻲ ﺍﺤﺴﻦ [ﺍﻠﻨﺤﻞ : ۱۲۵]

Ajaklah kepada agama Tuhanmu dengan cara yang bijaksana dan dengan nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.(An-Nahl : 125)

2)   Al Hadist adalah perkataan dan perbuatan Rosulullah SAW serta perbuatan dan perkataan sahabat yang mendapatkan persetujuan Rosul. (Mudjab Mahuli,  2002 : XV)

Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim :

ﻮﻋﻨﻪ ﺍﻴﻀﺎ ﺮﻀﻲ ﺍﷲ ﻋﻨﻪ ﺍﻦ ﺮﺴﻮﻞﺍﻠﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻠﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺴﻠﻢ ﻤﻦ ﺪﻋﺎ ﺍﻠﻰ ﻫﺪﻯ ﻛﺎ ﻦ ﻠﻪ ﻣﻦﺍﻻﺠﺮ ﻣﺛﻞ ﺍﺠﻮﺮﻣﻦ ﺘﺒﻌﻪ ﻻ ﻴﻨﻘﺺ ﺫ ﻠﻚ ﻤﻦ ﺍﺠﻮﺮﻫﻢ ﺸﻴﺋﺎ (ﻤﺴﻠﻢ)

Dari Abu Huroiroh, ia berkata : bahwasanya Rasulullah saw bersabda : Barang siapa mengaja kepada jalan yang baik, maka ia mendapat pahala sebanyak-banyak pahala orang yang mengikutinya (mengikuti ajakannya) tanpa mengurangi pahala mereka sendiri sedikitpun. (HR. Muslim). Muslich Shabir, 1981, hal. 173)

Didalam dasar-dasar  diatas sudah di jelaskan mengenai peristiwa pengertian aqidah akhlak, yaitu membahas masalah pergaulan, baik hubungan dengan Khaliqnya, dengan dirinya, dengan sesama manusia serta dengan alam lingkungannya.

3.  Tujuan Pengajaran Aqidah Akhlak

Telah penulis sampaikan pada uraian sebelumnya, bahwa pendidikan aqidah akhlak adalah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama Islam. Dengan bertolak dari pengertian inilah, maka tujuannya akan diketahui pula

Berdasarkan GBPP bidang studi Pendidikan Agama Islam untuk tingkat Sekolah Dasar pada tahun 1987 disebutkan, bahwa tujuan pengajaran aqidah akhlak adalah :

a)            Supaya siswa memiliki sifat terpuji dan mampu melaksanakannya melalui pengamatan, klasifikasi penerapan dan komunikasi.

b)            Siswa menjauhi sifat tercela dan mampu menghindarinya melalui pengamatan, penerapan, klasifikasi, dan komunikasi.

c)            Siswa memahami adab yang baik dan gemar melakukannya melalui pengamatan, penerapan, dan komunikasi

Dengan demikian, maka tujuan pendidikan agama Islam adalah usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam, yakni dengan mengerti, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.

4   Kurikulum dan Silabus Materi Aqidah Akhlak

  1. Kurikulum Sekolah Dasar

Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum juga berarti cara-cara yang harus ditempuh dalam rangka untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Sedang pengertian kurikulum secara sempit dapat diartikan sebagai alat untuk mencapai tujuan yang didalamnya memuat tentang penetapan materi pelajaran pokok bahasan serta sub-sub pokok bahasan tertentu. Sehingga secara implisit, terkandung di dalamnya beberapa kemungkinan adanya perubahan-perubahan tertentu yang mengarah pada penyempurnaan serta kesesuaian kondisi serta perubahan jaman yang dihadapi.

  1. Silabus Materi Aqiah Akhlak

Silabus adalah ikhtisar surat pelajaran. Dalam kaitannya dengan pembahasan ini, silabus mengandung pengertian pokok-pokok bahasan yang merupakan bagian isi kurikulum, dan merupakan rencana pelajaran yang terangkum dalam Garis Besar Program Pengajaran (GBPP).

Kalau kita kaji secara mendalam, bahwa silabus pendidikan aqidah akhlak pada dasarnya merupakan pokok materi yang diajarkan pada Sekolah Dasar, baik pada semester awal sampai pada semester akhir (kelas I sampai dengan kelas VI), dengan pembagian alokasi waktu sesuai dengan kelas dan semester yang ada.

Pendidikan aqidah akhlak merupakan bagian dari pendidikan agama Islam, maka apabila kita hubungkan dengan program pemerintah yang dijabarkan dalam GBHN (sebagaimana telah disebutkan di atas), pendidikan aqidah akhlak ini sesuai sekali.

Secara garis besar, bahwa pendidikan aqidah akhlak kalau ditinjau pada ruang lingkup bahan pengajaran dan data urutan bahan, berisikan tiga macam pokok, yaitu :

1)      Hubungan manusia dengan Allah. Hubungan vertikal antara manusia dengan kholiqnya yang mencakup segi aqidah meliputi : iman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab suciNya, Rasul-rasulNya dan hari akhir serta qodlo dan qodarNya.

2)      Hubungan manusia dengan manusia. Materi yang dipelajari meliputi : akhlak dalam pergaulan sesama manusia, kebiasaan membiasakan akhlak yang baik terhadap diri sendiri dn orang lain, serta menjauhi akhlak yang buruk.

3)  Hubungan manusia dengan alam sekitarnya. “Materi ini meliputi : akhlak manusia terhadap alam sekitarnya, baik lingkungan dalam arti luas maupun terhadap makhluk hidup selain manusia, yaitu binatang dan tumbuh-tumbuhan. (Zaini Dahlan, 1986, hal. 1)

5.  Metode Pengajaran Aqidah Akhlak.

Dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran aqidah akhlak, maka sangatlah perlu untuk mengetahui metode-metode pengajaran aqidah akhlak secara baik dan benar. Demikian diharapkan belajar mengajar khusunya dalam bidang studi aqidah akhlak akan lebih terarah guna mencapi tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan.

Penulis menyadari tidak semua metode itu cocok untuk semua lembaga pendidikan atau materi-materi pelajaran tertentu, tetapi kejelian mengajar dalam memilah dan memilih sesuatu metode akan menentukan dan berperan dalam hasil pengajaran sebaimana yang diharapkan.

Atas dasar itu metode-metode mengajar dapat digolongkan secara umum menjadi dua macam yaitu :

  1. Metode mengajar kelompok.
  2. Metode mengajar individual.

Adapun yang termasuk dalam klarifikasi metode mengajar kelompok, antara lain :

  1. Metode Ceramah

Metode ceramah adalah sebuah bentuk interaksi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh seorang guru terhadap kelasnya. Peranan siswa dalam metode ini adlah mendengarkan dengan teliti serta mencatat pokok penting yang dikemukakan oleh guru.

a.               Kebaikan-kebaikan metode ceramah.

1. Guru dapat menguasai seluruh kelas.

2. Organisasi kelas sederhana.

3. Dapat memberi penjelasan yang sama kepada siswa tentang bahan pelajaran yang sukar dan penting.

4. Hal-hal penting dan mendesak dapat segera disampaikan kepada siswa.

5. Melatih murid untuk menggunakan pendengarannya dengan baik serta menangkap dan menyimpulkan isi ceramah dengan  cepat dan tepat.

b.   Kelemahan-kelemahan metode ceramah.

1. Guru tidak mengetahui secara pasti sampai dimana para siswa telah memahami keterangan-keterangan dari guru.

2. Dalam diri siswa mungkin akan terbentu konsep-konsep yang laindari pada konsep guru.

3. Siswa cenderung bersifat pasif, kurang dapat mengemukakan pendapatnya.

4  Siswa sukar konsentrasi eka terhadap keterangan guru.

2.   Metode Tanya Jawab.

Metode  Tanya jawab  dalam mengajar dan belajar menggunakan pertanyaan sebagai stimulasi dan jawaban –jawabannya merupakan pengarahan dalam aktifitas belajar murid-murid. Dalam metode Tanya jawab, pertanyaan dapat diajukan oleh guru maupun siswa dan demikian pula jawabannya dapat diberikan oleh guru atau siswa.

a.   Kebaikan-kebaikan metode Tanya jawab :

1.  Guru segera mengetahui bahan pelajaran yang masih belum dipahami oleh siswa.

2.   Melatih murid untuk berani mengembangkan pendapatnya dengan lisan secara teratur.

3.   Murid-murid dapat menyakan langsung kepada guru tentang pelajaran yang sulit.

4.   Kelas lebih hidup karena murid aktif berfikir dan menanyampaikan pikirannya dalam berbicara.

b.   Kelemahan-kelemahan metode Tanya jawab :

1.   Waktu ang digunakan tidak sesuai dengan hasil yang diperoleh.

2.   Akan terjadi penyimpangan perhatian dari pokok permasalahan.

3.   Pertanyaan yang diajukan kadang hanya terdiri beberapa aspek, sehingga tidak menggambarkan keseluruhan bahan pelajaran.

3.   Metode Kerja Kelompok.

Metode kerja kelompok dapat dipakai mengajar untuk mencapai bermacam-macam tujuan disekolah, didalam praktek ada jenis kerja kelompok yang dapat dilaksanakan yang kesemuanyan bergantung pada beberapa factor, misalnya  pada tujuan kusus yang akan dicapai, umur dan kemampuan siswa, seerta fasilitas pelajaran didalam kelas.

a.   Kebaikan-kebaikan metode kerja kelompok.

1. Membiasakan siswa bekerja sama untuk mengembangkan sikap musyawarah dan bertanggung jawab.

2.   Menimbulkan rasa kompetitis yang sehat.

3. Guru tidak perlu mengawasi masing-masing murid secara individu, cukup hanya dengan memperhatikan kelompok saja.

4.   Melatih ketua kelompok menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan membiasakan anggota-anggotanya untuk melaksanakan tugas.

b.   Kelemahan-kelemahan metode Tanya jawab.

1. Sulit membuat kelompok yang baik, bakat, dan minat.

2. Pemimpin kelompok kadang-kadang sukar memberikan pengertian kepada anggota.

3. Anggota kadang-kadang tidak mematuhi tugas-tugas yang diberikan oleh ketua kelompok.

4. Kadang-kadang tidak terkendali sehimgga menyimpang dari rencana yang berlarut-larut.

Adapun yang termasuk dalam klarifikasi metode mengajar secara individual, antara lain :

1.   Metode Latihan.

Metode latihan merupakan cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan yang baik.  Selain itu metode ini dapat juga digunakan untuk  memperoleh ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan ketrampilan.

a.   Kebaikan-kebaikan metode latihan.

1.   Pembentukan kebiasaan yang dilakukan untuk menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.

2.   Pemanfaatan kebiasaan-kebiasaan yang memerlukan banyak konsentrasi dalam pelaksanaan.

3.   Membuat gerakan-gerakan yang rumit menjadi mudah.

b.   Kelenahan-kelemahan metode latihan.

1.   Menghambat bakat iisiatif murid.

2.   Latihan dilakukan berulang-ulang merupakan hal yang monoton.

3.   Membentuk kebiasaan yang kaku.

4.   Dapat menimbulkan verbalisme karena murid-murid lebih banyak dilatih menghafal soal-soal dan jawabannya yang otomatis.

2.   Metode Pemberian Tugas.

Metode pemberian tugas adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar murid melakukan kegiatan belajar, kemudian harus dipertanggung jawabkannya.

a.   Kebaikan-kebaikan metode pemberian tugas.

1.   Memberikan kesempatan untuk berkembang dan berani mengambil inisiatif bertanggung jawab dan berdiri sendiri.

2.   Tugas lebih meyakinkan tentang apa yang dipelajari guru, lebih memperdalm, memperkaya dan memperluas wawasan.

3.   Siswa bergairah dalam belajar karena dilakukan dengan variasi.

4.   Siswa dapat mengolah dan mencari sendiri informasi dan komunikasi.

b.   Kelemahan-kelemahan metode Tanya jawab.

1.   Siswa melakukan  penipuan diri dimana mereka hanya meniru hasil pekerjaan orang lain, tanpa mengalami peristiwa proses belajar.

2.   Adakalanya dilakukan orang lain tidak ada pengawasan.

3.   Ketengan mental akan dapat terpengaruh.

4.   Mengalami kesulitan karena sukar selalu menyelesaikan tugas dengan adanya perbedaan vertical.

C.  Tingkah Laku

  1. 1.  Pengertian Tingkah Laku

Tingkah laku merupakan kata yang tidak bisa dipisahkan atau disebut dengan kata majemuk bila kedua kata itu dipisahkan akan mempunyai arti yang berbeda. yang dimaksud tingkah laku adalah “Perbuatan, kelakuan, cara menjalankan atau cara berbuat. (Poerwadarminto, W.J.S., 1992, hal. 551)

Tingkah laku siswa mencontoh atau mengidentifikasi pada orang yang disegani dalam hal ini orang tua, tokoh masyarakat dan guru bila di lingkungan sekolah. Pengertian identifikasi sediri adalah “kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk sama dengan pihak lain.

Pada mulanya anak yang mengidentifikasi dirinya dengan orang tuanya tetapi lambat laun sesudah ia berkembang di sekolah dan menjadi pemuda, tempat identifikasi dapat diperoleh dari orang tuanya kepada orang lain yang dianggapnya hormat atau bernilai tinggi seperti salah seorang gurunya, seorang pemimpin kelompok sosialnya atau tokoh masyarakat.

  1. Peranan Pembentukan Tingkah Laku

Dalam pembentukan tingkah laku maka ada dua peranan yang sangat penting dan menentukan dan peranan tersebut adalah :

  1. Peranan keluarga

Keluarga merupakan kelompok sosial pertama-tama dalam kehidupan manusia dimana ia belajar dan menyatakan diri sendiri sebagai manusia sosial di dalam berinteraksi dengan kelompoknya. Dan seorang guru punya peran sangat penting di dalam proses pendidikan dan permulaan taraf pendidikan, titik berat kebijaksanaan, titik berat bertanggungjawab terletak di tangan guru.

  1. Peranan Keluarga

Keluarga inilah yang mempunyai peranan besar dalam menentukan masa depan di dalam perkembangan tingkah laku karena di dalam keluarga inilah merupakan dasar yang diterima anak sejak sebelum dilahirkan, masa awal usianya dan usia selanjutnya.

  1. Peranan Guru

Guru merupakan pembina anak dalam masyarakat sekolah yang berarti guru sebagai pemegang norma-norma bagi anak didiknya, untuk itu guru hendaknya dapat memberi contoh yang baik, secara langsung maupun tidak langsung, waktu sekolah maupun di luar sekolah. Apalagi guru agama penting sekali karena yang mengajarkan agama dan tingkah laku, otomatis harus sebagai panutan utama dalam sekolah maupun luar sekolah.

3.  Faktor Yang Mempengaruhi Tingkah Laku

Dalam perkembangan manusia atau anak menuju dewasa bahwa tingkah laku itu dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain :

a. Faktor Intern

b. Faktor Ekstern

Adapun penjelasan tentang factor-faktor tingkah laku adalah sebagai berikut :

a.   Faktor Inter, yaitu :

Faktor yang datangnya dari anak itu sendiri yang dapat mempengaruhi dalam pembentukan tingkah laku anak. Misalnya, kurangnya perhatian anak tentang hal-hal baik yang telah mereka terima. Dalam hal ini anak sendirilah yang menentukan untuk bertindak bagi dirinya sendiri.

b.   Faktor Ekstern, yaitu :

Fakor yang datang dari luar anak yang mempengaruhi tingkah laku. Faktor tersebut antar lain :

1.   Kehidupan di lingkungan siswa.

  1. Teman bergaul siswa dan sebagainya.

Dari uraian di atas maka dalam kesadaran perkembangan tingkah laku perlu sekali adanya keteladanan yang baik, pendidikan yang mantap, karena seseorang akan bertingkah laku baik apabila mempunyai mental yang sehat.

4.  Macam-macam Tingkah Laku.

Adapun macam-macam Tingkah Laku adalah sebagai berikut :

  1. Sabar

Menurut Sa’id al Qahthani : sabar adalah pencegahan dan menahan diri dari keluh kesah lidah untuk mengadu dan anggota badan dari tindakan yang tidak baik sepeti menampar pipi, merobek pakaian, dan lainnya. (al Qahthani, 2005 hal 171)

Sabar adalah Menerima segala pemberian Allah SWT dengan lapang dada dan tabah. (Suyuti, 1984 hal 20)

Sikap sabar akan membawa pada kebaikan dan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT. Allah telah berjanji pada orang-orang yang sabar dalam menghadapi ujian.

Setiap kesabaran akan membawa kebaikan dan pahala dari Allah yang maha kuasa tiada putus-putusnya, hal ini sesuai yang difirmankan Allah didalam surat Az Zumar ayat 10 :

$yJ¯RÎ) ’®ûuqムtbrçŽÉ9»¢Á9$# Nèdtô_r& ΎötóÎ/ 5>$|¡Ïm ÇÊÉÈ

Hai, orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas ( Q. S. Az Zumar ayat 10)

Sabar dibagi menjadi tiga golongan yaitu sebagai berikut :

1.   Sabar dalam ketaatan maksudnya kita harus bersikap sabar dalam rangka menjalankan perintah Allah SWT.

2.   Sabar menjauhi maksiat maksudnya kita harus bersifat sabar untuk membentengi diri dari perbuatan maksiat.

3.   Sabar menghadapi ujian maksudnya kita bersikap sabar dalam menghadapi ujian yang diberikan Allah kepada kita karena sesungguhnya ujian itu adalah sebagai penguji keimanan.

b.   Pemaaf

Arti pemaaf adalah orang yang suka menghilangkan rasa dendam atas kesalahan orang lain pada dirinya. (Mahmud Suyuti, 1984, hal 20)

Pemaaf adalah orang yang jiwa besar dan lapang dada maksudnya tidak mudah menaruh permusuhan dan dendam jika terjadi kesalahan yang diperbuat oleh orang lain kepada  dirinya, selain merupakan sikap yang terpuji ia merupakan cirri-ciri orang yang bertaqwa.

Sifat pemaaf ini sesuai dengan firman Alah SWT didalam surat Asy Syuro ayat 40 :

( ô`yJsù $xÿtã yxn=ô¹r&ur ¼çnãô_r’sù ’n?tã «!$# 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw

artinya “ Barang siapa memaafkan dan ishlah maka ahalanya atas tanggungan Allah SWT.

c.   Sopan santun terhadap guru.

Seorang guru adalah seorang yang memiliki ilmu serta menyebarkannya kepada orang lain, dengan demikian guru adalah memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat, karena ilmu itu merupakan kunci kemajuan dalam segala bidang kehidupan, selain itu fungsi guru bukanlah sekedar memberikan pelajaran, akan tetapi juga bertugas untuk mendidik muridnya agar menjadi orang yang bertaqwa kepada Tuhan, cakap dan bertanggung jawab.

Seorang guru yang benar-benar menjalankan fungsinya harus dimuliakan, dihormati dan ditaati selain mereka tidak menyimpang dari ajaran agama dan undang-undang.

Adalah sangat tercela orang yang tak dapat menghormati gurunya tidak sopan apalagi meremehkannya, padahal gurunya betul-betul seorang guru yang baik-baik dan menjalankan fungsinya dengan baik.

Bagaimanakah orang akan dapat bergaul dengan baik dengan orang lain kalau pada gurunya saja tidak dapat bersikap baik ? Maka terhadap orang yang pernah memberikan pelajaran atau terhadap bekas guru sudah semestinya kalau orang harus menghormatinya, sebab sedikit banyak mereka telah berjasa dalam mengajar dan mendidiknya, sungguh mengherankan kalau ia telah menduduki tempat yang terhormat dalam masyarakat. Sikap demikian sebenarnya tidak sesuai dengan jiwa Islam.

“Arti menghormati guru yaitu janganlah berjalan didepannya, jangan duduk ditempat duduknya, jangan memulai bicara kecuali mendapat izin darinya, jangan banyak bicara, dan jangan mengajukan pertanyaan, jika guru sedang dalam keadaan tidak enak, dan waktu, jangan sampai mengetuk-ngetuk pintunya.tetapi sabarlah sebentar, tunggu sampai dia keluar. (Syekh Az Zarnuji, hal 26)

Pada intinya, adalah melakukan hal-hal yang membuat rela menjauhkan amarahnya dan menjunjung tinggi perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama.

c.  Adil

Adil menurut bahasa tidak berat sebelah, tidak memihak, atau memnempatkan sesuatu pada tempatnya.

Adil menurut istilah ialah melaksanakan amanah Allah dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya dan bijaksana serta tidak menambah atau menguranginya. (Hifzillah, Bina Akidah Aklak, Jakarta, 2002 : 63)

Berbuat adil merupakan aklak yang terpuji dan menjadi harapan semua manusia. Agama islam mengajarkan agar kita selalu berusaha berbuat adil. Allah SWT berfirman didalam surat AN nahl ayat 90 :

* ¨bÎ) ©!$# Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍x6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏètƒ öNà6¯=yès9 šcr㍩.x‹s? ÇÈ

“Sesungguhnya Allah menyuruh manusia untuk berbuat adil dan berbuat kebaikan’ (Q. S. An Nahl ayat 90)ys

Diantara usaha-usaha seseorang agar bias bersifat adal antara lain :

1.   Memahami betul arti adil itu sendiri.

2.   Berani menegakkan keadilan.

3.   Membiasakan berbuat adil, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

4.   Meneladani sifat sifat adil yang dicontohkan oleh  Rosulullah.

BAB III

METODE  PENELITIAN

A.  Populasi dan Sampel

  1. 1. Populasi Penelitian

Yang di maksud populasi adalah daerah dan semua obyek yang di jadikan sasaran penelitian. Dalam hal ini  (Suharsini Ari kunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, 1996 : 108). Menyatakan : “Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian “

Dari pendapat tentang pengertian populasi dapat disimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan diteliti atau yang akan digeneralisasikan berdasarkan sampel dari hasil penelitian. Adapun populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV dan V MI Islamiyah Dawu Kec. Paron Kabupaten Ngawi, Tahun Pelajaran  2008/2009.

Adapun populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV dan V MI Islamiyah Dawu Kec. Paron Kabupaten Ngawi Tahun Pelajaran  2008/2009 yang berjumlah 34 siswa.

  1. Sampel Penelitian
40

Sampel adalah sebagian atau wakil yang diteliti, (Ari kunto, 1996 : 109),  Jadi sampel adalah bagian individu yang diselidiki yang akan dijadikan contoh untuk memberikan sifat-sifat nilai yang akan dijadikan sebagian atau semua pada sampel. kemudian perlu disampaikan hubungan dengan penarikan sampel di atas didasarkan : untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari  100, maka diambil semua, sedangkan subyek lebih dari 100, maka diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih. (Ari kunto, 1996 : 134 )

Dalam penelitian ini obyek sejumlah 34 siswa, maka disini penulis tidak mengambil sampel dari seluruh anggota populasi siswa kelas IV-V sejumlah seluruh populasi siswa, yakni 34 siswa. Sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi.

Tabel : 01

HASIL PENENTUAN SAMPEL

No Kelas Jenis Kelamin Jumlah Ket
L P
1 V 14 8 22
2 V 6 6 12
3 Jumlah 20 14 34

B.  Teknik Pengumpulan Data

Dalam penulisan skripsi ini sebagai alat pengumpulan data dipergunakan metode :

  1. 1. Metode Angket (Questionare)

“Angket adalah suatu pertayaan yang di susun sedemikian rupa yang di suruh jawab oleh sejumlah besar orang” (Darajad, 1970 : 18)

Jadi angket adalah sejumlah daftar pertanyaan yang diisi oleh orang yang diukur (respondent). Dimana respondent menjawab dengan mengisi atau cara memberi tanda cek (x). Bagi peneliti yang menggunakan angket harus berkeyakinan bahwa : Subyek adalah orang yang paling mengerti akan dirinya, apa yang diutarakan obyek adalah benar, interpretasi subyek terhadap pertanyaan yang terdapat dalam angket adalah sama dengan apa yang dimaksud oleh peneliti.

  1. 2. Metode Dokumentasi

Merupakan metode pengumpulan data dengan jalan menyelidiki dokumen-dokumen yang sudah ada, dan merupakan tempat penyimpanan sejumlah data maupun informasi. Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa :

“Dokumen berasal dari kata dukumen yang artinya barang-barang tertulis. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penelitian harus menyelidiki benda-benda tertulis, seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya”.

Dalam penelitian ini meode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang : struktur organisasi, jumlah guru, jumlah siswa-siswi MI Islamiyah Dawu Kec. Paron Kabupaten Ngawi, Tahun Pelajaran  2008/2009.

3.   Metode Intervew (Wawancara)

Metode interview (wawancara) dilakukan dalam penelitian ini adalah metode penelitian yang dilakukan oleh interviauw (pewawancara) untuk memperoleh informasi dari wawancara. (Suharsimi, hal. 131)

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data mengenai : sejarah berdirinya,  jumlah obyek yang dijadikan populasi, semua persoalan yang berhubungan dengan usaha guru dalam meningkatkan strategi pembelajaran.

C.  Teknik dan Analisa Data

Untuk membuktikan sampai sejauh mana hubungan antara prestasi belajar aqidah akhlak dengan tingkah laku siswa kelas IV dan V MI Islamiyah Dawu Kec. Paron Kabupaten Ngawi, Tahun Pelajaran  2008/2009. Dalam hal ini akan digunakan analisis statistik yang menggunakan rumus korelasi product moment dengan meggunakan angka kasar sebagai berikut :

rxy =

Keterangan:

rxy                = koefisien korelasi x dan y

∑xy              = jumlah fariabel x kali fariabel y

∑x2 = jumlah kuadrat x

∑y2 = julah kuadrat y

∑x                = jumlah fariabel x

∑y                = jumlah fariabel y

N                = jumlah subjek (Mardalis, 2007 :  83)

1 Komentar

  1. Mr WordPress said,

    Mei 17, 2010 pada 9:09 am

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: