skripsi10

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Ibadah shalat merupakan ibadah yang berhubungan langsung antara manusia dengan khaliknya yang tidak dapat diwakilkan seperti ibadah-ibadah yang lain. Misalnya thawaf dalam ibadah haji, puasa wajib dalam bulan ramadhan dan sebagainya. Kewajiban menjalankan ibadah shalat seorang anak di mulai sejak umur tujuh tahun, hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw sebagai berikut :

Artinya :

Bersabda Rasulullah saw : “Suruhlah anak-anakmu itu shalat apabila sudah berumur tujuh tahun, maka hendaklah kamu pukul jika ia mencapai usia 10 tahun”. (Jumbenar Syah Indar, hal. 79)

Hadits diatas menegaskan kepada kita, betapa pentingnya shalat bagi kehidupan manusia yang beriman untuk mendapatkan ketentraman hati dan batin menuju hidup damai dunia akhirat. Hal ini dikuatkan dengan firman Allah yang berbunyi :

Artinya :

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

(Al Qur’an dan Terjemahannya, hal. 79)

Ibadah shalat yang di wajibkan atas setiap orang Islam itu merupakan suatu ibadah yang fundamental, sehingga orang yang mengerjakannya akan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang mungkar.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Lukman ayat 17 yang berbunyi :

Artinya :

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

(Al Qur’an dan Terjemahannya, hal. 79)

Sehubungan dengan hadits dan firman Allah tersebut maka ibadah shalat harus diajarkan kepada anak-anak sejak anak berumur tujuh tahun dan apabila anak sudah berumur tujuh belum mau mengerjakan shalat hendaknya dipukul.

Siswa-siswi MTsN pada umumnya dan siswa-siswi kelas 1 khususnya masih ada yang aktif shalat, tetapi ada beberapa siswa-siswi yang masih belum mengerjakan shalat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel yang akan disebutkan secara rinci dari hasil penelitian.

  1. B. Penegasan Istilah

Agar tidak terjadi kesalahfahaman dalam memahami skripsi ini, maka penulis akan menjelaskan beberapa istilah yang digunakan yaitu :

Problema            :   Permasalahan.

Pengajaran          :   Pemberian pelajaran kepada anak didik.

Ibadah                :   Sesuatu yang jika dikerjakan akan mendapat pahala.

MTsN Pilangkenceng :  Sebagai obyek penelitian.

  1. C. Perumusan Masalah

Dalam latar belakang masalah yang telah penulis kemukakan diatas dapat diambil beberapa rumusan masalah tentang problematika pengajaran ibadah shalat pada siswa-siswi MTsN Pilangkenceng sebagai berikut :

  1. Problem apa yang dihadapi dalam pendidikan ibadah shalat di MTsN Pilangkenceng Madiun.
  2. Metode apa yang digunakan dalam pendidikan ibadah shalat pada siswa MTsN Pilangkenceng Madiun.
  3. Sejauh mana keberhasilan pendidikan ibadah shalat pada MTsN Pilangkenceng Madiun.
  1. D. Tujuan Penelitian

Setiap kegiatan apa saja pasti mempuyai tujuan tertentu untuk mencapai keberhasilan. Demikian halnya penelitian ini, tujuan yang hendak dicapai yaitu :

  1. Untuk mengetahui problem apa yang dihadapi dalam pendidikan ibadah shalat di MTsN Pilangkenceng Madiun.
  2. 2. Untuk mengetahui metode apa yang digunakan dalam pendidikan ibadah shalat pada siswa MTsN Pilangkenceng Madiun.
  3. 3. Untuk mengetahui  sejauh mana keberhasilan pendidikan ibadah shalat pada MTsN Pilangkenceng Madiun.

  1. E. Metode Pembahasan dan Penelitian

Adapun metode yang penulis gunakan dalam pembahasan dan penelitiam ini adalah sebagai berikut :

  1. 1. Metode Pembahasan.

Dalam pembahasan ini penulis menggunakan tiga macam metode pengumpulan data yaitu :

  1. Metode Induktif, yaitu metode yang bermula dengan menarik hal-hal yang khusus kepada hal-hal yang bersifat umum. Metode ini juga digunakan dalam landasan teori untuk pembahasan tentang pelaksanaan pengajaran aqidah akhlak siswa MTsN Pilangkenceng Madiun.
  2. Metode Deduktif, yaitu kesimpulan yang ditarik dari dalil-dalil peristiwa yang sifatnya umum kepada hal-hal yang sifatnya khusus. Metode ini digunakan juga dalam landasan teori untuk pembahasan tentang pelaksanaan pengajaran atau perbedaan prestasi belajar bidang studi fiqih di MTsN Pilangkenceng Madiun.
  3. Metode Komparatif
  4. Menurut Winarno Surachmad dalam bukunya “Dasar dan Teknik Research” menyatakan : Komparatif adalah meneliti faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi yang diselidiki dan di bandingkan antara satu faktor dengan faktor lain.

(Winarno Surachmad, hal. 135)

2.   Metode Penelitian.

Dalam skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian dengan metode populasi dan sampel :

  1. Populasi adalah seluruh individu yang menjadi subjek penelitian yang akan dikenai generalisasi yaitu siswa MTsN Pilangkenceng Madiun.
  2. Sampel adalah sejumlah individu yang jumlahnya kurang dari populasi.

3.  Metode Pengumpulan Data.

  1. Metode Observasi, yaitu pengamatan langsung atau tidak langsung dalam usaha mengumpulkan data atau informasi yang dapat dipergunakan sebagai alat pendidikan yang bersifat ilmiah dan mencatat secara sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki.
  2. Metode Intervew, yaitu mengumpulakan data dari hasil penyelidikan, pengalaman, perasaan dan motivasi masyarakat dengan melalui proses tanya jawab secara lesan dua orang atau lebih secara berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain, dan mendengarkan dengan telinga sendiri.
  3. Metode Quesioner, atau metode angket, yaitu suaatu teknik dimana penulis mengumpulkan data atau informasi yang dilakukan dengan jalan membuat suatu pertanyaan yang akan diajukan kepada responden atau dengan menggunakan komunikasi dengan subjek.

4.   Metode Analisa Data

Metode analisa data adalah suatu langkah pengumpulan data yang telah tersedia. Penulis akan menggambarkan tentang keadaan objek dan hasil studi.

Adapun data yang diproses peneliti dapat mempunyai makna-makna dimana data tersebut kemudian dianalisa dengan menggunkan rumus sebagai berikut.:

Keterangan :

P    = Prosentase

F    = Jawaban Respondent

N   = Jumlah Respondent

F.  Sistematika Pembahasan

Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari halaman judul, halaman persetujuan, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, abstraksi, daftar isi, dan daftar tabel.

Bab I :    Merupakan pendahuluan dalam skripsi ini terdiri dari latar belakang masalah, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode pembahasan dan Penelitian serta sistematika pembahasan.

Bab II : Dalam bab ini penulis kemukakan tinjauan kepustakaan sebagai landasan teori yang terdiri dari pengertian shalat, faktor-faktor ibadah shalat, problematika pengajaran ibadah shalat serta metode ibadah shalat.

Bab III : Membahas tentang keadaan umum MTsN Pilangkenceng, keadaan karyawan guru dan murid MTsN Pilangkenceng, sarana prasarana, factor-faktor pengajaran ibadah shalat dan problematika pengajara ibadah shalat di  MTsN Pilangkenceng.

Bab IV : Dalam bab ini penulis kemukakan data hasil penelitian dan analisa data.

Bab V : Berisikan penutup yang memuat kesimpulan dan saran-saran.

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. Pengertian Ibadah Shalat

Shalat menurut bahasa artinya suatu perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal. 771)

Shalat menurut syara’ adalah segala ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam yang dikerjakan menurut syarat-syarat tertentu. (Drs. Mahmud Suyuti, hal. 23)

Pada dasarnya adalah suatu perbuatan yang diwajibkan oleh Allah SWT kepada manusia yang beriman. Adapun syarat-syarat dan rukun yang telah ditentukan oleh tuntunan Rasul serta merupkan perwujudan perhambaan diri (manusia) kepada Allah AWT. Hal ini sesuia dengan firaman Allah yang berbunyi :

Artinya :

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

(Al Qur’an dan Terjemahan, hal. 1084)

Adapun syarat-syarat shalat adalah sebagai berikut :

    1. Suci dari hadast besar dan kecil sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al Maidah :

Artinya :

…….dan jika kamu junub maka mandilah……..

(Al Qur’an dan Terjemahan, hal.      )

    1. Suci badan, pakaian dan tempat dari najis sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al Mudatsir ayat 4 :

Artinya :

dan pakaianmu bersihkanlah

(Al Qur’an dan Terjemahan, hal.      )

    1. Menutup aurat. Ditutup dengan suatu yang menghalangi warna kulit. Aurat laki-laki antara pusar sampai lutut, aurat perempuan seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al A’raaf ayat 31 :

Artinya :

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid. (Al Qur’an dan Terjemahan, hal. 1084)

    1. Mengetahui waktu shalat. Diantara syarat sahnya shalat yaitu telah masuk waktu shalat. Sabda Nabi saw :

Artinya :

“Nabi Bersabda : Shalatlah tepat pada waktunya”

(H.R. Buhkori dan Muslim) Salim Al Bahroisy, Riadus Shalihin)

    1. Menghadap Kiblat (Mekah)

Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasululloh bersabda “ Demi Allah yang diriku ditanganNya, sesungguhnya aku ingin menyeru Abu Bakar kemudian kusuruh mengerjakan sembahyang lalu orang yang kusuruh sembahyang sesudah kusuruh orang laki-laki imam bagi orang banyak kemudian aku pergi kepada orang yang tidak sembahyang  berturut-turut kubakar rumahnya. (H.R. Bukhori) (H.Zainudin Hamidi, hal. 183)

Berdasarkan Al Qur’an dan Hadits maka ibadah shalat merupakan salah satu hal yang tidak dapat ditinggalkan sebagai upaya untuk menuju kebahagiaan dunia akhirat. Syarat-syarat sahnya shalat, rukun shalat dan yang membatalkan shalat, dan hal-hal yang berkaitan dengan shalat :

  1. 1. Syarat-syarat sahnya shalat.

Syarat adalah sesuatu yang karena baru ada hukum, dan ketiadaannya tidak akan ada hukum (A-Hanafi, hal.15)

Berdasarkan kaidah diatas akan tampak jelas bahwa syarat merupakan hal yang harus diketahui dan dilaksanakan bagi semua orang yang akan mengerjakan perbuatan wajib sebagaimana ibadah shalat.

Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al Baqarah ayat 144 yang berbunyi :

Artinya :

Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.

(Al Qur’an dan Terjemahan, hal. 1084)

  1. 2. Rukun-rukun shalat

Yang termasuk rukun shalat adalah meliputi :

  1. Niat dalam shalat yang akan dikerjakan.

Segala perbuatan itu terdapat pada apa yang ia niatkan.

  1. Takbiratul Ihram, berdasarkan pada hadits Nabi saw.

“Dari Salim ra dari bapaknya, aku melihat rasulullah berkata ketika beliau memulai shalat diangkat tangannya (dua) hingga setengah dengan bahunya. (Ma’mur Daud, hal. 1-10)

  1. Membaca Surat Al Fatihah

Bahwa membaca Surat Al Fatihah pada tiap-tiap shlat wajib,menjadi rukun shalat baik shalat fardlu maupun shalat sunnah.

Hal ini sesuai dengan hadist Nabi yang berbunyi :

Artinya :

Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Al Fatihah

(H.R. Bukhori) (Sulaiman Rosyid, hal. 86)

  1. Rukun serta Tuma’ninah (berhenti sejenak)

Adapun rukuk adalah bagi yang shalatnya berdiri menunjukkan kira-kira kedua telapak tangannya sampai kelutut. Bagi orang yang shalatnya duduk hendaknya bertentangan dengan lutut.

  1. I’tidal serta Tuma’ninah

Dimaksudkan bahwa berdiri betul seperti pada membaca Al Fatihah. Sesuai dengan sabda Nabi saw:

Artinya :

Rasulullah bersabda : Kemudian bangkitlah engkau sehingga berdiri betul kembali (H.R. Bukhori Muslim)

(Sulaiman Rosyid, hal. 89)

  1. Sujud dua kali serta tuma’ninah

Berdasarkan hadist Nabi saw : “Kemudian sujudlah engkau hingga berhenti seketika kemudian bangkitlah engkau hingga berhenti seketika. (H.R. Bukhori Muslim) (Sulaiman Rosyid, hal. 202)

  1. Duduk diantara dua sujud.

Berdasarkan hadist Nabi saw :

Artinya :

Kemudian jujurlah engkau hingga berhenti seketika, kemudian bangkitlah engkau hingga berhenti seketika, kemudian sujudlah engkau berhenti seketika pula.

(H.R. Bukhori Muslim) (Makmum Daud, hal. 206)

  1. Duduk Akhir

Duduk tasyahud akhir dan shalawat atas nabi dan atas keluarganya. Keterangan amal Rasulullah saw (beliau duduk ketika membaca tasyahud dan shalawat).

  1. Membaca Tasyahud Akhir

Adapun tasyahud akhir adalah sebagai berikut :

Artinya :

Segala kehormatan, segala keberkahan, segala doa dan segala ucapan yang baik-baik hanya teruntuk Allah semata-mata keselamatan bagimu wahai nabi, serta rahmat Allah dan berkat-Nya. Keselamatan bagi kami dan bagi hamba Allah yang shaleh. Aku mengaku bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku mengaku bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah. (H.R. Muslim) (Ma’mum Daud, hal. 206)

  1. Membaca shalawat Nabi, waktu membacanya ketika duduk akhir sesudah membaca tasyahud akhir, adapun bacaan shalawat Nabi adalah sebagai berikut :

Artinya :

Dari Abi Mas’ud Al Ansori ra katanya telah bersabda Rasulallah saw. Wahai Allah limpahkanlah rahmatmu kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau melimpahkan berkat-Mu kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau melimpahkan kepada keluarga Ibarahim di alam semesta ini. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

  1. Memberi salam yang pertama (ke kanan), menurut pendapat ulama setelah salam pertama kemudian salam kedua dalam Hadist sunnah bukan wajib demikian bahwa salam adalah salah satu syarat syahnya shalat.
  2. Menertibkan rukun artinya meletakkan tiap-tiap rukun pada tempatnya menurut susunan tersebut diatas.

Demikian diantara syarat-syarat sahnya shalat yang dapat penulis sampaikan dalam pembuatan skripsi ini yang bersumber dari fiqih Islam.

3.   Hal-hal yang membatalkan shalat antara lain :

  1. Meninggalkan salah satu rukun atau memutuskan rukun sebelum sempurna dengan sengaja umpamanya I’tidal belum sempurna.
  2. Meninggalkan salah satu syarat misalnya berhadast, karena najis baik badan maupun baju, terbuka aurat maka ibadah shalatnya batal.
  3. Dengan sengaja berkata-kata yang biasa dihadapkan didepan manusia, walaupun kata-kata yang bersangkutan dengan shalat sekalipun, kecuali lupa.
  4. Banyak bergerak melakukan sesuatu dengan tidak ada perlunya seperti bergerak tiga langkah atau memukul dua kali berturut-turut. Karena shalat itu hanya dilakukan kepada yang bersangkutan (Allah) dan perbuatan yang lain hendaknya ditinggalkan.
  5. Makan dan minum. Hal tersebut juga dapat membatalkan ibadah shalat karena shalat harus dikerjakan sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.
  6. 4. Hal-hal yang berkaitan dengan shalat diantaranya :
    1. Sujud Syahwi, adalah sujud yang dilaksanakan apabila mengerjakan kelupaan dalam rukun shalat. Dikerjakan sesudah tasyahud akhir sebelum salam. Hal tersebut diatas berdasarkan hadits Nabi :

Artinya :

Dari Al-Mughiroh telah berkata Nabi saw : Apabila salah satu berdiri tetapi belum sampai sempurna berdiri maka hendaknya ia duduk kembali (untuk tasyahud pertama) dan jika sudah berdiri betul maka ia jangan duduk kembali dan hendaknya ia sujud 2 kali (syahwi).

(H.R. Ahmad) (H. Sulaiman Rosyid, hal. 105)

  1. Tasbih dan tepuk tangan

Yang dimaksud dengan tasbih/ tepuk tangan adalah mengingatkan sesuatu dalam shalat. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi :

Artinya :

“Dari Shahal bin Saad bin Saidin ra katanya Rasulallah saw berkata : Siapa hendak mengingatkan sesuatu dalam shalat hendaknya ia tasbih orang akan melihat kepadanya. Sedangkan bagi kaum wanita bertepuk tangan. (H.R. Muslim ) (Ma’mum Daud, hal. 29)

  1. Jama’

Yang dimaksud dengan shalat jama’ adalah menghimpun dua shalat Fardlu dikerjakan dalam satu waktu. Umpamanya shalat dhuhur dengan Ashar dan Shalat Magrib dengan Isya’ dikerjakan dalam satu waktu.

Hal tersebut diatas berdasarkan hadits Nabi saw :

Artinya :

Ibnu Umar ra katanya : Apabila Rasulullah bergegas dalam perjalanan beliau jama’ (himpun) shalat magrib dengan isya’.

(H.R. Muslim) (Ma’mum Daud, hal. 35)

  1. Qoshor

Yang dimaksud qoshor dalam shalat adalah shalat yang diringkas yaitu diantara shalat fardlu lima waktu (dhuhur, ashar, magrib, isya’) yang mestinya empat rakaat dikerjakan hanya dua rakaat, sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 101 sebagaimana berikut :

Artinya :

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar[343] sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al Qur’an dan Terjemahan, hal. 135)

5.  Shalat Jamaah

Shalat  jamaah adalah shalat yang dikerjakan oleh dua orang atau lebih dan dipimpin oleh seorang pimpinan dalam segala bentuk kegiataanya baik berupa ucapan maupun gerakannya.

Shalat yang dikerjakan dengan berjamaah pahalanya dilipat gandakan oleh Allah dua puluh tujuh derajat dari pada shalat sendirian (munfarid) sabda Nabi saw :

Artinya :

Ibnu Umar ra berkata : Rasulullah saw bersabda : Shalat berjamaah lebih baik dari pada shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.

(H.R. Muslim) (Salim Bahraisy, hal. 160)

Hadist diatas memberikan dorongan kepada orang-orang beriman supaya senantiasa mengerjakan shalat berjamaah baik dirumah dengan keluarganya maupun di masjid yang kebaikannya dilipat gandakan oleh Allah dua puluh derajat dari pada shalat sendirian.

Ketentutan shalat berjamaah adalah sebagai berikut :

  1. Bagi makmum hendaknya mengikuti imam dalam mengerjakan shalatnya.
  2. Makmum hendaknya mengikuti imam dalam segala perbuatannya. Maksudnya ialah dalam segala perbuatan imam (dari ruku’ ke I’tidal) sampai gerakan imam yang terakhir. Sesuai sabda Nabi saw :

Artinya :

Sesengguhnya imam itu dijadikan imam supaya diikuti perbuatannya, apabila ia telah takbir hendaknya kamu takbir, apabila ia rukuk maka hendaknya kamu rukuk pula. (H.R. Muslim) (Sulaiman Rosyid, hal. 115)

  1. Makmum hendaklah mengetahui gerak-gerik imam, gerak gerik hendaknya diketahui oleh makmum, maka antara makmum tidak boleh ada dinding pemisah. Bagi makmum yang jaraknya jauh dengan imam maka cukup melihat makmum di depannya.
  2. Hendaknya shalat makmum sama dengan imam. Apabila antara imam dan makmum berlainan niat dalam shalatnya maka shalatnya menjadi batal.
  3. Imam tidak dibenarkan mengikuti kepada yang lain. Imam harus dalam pendiriannya sebab makmum harus mengikuti imam.
  4. Laki-laki tidak sah bermakmum pada perempuan. Dalam shalat selama masih ada orang laki-laki dewasa berakal sehat, orang perempuan tiak dibolehkan menjadi imam. Perempuan boleh menjadi imam asal makmumnya perempuan. Sebagaimana sabda Nabi saw :

Artinya :

Perempuan janganlah menjadi imam sedang makmumnya laki-laki.

(Sulaiman Rosyid, hal. 116)

  1. Hendaklah tidak bermakmum kepada imam yang sedang batal dalam shalatnya karena lupa dan tidak mnengetahui kapan batalnya, sedangkan makmumnya mengetahuinya.

6.   Makmum Masbuk

Apabila seseorang shalat berjamaah sesudah imam mengerjakan sebagian dari shalat ia mengikuti shalat berjamaah. Maka makmum yang ketinggalan imam itu dinamakan makmum masbuk, artinya orang yang telah didahului.

Orang yang masbuk hendaknya mulai shalatnya dengan takbiratul ihram dan niat mengikuti imam meskipun sudak ketinggalan dengan yang lain dan menyempurnakan shalatnya setelah imam menyelesaikan jumlah rakaatnya. Sesuai dengan sabda Nabi saw :

Artinya :

“bagaimana keadaan imam kamu dapati, hendaklah kamu ikuti dari apa yang ketinggalan olehmu hendaklah kamu sepmurnakan.

(H.R. Bukhori Muslim) (Sulaiman, hal. 116)

  1. Shalat Sunnah Rawatib

Shalat sunnah rawatib yaitu shalat yang menyertai shalat fardlu. Sahalat rawatib ada 2 yaitu : Shalat sunnah rawatib Qobliyah dan Ba’diyah.

Shalat sunnah rawatib Qobliyah yaitu shalat sunnah yang dikerjakan sebelum shalat fardlu sedangkan Shalat sunnah rawatib Ba’diyah yaitu shalat sunnah yang dikerjakan sesudah shalat fardlu.

Hal ini sesui dengan sabda Nabi saw :

Artinya :

Ibnu Umar berkata saya shalat bersama Rasulullah saw dua rakaat sebelum dhuhur, dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah jum’at dan dua rakaat sesudah maghrib serta dua rakaat sesudah isya’.

(H.R. Muttafakun alaih) (Salim Bahraisy, hal. 117)

  1. Shalat Jenazah

Jika ada seorang muslim yang meninggal dunia maka kewajiban seseorang terhadap jenazah orang Islam itu ada 4 yaitu :

  1. a. Memandikan

Setelah disaksikan dengan yakin si sakit itu betul-betul sudah mati, maka kewajiban yang pertama adalah memandikan dengan air yang suci dan sebaiknya dengan air dingin, boleh dimandikan dengan air hangat, misalnya untuk menghilangkan nuftah di badan dianjurkan dengan menggunakan air dengan diberi daun bidara,

Berdasarkan hadist Nabi saw :

Artinya :

Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw telah bersabda bahwa orang yang mati terjatuh dari kendarannya, kata beliau : mansikanlah dengan air serta

daun bidara (atau sesuatu yang menghilangkan nuftoh seperti sabun).

(Bukhori Muslim) (Salim Bahraisy, hal. 117)

  1. b. Mengkafani

Setelah selesai memandikan, maka wajiblah jenazah itu dikafani. Jika ada harta peninggalan, lebih baik kafan itu diambilkan dari harta tersebut. Jika tidak meninggalkan harta maka wajib mengkafani orang yang memberi belanja jika yang memberi belanja tidak mampu, diambilkan dari baitul mall, tidak ada maka orang Islam yang mampu wajib mengkafani.

Hal ini sesui dengan sabda Nabi saw :

Artinya :

Dari Abi Salamah ra katanya kepada Aisyah ra istri Rasulullah saw : “Berapa lapis kain kafan Rasulallah jawab Aisyah, tiga lapis kain katun”

Hadits diatas dipahami bahwa mengkafani jenazah fardlu kifayah baik kerabatnya sendiri maupun orang lain bila si mayat tersebut tidak mampu.

  1. c. Menshalatkan Jenazah

Kewajiban orang Islam terhadap jenazah yang ketiga adalah menshalatkan, hukumnya fardlu kifayah yaitu sekelompok orang sudah cukup diwakili seorang.

Dengan demikian sekelompok orang tersebut menshalatkan jenazah juga ditentukan oleh syarat dan hukum. Adapun syarat-syarat shalat jenazah adalah sama dengan syarat-syarat yang lain sedang rukun shalat jenazah adalah sebagai berikut :

1)      Niat sebagaimana shalat yang lain.

2)      Takbir empat kali

3)      Berdiri jika kuasa

4)      Membaca Al Fatehah

5)      Membaca shalawat atas Nabi saw

6)      Membaca doa atas Nabi saw

  1. d. Menguburkan

Mengubur jenazah adalah kewajiban yang keempat. Kedalaman penanaman jenazah sekurang-kurangnya kira-kira 1 ½ meter dari permukaan tanah agar tidak berbau. Rasulullah mensunnahkan hendaklah lubang tersebut diberi liang lahat

Sebagaimana disabdakan sebagai berikut :

Artinya :

Dari Amir bin Saat Waqos ra katanya : Ketika Abi Waqos sakit hampir meninggal dia berkata buatkan bagiku lahat dan susunkan batu di peuburanku seperti Rasulullah. (H.R. Muslim).

Hadits tersebut diatas memerintahkan kepada setiap orang Islam, bila menanam jenazah hendaklah dibuatkan liang lahat di dalam lobangnya.

  1. Shalat Jum’at

Shalat jum’at adalah shalat dua rakaat sesudah khotbah di hari Jum’at dengan berjamaah pada waktu dhuhur, shalat jum,at hukumnya wajib bagi orang laki-laki yang beriman, dewasa,merdeka, dan tidak dalam keadaan perjalanan (musyafir). Bagi orang perempuan, anak-anak, hamba sahaya dan musafir tidak diwajibkan menjalankan shalat Jum’at. Berkaitan hadits nabi saw :

Artinya :

“Berkata Rasulallah saw : Jum’at hak yang wajib dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam dengan berjamaah, dikecualikan empat macam :

1. hamba sahaya, 2. Perempuan, 3. Anak-anak, 4. Orang sakit”.

(H.R. Abu Daud dan Ahmad) (Sulaiman Rasyid, hal. 124)

Hadits diatas dikuatkan dengan firman Allah SWT dalam Surat Al Jumu’ah ayat 9 sebagai berikut:

Artinya :

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli (Al Qur’an dan Terjemahan, hal. 933)

Kedua dalil diatas memberi hukum kepada orang yang beriman bila mereka tidak mengerjakan shalat Jum’at bila tidak ada udzur maka bagi mereka dosa.

Dalam ibadah shalat jum’at terdapat syarat dan rukun shalat jum’at. Adapun syarat dan rukun shalat jum’at adalah sebagai berikut :

  1. Beragama Islam, bagi mereka yang bukan beragama Islam tidak wajib mengerjakannya.
  2. Bagi mereka yang belum dewasa tidak diwajibkan shalat jum’at.
  3. Berakal sehat, bagi orang Islam laki-laki, bagi orang perempuan padanya tidak dibebankan menjalankan shalat jum’at.
  4. Orang yang sehat jasmani dan rohaninya maka bagi mereka yang sakit jasmani dan rohaninya tidak diwajibkan shalat jum’at.
  1. Rukun Khutbah

Rukun khutbah adalah segala peruatan dan ucapan yang harus dilaksanakan oleh khatib pada waktu menyampaikan khutbah. Bila ada salah satu tidak dilaksanakan maka tidak sah.

Adapun rukun khutbah ada enam macam yaitu :

  1. Hendaklah dalam menyampaikan khutbah itu memuji Allah sesuai dengan sabda Nabi saw :

Artinya :

Dari Ibnu Abbas ra katanya, maka berkata Rasulullah saw : segala puji bagi Allah kami memujinya dan meminta pertolongan kepadaNya, siapa yang ditunjuki Allah SWT tidak ada yang mentesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah tidak ada pula yang menunjukinya.

(H.R. Muslim) (Ma’mum Daud, hal. 104)

  1. Membaca shalawat atas Nabi

Membaca shalawat dalam khutbah jum’at para ulama berbeda pendapat, sebagian ulama berpendapat bahwa membaca shalawat dalam shalat jum’at adalah wajib. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa membaca shalawat dalam khutbah jum’at hukumnya sunnah.

Adapun yang mewajibkan membaca shalawat dalam khutbah jum’at adalah sebagai berikut :

Artinya :

Rasulallah saw bersabda sesungguhnya seutama-utama hari adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat di hari itu, karena membaca shalawat itu selalu dihidangkan (disampaikan) kepadaku).

(H.R. Abu Daud) (Salim Al-Bahroisy, hal. 325)

Maka berdasarkan hadits diatas sebagian ulama memasukkan dalam rukun khutbah. Sedangkan ulama lain membaca shalawat atas nabi bukan rukun khutbah melainkan sunnah saja, boleh di dalam khutbah atau di luar khutbah pada hari jum’at.

  1. Membaca dua kalimat syahadat.

Hal ini berdasarkan hadits Nabi saw :

Artinya :

Dari Ibnu Abbas ra katanya bersabda Nabi saw. Aku mengaku bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada sekutu baginya dan Muhammad saw itu sesungguhnya pesuruhNya.

(H.R Muslim) (Ma’mum Daud, hal. 104)

  1. Menganjurkan agar mengingatkan rasa taqwa kepada Allah dan meperbanyak ingat kepadanya.
  2. Membaca ayat Al-Qur’an sesuai dengan hadits Nabi saw :

Artinya :

Dari Binti Haritsah bin Nu’man ra berkata aku menghafal surat Qof dari mulut Nabi sendiri yakni ketika beliau membacanya dalam beberapa kali khutbah Jum’at. (H.R. Muslim) (Ma’mum Daud, hal. 106)

  1. Membaca doa kepada orang mu’min dan mu’minat.

Sedangkan syarat-syarat khutbah jum’at adalah ada tujuh sebagaimana  berikut dibawah ini :

  1. Khutbah dilaksanakan pada waktu dhuhur setelah matahari condong ke barat sebagaimana sabda Nabi sebagai berikut :

Artinya :

Dari Iyas bin Salamah bin Aqwa dari bapaknya katanya : Kami shalat

jum’at bersama-sama Rasulullah ketika matahari tergelincir sesudah itu kami pulang, dan masih mencari-cari naungan tempat berlindung.

(H.R. Muslim) (Ma’mum Daud, hal. 101)

  1. Khutbah hendaknya disampaikan dengan berdiri, selama khatib masih mampu untuk berdiri. Hal ini disandarkan pada perbuatan Nabi di dalam waktu khutbah jum’at sebagai berikut :

Artinya :

Dari Jabir bin Sumaroh ra katanya : Nabi saw melakukan khutbah jum’at dua kali dimana beliau membaca Al Qur’an dan memberikan pengajaran kepada orang banyak.

(H.R. Muslim) (Ma’mur Daud, hal. 101)

  1. Duduk antara dua khutbah

Hal ini sesuai dengan perbuatan Nabi yang telah penulis cantumkan pada rukun khutbah point : b.

  1. Hendaknya khutbah itu diampaikan dengan suara yang keras. Sandaran hukum ini kepada perbuatan Nabi saw sebagai berikut :

Artinya :

Dari Jabir bin Abdillah ra katanya : Bila Nabi saw berkhutbah kedua mata beliau merah dan berapi dan suaranya lantang.

(H.R. Muslim) (Ma’mur Daud, hal. 103)

  1. Berturut-turut

Yang dimaksud berturut-turut dalam khutbah adalah didalam meyampaikan khutbah dengan tertib menurut ketentuan-ketentuan syara’ dalam Islam.

  1. Harus suci dari hadats besar dan kecil

Sesuai dengan penegasan Rasulullah dalam sabdanya, sebagai berikut :

Artinya :

Dari Abu Hurairah ra katanya : Rasulullah bersabda adalah suatu kewajiban bagi setiap orang muslim terhadap Allah, mandi sekali seminggu yaitu mencuci kepala dan seluruh tubuh.

(H.R. Muslim) (Makmur Daud, hal. 36)

  1. Menutup Aurat

Menutup aurat adalah salah satu rukun khutbah bagi khatib yang sedang menyampaikan khutbahnya sebagai syarat sahnya shalat.

  1. Shalat Hari Raya

Shalat sunnah hari raya adalah shalat sunnah yang dikerjakan 2 rakaat. Rakaat pertama takbir tujuh kali dan rakaat kedua takbir lima kali.

Ada 2 macam hari raya yaitu hari raya Iedul Fitri dan hari raya Qurban. Shalat hari raya Iedul Fitri dikerjakan pada tanggal 1 Syawal, setelah matahari terbit (naik sepenggalah) sampai datangnya waktu shalat dhuhur. Sesuai dengan penegasan Rasulullah dalam sabdanya, sebagai berikut :

Artinya :

Dari Ummuh A’tiyah ra berkata : Rasulullah saw menyeru kami pada Hari Raya Iedul Fitri dan Adha supaya membawa wanita-wanita muda dan pada gadis wanita haid sekalipun supaya keluar kelapangan, untuk shalat Ied. Adapun wanita haid mereka tidak ikut shalat tetapi ikut merayakan dan mendoakan kaum muslimin.

(H.R. Muslim) (Makmur Daud, hal. 113)

Bila melihat hadits diatas shalat hari raya tiak saja dianjurkan kepada orang Islam dewasa tetapi semua orang Islam sekalipun mereka belum dewasa, dan wanita yang sedang haid pun untuk pergi ketempat shalat dan mendoakan kepada semua kaum muslimin.

Adapun shalat hari raya Iedul Adha dikerjakan pada tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan musim haji atau qurban, setelah menunaikan shalat iedul adha disunnahkan menyembelih binatang (unta, lembu, kerbau, atau kambing) untuk qurban.

Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al Kautsar :

Artinya :

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

(Al Qur’an dan Terjemahan, hal.        )

Memahami ayat diatas menjalankan shalat Iedul Adha dan menyembelih qurban merupakan suatu ibadah yang diperintahkan Allah dan RasulNy, maka menjalankannya hukumnya sunnah muakad yaitu sunnah yang dikuatkan untuk dilaksanakan.

  1. Shalat Gerhana

Shalat gerhana adalah shalat yang dikerjakan pada saat terjadinya gerhana bulan atau matahari. Shalat gerhana matahari dikerjakan pada saat terjadinya sampai matahari terbenam. Adapun shalat gerhana bulan dikerjakan saat terjadinya sampai bulan tampak utuh kembali. Shalat gerhana cara mengerjakan tidak seperti shalat-shalat yang lain.

Shalat gerhana dikerjakan 2 rakaat, empat kali bacaan Al-Fatehah, empat kali I’tidal, empat kali ruku’ dan empat kali sujud, sesuai dengan sabda Nabi saw sebagai berikut :

Artinya :

Dari Ibnu Abbas ra katanya : Bahwasanya Nabi saw shalat gerhana empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua rakaat.

(H.R. Muslim) (Makmum Daud, hal. 113)

Dalam hadist diatas disebutkan empat kali bacaan Surat Al Fatehah dan empat kali I’tidal tetapi dalam pelaksanaannya pada rakaat pertama sehabis membaca Surat Al Fatehah dan terus membaca Al Fatehah lagi dan membaca Surat kemudian ruku’ dan I’tidal barulah sujud kembali.

  1. Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid

Shalat tahiyatul masjid ialah shalat yang dikerjakan karena Allah untuk menghormati masjid sebanyak dua rakaat. Setiap kali masuk masjid sebelum duduk hal ini bersandarkan pada sabda Nabi saw sebagai berikut :

Artinya :

Dari Abu Khotadah ra katanya : Rasulullah saw bersabda apabila kamu masuk masjid shalatlah lebih dahulu dua rakaat sebelum kamu duduk.

(H.R. Muslim) (Sulaiman Rosyid, hal. 146)

Hadits tersebut memerintahkan kepada semua orang Islam baik laki-laki maupun perempuan agar mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat sebelum duduk, untuk menghormati masjid karena masjid adalah tempat yang suci sebagai tempat ibadah orang Islam.

  1. A. Faktor-faktor Pengajaran Ibadah Shalat.

Sebelum penulis menguraikan tentang faktor-faktor ibadah shalat terlebih dahulu penulis bubuhkan tentang faktor-faktor pendidikan agama.

Adapun faktor-faktor pendidikan agama meliputi :

  1. Anak didik
  2. Pendidik
  3. Tujuan pendidikan
  4. Alat-alat pendidikan
  5. Lingkunagn atau milieu. (Zuhairini, hal. 81)

Berdasarkan pada faktor pendidikan agama tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor ibadah shalat diatas juga merupakan faktor-faktor pendidikian agama.

Hal tersebut sesuai dengan firman Allah dalam Surat Luqman ayat 17 sebagai berikut :

Artinya :

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

(Al Qur’an dan Terjemahan, hal.655)

Kemudian firman Allah Surat Luqman ayat 14 sebagai berikut :

Artinya :

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

(Al Qur’an dan Terjemahan, hal. 655)

Berdasarkan hadits Nabi yang artinya seagai berikut “ Dari Abu Dzar ra dia bertanya kepada Rasulullah saw katanya : Ya Rasulullah masjid manakah yang mula-mula dibangun dibumi ini ? Jawab Rasul saw Masjidil Haram, tanyaku, sesudah itu masjid apa ? jawab beliau Masjid Aqsha, tanyaku berapa jarak antara dua masjid itu dibangun ? jawab beliau empat tahun. Dimana saja kamu berada jika waktu shalat telah tiba maka segeralah shalat, karena bumi ini adalah masjid. (Makmur Daud, hal. 256)

  1. B. Problematika Pengajaran Ibadah Shalat

Problematika adalah hal-hal yang menimbulkan masalah problematika dan ibadah shalat berkaitan dengan faktor metode dan hal-hal lain yang berhubungan dengan ibadah shalat. Mengingat terbatasnya waktu dan sarana yang diperlukan maka penulis kemukakan beberapa problem sebagai berikut :

  1. Perhatian siswa terhadap ibadah shalat

Mengingat siswa cukup banyak maka cara berfikir, memperhatikan, menangkap dan sebagainya tidak sama. Demikian juga perhatian pada ibadah shalat juga tidak sama, umpamanya siswa yang memperhatikan kepada materi yang diterangkan oleh gurunya tentang ibadah shalat akan berbeda dalam menjawab dengan siswa yang tidak memperhatikan di waktu guru memberi keterangan.

Hal ini sesuai kata Profesor A. Ghozali, MA dalam bukunya Ilmu Jiwa umum sebagai berikut : Perhatian adalah keaktifan jiwa yang tinggi, jiwa itupun semata-mata terwujud kepada satu objek.

  1. Pengaruh Lingkungan

Menurut Profesor A. Ghozali, MA : Lingkungan biasanya berpengaruh terhadap perhatian yang sangat terpusat pada kepada orang lain.

Pendapat tersebut diatas dapat dipahami, bahwa akibat pengaruh lingkungan dapat menimbulkan problem terhadap belajar-mengajar, maka hal tersebut memerlukan pemecahan secara sistematika dan praktis.

  1. Pengaruh Sarana dan Prasarana

Guna memecahkan timbulnya problem dalam pelaksanaan ibadah shalat hendaknya diwujudkan keserasian antara sarana dan prasarana dengan materi yang diajarkan khususnya ibadah shalat sesuai dengan sabda Nabi saw yang artinya : “Apabila diserahkan sesuatu kepada orang yang bukan ahlinya tunggulah kehancurannya”.

Hadits diatas dapat diambil pengertian bahwa sesuatu urusan perkara dan masalah hendaklah diserahkan kepada yang bersangkutan, hal ini tidak hanya untuk manusia saja, tetapi dapat diterapkan sebagai dasar untuk yang lain, seperti keserasian prasarana dalam ibadah shalat.

D. Metode Ibadah Shalat

Banyak macamnya metode dalam menyampaikan pelajaran, mengingat adanya keterbatasan waktu dan sarana lainnya, maka dalam penyususnan skripsi ini penulis sampaikan hanya beberapa metode yang meliputi :

  1. 1. Metode Ceramah

Dalam penggunaan metode ceramah, hampir semua materi pendidikan agama dapat disampaikan dengan metode ceramah baik pelajaran Al-Qur’an, Hadits dan lainnya, khususnya Ibadah shalat.

Hanya saja pelaksanaannya harus dibarengi dengan metode yang lain yang sesuai dengan kebutuhannya, seperti ibadah shalat tidak cukup dengan metode ceramah. Untuk mengetahui daya serap dan penguasaan pada pelajaran yang telah diterima harus menggunakan metode lain, misalnya metode dokumentasi.

  1. 2. Metode Diskusi

Metode ini dapat menarik siswa aktif dalam mencari pemecahan masalah, terlebih dahulu mengemukakan bahan secara sistematis disertai keterangan-keterangan yang dibuat secara khusus, untuk merangsang anak dalam mengahadapi masalah dan berusaha untuk mencari cara pemecahannya secara tepat.

Dalam ibadah shalat metode ini kurang mendapat perhatian sebab dalam ibadah shalat menggunakan metode ceramah dan demonstrasi.

  1. 3. Metode Pemberian Tugas

Dalam pendidikan dan pengajaaran, metode ini dipergunakan oleh pendidik dengan jalan memberi tugas kepada anak didik baik dirumah maupun disekolah atau tempat-tempat ibdah yang lain. Sebagai latihan dan pembiasaan untuk menjalankan ibadah shalat.

Akhirnya akan tumbuh dalam pribadi anak rasa kesadaran, bahwa shalat merupkan ibadah wajib yang harus dikerjakan, dan tidak dapat diganti dengan ibadah-ibadah yang lain. Umpamanya puasa dalam bulan ramadhan, dapat diganti dengan membayar fidyah.

  1. 4. Metode Dokumentasi dan Eksperimen

Metode demonstrasi adalah metode yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pergantian dan memperlihatkan pada anak didik cara memperlakukan sesuatu. Suatu metode demonstrasi merupakan metode yang mengikuti cara-cara pemilihan kecakapan dan pengetahuan secara ilmiah yang wajar. Sebagai pendemonstrasi orang tua kepada anaknya dalam mengajari untuk berjalan kaki. Berkat pendemonstrasian dalam perkataan, orang tua kepada anak akhirnya anak bisa berjalan dengan menggunakan kakinya, berkat demonstrasi yang dilakukan orang tua kepada anaknya. Begitu pula dalam memberi materi ibadah dalam menyampaikan sangat diperlukan untuk menggunakan metode demomstrasi. Apabila teori menjalankan ibadah shalat telah benar-benar dimiliki oleh siswa, maka guru harus mendemonstrasikan di depan anak didiknya untuk dapat diketahui cara pengalaman yang benar.

Sedangkan eksperimen adalah untuk mengetahui bagaimana ibadah shalat yang sebenarnya, bagaimana cara yang benar dan baik dalam pelaksanaan ibadah shalat itu dilaksanakan yang benar menurut perintah agama.

Kedua metode ini sering dirangkaikan dalam mengajar terutama apabila guru ingin memperjelas terhadap materi yang diajarkan kepada murid-muridnya secara pasti melalui pengamatan, penyampaian data, percobaan dan lain sebagainya.

BAB III

Laporan HASIL PENELITIAN

A.  Keadaan Umum Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng  Madiun, yang menjadi obyek penelitian, maka penulis uraikan tentang beberapa hal yang menyangkut Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng yang meliputi :

  1. 1. Sejarah singkat berdirinya Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng.

Sebelum menjadi Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng, pertama kalinya berdiri Madrasah Tsanawiyah Swasta di Kenongorejo, yaitu sekitar tahun 1985 sampai dengan tahun 1988 masih swasta penuh, Madrasah Tsanawiyah Swasta ini berdiri atas inisiatif atau berkat tekad dan perjuangan bapak Drs. Syamsudin yang memperoleh dukungan atau motivasi dari tokoh-tokoh masyarakat sekitarnya. Bapak Syamsudin sebelumnya mengajar di sekolah Diniyah dengan murid 70 anak. Beliau juga merangkap mengajar di Ibtidaiyah, beliau mencurahkan ilmu yang didapatnya dari Pondok Pesantren. Bapak Drs. Syamsuddin pagi mengajar di Ibtidaiyah dan sore di Tsanawiyah. Sekitar 1 tahun 1987 beliau resmi meninggalkan Madrasah Ibtidaiyah dan masuk di Madrasah Tsanawiyah yang pertama. Dari MTs yang diberi nama MTs Al-Burhan tersebut beliau pertama kalinya mengetuai (menjadi Kepala Sekolah) MTs Al-Burhan dan pada bulan Januari mnejadi negeri, SK penegerian keluar pada tanggal 25 Desember 1993.

Sejak berdiri MTs Al-Burhan (ketika masih swasta) peminatnya sangat banyak sekali, dari kelas 1 sampai kelas 3 ada 6 kelas. Jadi setiap kelasnya ada 2 kelas, bahkan melonjak sampai 9 kelas. (Wawancara : 2003)

Sebelumnya diragukan oleh masyarakat sekitar mengenai berdirinya MTs di Kenongorejo, apakah berdirinya sekolah agama berciri khas Islam itu akan diminati masyarakat sekitar yang kebanyakan penganut agama Kristen. Karena daerah/ masyarakat sekitar merupakan basisnya agama Kristen. Dengan tekad dan perjuangan, MTs swasta itu banyak peminatnya. Adapun rintangan dan hambatan selalu dihadapi baik dari dalam atau dari luar, yaitu dari kalangan non muslim sekitar dan rasa sekolah lain yang merasa tersaingi.

Masalah pendidik tidak ada hambatan, para guru membantu dengan niat fisabilillah yaitu berjuang karena Allah, mereka membantu dan mengajarkan ilmunya dengan iklas, tanpa mengharap imbalan yang berlebih, karena dari pemasukan dana yang diperoleh dari murid-murid masih minim. Adapun gedung dan sarana sekolah masih berada di rumah-rumah penduduk, gedung MTs belum terbangun dengan baik dan belum mencukupi. Namun tidak mengurangi sedikitpun pelajaran agama dan minat siswa-siswi.

Dengan perjuangan dan usaha Kepala Sekolah, keberadaan MTs swasta dapat memperoleh SK penegerian 1993, sehingga MTs dapat membeli tanah baru dan membangun gedung baru di Desa Sumbergandu, Pilangkenceng dengan megah. Selain itu dekat jalur transportasi/ kendaraan umum.

  1. 2. Struktur organisasi Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng.

Struktur organisasi Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng adalah sebagai berikut :

  1. Kepala Madrasah

Kepala Madrasah membawahi keseluruhan dalam pengelolaan Madrasah. Jadi keseluruhan pengelolaannya berada di bawah tanggung jawab Kepala Madrasah.

  1. Wakil Kepala Madrasah

Wakil Kepala mempunyai tugas membantu Kepala Madrasah dalam hal-hal tertentu. Untuk membantu tugas Kepala/ Wakil Madrasah, dibentuk pengurus-pengurus yang bertanggung jawab langsung kepada atasan atau pengelola Madrasah sesuai bidangnya masing-masing diantaranya :

1)      Bidang Kurikulum

2)      Bidang Kesiswaan

3)      Bidang Humas

4)      Bidang Sarana dan Prasarana

Selain itu petugas dan pengelola kelas yang turut berperan adalah sebagai berikut :

  • Guru-guru tenaga pengajar yang mempunyai tugas dan tanggung jawab besar dalam mendidik sesuai tujuan pendidikan.
  • Petugas BP yaitu petugas yang diserahi tanggung jawab melaksanakan bimbingan dan penyuluhan.
  • Tata Usaha (TU) petugas administrasi yang mengurusi kegiatan ketatausahaan.

Organisasi dari Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng tersebut dapat dilihat seperti pada struktur organisasi dibawah ini :

STRUKTUR ORGANISASI

Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng Madiun

3.   Letak geografis Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng Madiun.

Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng Madiun terletak di Desa Sumbergandu Kecamatan Pilangkenceng Kabupaten Madiun, letak geografisnya sangat strategis yaitu dekat dengan jalan raya yang merupakan jalur angkutan pedesaan Caruban Pilangkenceng Krebet, sehingga memudahkan bagi siswa untuk pergi ke sekolah tersebut.

Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng Madiun berbatasan dengan :

l  Sebelah Utara              :  Desa Kenongorejo

l  Sebelah Timur             :  Desa Kedungrejo

l  Sebelah Selatan           :  Desa Karangtengah

l  Sebelah Barat              :  Desa Pilangkenceng

4. Sarana dan Prasarana Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng Madiun.

Gedung merupakan salah satu syarat terpenting dalam pendidikan, karena gedung merupakan tempat terjadinya proses belajar mengajar antara guru dengan siswa dalam meyampaikan dan mendiskusikan materi pelajaran.

Gedung yang dimiliki Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng Madiun adalah sebagai berikut :

a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

j.

Ruang Kepala Madrasah

Ruang Guru

Ruang Tata Usaha

Ruang UKS

Ruang Perpustakaan

Ruang BP

Ruang Kelas

Tempat Ibadah

Toilet

Ruang Kantin

: 1 Lokal

: 1 Lokal

: 1 Lokal

: 1 Lokal

: 1 Lokal

: 1 Lokal

: 1 Lokal

: 1 Lokal

: 1 Lokal

:1 Lokal

B. Keadaan Karyawan, Guru dan Murid Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng Madiun

  1. 1. Tenaga guru Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng Madiun

Guru merupakan faktor yang sangat penting di dalam proses belajar mengajar, oleh karena itu pribadi, kecakapan, kewibawaan serta metode mengajar yang ada sangat menentukan dalam pencapaian pendidikan.

Adapun dewan guru yang ada di Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng semuaya berjumlah 26 orang, baik dari Kepala Madrasah sampai pegawai TU.

Berikut ini adalah nama-nama pegawai yang mengajar di Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng Madiun :

  1. 2. Keadaan Anak Didik

Siswa atau anak didik adalah subyek dalam pendidikan, maka pusat situasi pendidikan adalah siswa. Adapun keadaan siswa/ anak didik di Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng Madiun adalah sebagai berikut:

C.  Keadaan Sarana Prasarana

Dalam pelaksanaan program belajar mengajar hampir semua mata pelajaran memakai metode atau cara yang telah ditentukan banyak metode yang digunakan dalam penyajian proses belajar mengajar, tetapi tidak semuanya dipakai, melainkan hanya beberapa macam metode.

Metode-metode trsebut adalah sebagai berikut :

  1. Metode Ceramah

Metode ini digunakan untuk memperjelas secara sistematis dengan jalan memberikan keterangan secara jelas pada siswa.

Metode ini harus didukung dengan metode-metode yang lain, yang ada hubungannya dengan materi yang diajarkan.

  1. Metode Demonstrasi.

Metode ini digunakan setelah anak mendapatkan materi dari guru secara sistematis, dan untuk melihat secara jelas tentang penguasaan siswa terhadap ilmu pengetahuan yang telah mereka terima (Ibadah Shalat)

  1. Metode Pemberian Tugas

Metode pemberian tugas adalah untuk melatih anak agar bisa mengerjakan shalat secara rutin dan mendalami terhadap materi yang telah diterima dari guru bidang studi (fiqih) serta memupuk rasa kesadaran atas kewajiban sebagai seorang muslim terhadap ibadah shalat.

D. Faktor-faktor Pengajaran Ibadah Shalat

Ada beberapa hal yang mempengaruhi siswa pada pelaksanaan ibdah shalat diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Faktor Siswa

Sejak lahir siswa hidup dalam lingkunag yang enggan melaksanakan shalat, karena kesadaran siswa sangat lemah, hal ini memerlukan pengertian yang harus ditanam dalam pribadi anak tentang wajibnya ibadah shalat bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Faktor Pendidik

Dalam pembentukan manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT maka pemerintah lewat Departemen Agama mengangkat dan menugaskan guru yang profesional dalam bidang agama untuk mengajar di lembaga yang agamis agar produk dan lulusan dari madrasah tersebut sudah terbiasa melaksanakan ibdah shalat dan menjadi uswatun hasanah bagi masyarakat sekitar.

  1. Faktor Kurikulum

Pendidikan agama pada Madrasah Tsanawiyah Negeri Pilangkenceng Madiun mendapat tempat yang diprioritaskan karena kurikulum yang dipakai dari Departemen Agama dan juga menerapkan kurikulum yang diterapkan di departemen Pendidikan Nasional (Dikbud)

  1. E. Problematika Pengajaran Ibadah Shalat

Problematika adalah hal-hal yang menimbulkan masalah dalam ibdah shalat berkaitan dengan faktor, metode dan hal-hal lain yang berhubungan dengan ibadah shalat.

Mengingat terbatasnya waktu dan sarana yang diperlukan maka penulis kemukakan beberapa problem sebagai berikut :

  1. 1. Perhatian siswa terhadap ibadah shalat

Mengingat siswa cukup banyak maka cara berfikir dan memperhatikan, menangkap dan sebagainya tidak sama. Demikian juga perhatian pada ibadah shalat juga tidak sama.

Umpamanya siswa yang memperhatikan kepada materi yang diterangkan oleh gurunya tentang ibadah shalat akan berbeda dalam menjawab dibandingkan dengan siswa tidak memperhatikan diwaktu guru memberikan keterangan. Hal ini sesuai kata Profesor A Ghazali MA dalam bukunya Ilmu Jiwa Umum sebagai berikut: Perhatian adalah keaktifan jiwa yang tinggi, jiwa itupun semata-mata terwujud kapada satu objek.

  1. 2. Pengaruh Lingkungan

Menurut Profesor A. Ghazali MA lingkungan biasanya adalah akibat perhatian yang sangay terpusat sehingga kesan-kesan yang lain dapat meresap dalam diri orang itu. Pendapat tersebut diatas dapat difahami bahwa akibat pengaruh lingkungan dapat menimbulkan problem terhadap belajar-mengajar, maka hal tersebut memerlukan pemecahan secara sistematis dan praktis.

  1. 3. Pengaruh Sarana dan Prasarana

Guna mencegah timbulnya problem dalam pelaksanaan ibadah shalat hendaknya diwujudkan keserasian antara sarana dan prasarana dengan materi yang diajarkan khususnya ibadah shalat.

Sesuai dengan sabda Nabi saw yang artinya “ apabila diserahkan sesuatu kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya”.

Hadits diatas dapat diambil pengertian bahwa sesuatu perkara dan masalah hendaknya diserahkan kepada yang bersangkutan. Hal ini tidak hanya untuk manusia saja tetapi dapat diterapkan sebagai dasar untuk yang lain. Seperti keserasian prasarana dalam ibadah shalat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: