skripsi4

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Bahwasanya pendidikan keluarga merupakan salah satu pendidikan sekolah yang bersama-sama pemerintah ikut serta bertanggung jawab atas berlangsungnya pendidikan, disamping sebagai tempat penanaman keyakinan beragama, nilai, norma dan ketrampilan. Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 1 dan 13 tentang “Sistem Pendidikan Nasional” yang berbunyi :

Ayat 1 : Pendidikan adalah usaha sadar dan berencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Ayat 13 :   Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan (UU RI, Sistem Pendidikan Nasional : 3-4)

Dijelaskan bahwa pendidikan keluarga merupakan sebagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang bersama-sama pemerintah bertanggung jawab atas kelangsungan pendidikan anak yang proses kegiatan belajar mengajarnya diselenggarakan di dalam keluarga.

Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dikenal anak secara alami yang memiliki kesempatan besar untuk mewarnai pribadi anak. Mendidik dan membimbing anak yang masih dalam keadaan suci bersih dari goresan suatu apapun menjadi muslim yang sejati dilandasi dengan akhlakul kharimah. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi yang berbunyi sebagai berikut :

ﻋﻦﺍﺑﻰ ﻫﺭ ﻴﺭ ﺓ ﺍﻧﻪ ﻜﺎ ﻦ ﻴﻗﻭ ﻞ ׃ ﻗﺎ ﻞ ﺭ ﺴﻭ ﻞ ﺍﷲ ﺺ ﻢ ׃ ﻤﺎ ﻤﻦ ﻤﻭ ﻟﺪ ﺍﻟﺪ ﻴﻭ ﻟﺪ ﻋﻟﻰ ﺍﻟﻓﻄﺮ ﺓ ﻓﺎ ﺑﻭﺍ ﻩ ﻴﻬﻭ ﺪ ﺍ ﻧﻪ ﻮ ﻴﺺ ﺍﻧﻪ ﻭ ﻴﺍ ﻨﻪ ﻻ ﺠﺳﺎ ﻨﻪ

Artinya : Dari Abu Hurairah bahwasannya ia berkata Rasulullah SAW bersabda : “tidak ada seorangpun anak yang baru lahir melainkan dia dalam keadaan suci bersih, kedua orang tualah yang menyebabkan dia menjadi yahudi, nasrani atau majusi” (H. R Imam Muslim) (Fahrudin H.S, Hadits-Hadits Pilihan : 408)

Dan firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat At-tahriim ayat 6 yang berbunyi sebagai berikut :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR ÇÏÈ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka … (Q.S At tahriim : 6 ) (Depag RI, Al Qur’an dan terjemahannya : 951)

Dari dalil Al Qur’an dan hadits tersebut di atas secara jelas menunjukkan betapa dominannya pengaruh keluarga (orang tua) terhadap pendidikan anak.

Bahwasanya keadaan keluarga merupakan salah satu faktor dari faktor-faktor sosial yang dapat menentukan kemajuan anak didik. Statement yang demikian ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Drs. Ali Syaifullah dalam bukunya “Faktor-faktor dalam kemajuan murid adalah keadaan keluarga pelajar, seperti jumlah saudara, tingkat status sosial, akademis dan ekonomis, dan pola pendidikan dalam keluarga, serta sikap orang tua terhadap pendidikan. (Tim Dosen FKIP IKIP Malang, Pengantar Dasar-dasar Pendidikan : 96-97)

Dan dengan adanya realita dalam masyarakat, dimana orang tua masih banyak yang kurang menyadari terhadap tanggung jawabnya sebagai sosok yang terkait langsung dengan proses pendidikan anak. Sebagai sosok yang mempunyai kesempatan yang pertama dan utama, orang tua sering mempercayakan sepenuhnya kepada pendidikan sekolah. Memang ada orang tua yang demi pendidikan anaknya, dia rela menyisihkan waktunya sedikit diantara kesibukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memberi bimbingan terhadap anaknya. Sementara masih ada orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anaknya. Banyak diantara mereka (orang tua murid) yang selalu menyibukkan diri dengan bekerja. Bahkan banyak juga orang tua yang malah menghambat anak untuk dapat menampilkan prestasi.

Sedangkan permasalahan yang dihadapi siswa SDN Babadan 1 Paron Ngawi adalah :

  1. Banyak siswa yang enggan mengerjakan tugas
  2. Banyak siswa yang absen dalam proses belajar mengajar
  3. Nilai prestasi anak tergolong rendah

Dari statement-statement tersebut di atas serta adanya rebilitas yang ada pada masyarakat, maka penulis menyusun skripsi ini dengan judul “Studi Tentang Pengaruh Pendidikan Keluarga Terhadap Prestasi Belajar Anak Didik SDN Babadan 1 Paron Ngawi”.

  1. Penegasan Judul

Untuk menghindari adanya kesalahpahaman dalam mamahami judul “Studi Tentang Pengaruh Pendidikan Keluarga Terhadap Prestasi Belajar Anak Didik SDN Babadan 1 Paron Ngawi” maka dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Studi : Dalam kamus besar bahasa Indonesia studi mempunyai arti penelitian ilmiah (Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia : 1093)
  2. Pengaruh : Dalam kamus besar bahasa Indonesia istilah pengaruh menunjukkan arti daya yang ada atau tumbuh dari suatu (orang/benda) yang ikut membentuk watak. Kepercayaan atau perbuatan seseorang (Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia : 849)
  3. Pendidikan keluarga, pengertian pendidikan ditulis oleh Drs. Amir Daren Indrakusuma, sebagai berikut :

Pendidikan ialah suatu usaha yang sadar yang teratur dan sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang yang disertai tanggung jawab untuk mempengaruhi anak agar mempunyai sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan. (Drs. Amir Daren Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan : 27)

Sedangkan keluarga adalah tempat untuk belajar bermacam-macam hal (Sutari Imam Bernadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis : 120)

Jadi pendidikan keluarga adalah pendidikan yang pertama dan utama bagi anak dan berbagai hal.

4.   Prestasi Belajar Anak Didik

Istilah “Prestasi” mempunyai arti hasil yang telah dicapai. (Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia : 895). Sedangkan “Belajar” adalah perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. (Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia : 12)

Kemudian arti dari anak didik adalah anak yang sedang berkembang. (Sutari, Pengantar Ilmu Pendidikan : 78)

Jadi yang dimaksud dengan prestasi anak didik disini adalah hasil optimal yang telah dicapai oleh anak didik bakat keuletan dalam belajar.

5.   SDN Babadan 1 adalah sebagai obyek penelitian skripsi

Berangkat dari pengertian-pengertian yang tersebut di atas maka yang dimaksud dengan judul ”Studi Tentang Pengaruh Pendidikan Keluarga Terhadap Prestasi Belajar Anak Didik SDN Babadan 1 Paron Ngawi” ini adalah melakukan penyelidikan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh pendidikan keluarga terhadap prestasi belajar anak didik pada SDN Babadan 1 Paron Ngawi.

  1. Perumusan Masalah
    1. Bagaimana pelaksanaan pendidikan keluarga dalam meningkatkan prestasi belajar anak didik pada SDN Babadan 1 Paron Ngawi
    2. Adakah pengaruh pendidikan keluarga dalam meningkatkan prestasi belajar anak didik pada SDN Babadan 1 Paron Ngawi
    3. Sejauh mana pengaruh pendidikan keluarga terhadap prestasi belajar anak didik pada SDN Babadan 1 Paron Ngawi
  2. Tujuan dan Penggunaan Penelitian

Tujuan Penelitian :

  1. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pendidikan keluarga terhadap prestasi belajar anak didik SDN Babadan 1 Paron Ngawi
  2. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pendidikan keluarga terhadap prestasi belajar anak didik SDN Babadan 1 Paron Ngawi

Kegunaan Penelitian :

  1. Bagi penulis, diharapkan dapat menemukan temuan-temuan baru yang berguna untuk mengembangkan pelaksanaan kegiatan belajar untuk mendapat prestasi belajar yang memuaskan
  2. Bagi pendidik, hasil penelitian digunakan sebagai bahan masukan dalam meningkatkan prestasi belajar anak didik
  3. Bagi siswa, sebagai motivasi untuk lebih meningkatkan prestasinya di sekolah
  4. Bagi orang tua, sebagai pedoman agar lebih memperhatikan pergaulan dan bimbingan terhadap anaknya
  1. Alasan Memilih Judul

Sudah menjadi kebiasaan atau keharusan dalam penulisan karya ilmiah ini ada beberapa alasan tertentu sebagaimana argumentasinya. Adapun alasannya yang melandasi dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

  1. Timbulnya gejala umum yang menunjukkan adanya perubahan watak keluarga sebagai sebagai pusat pertama dan utama semakin berkurang fungsinya, sehingga kepercayaan anak terhadap orang tua sebagai pendidik semakin berkurang pula
  2. Sebagai mahasiswa fakultas Tarbiyah STITI KP Paron Ngawi sudah barang tentu sebagai calon pendidik, maka dalam hal ini penulis ingin mengetahui sampai seberapa jauh pengaruh pendidikan keluarga terhadap prestasi belajar anak khususnya di SDN Babadan 1 Paron Ngawi
  3. Sepanjang pengetahuan peneliti , belum ada orang yang membahas masalah ini atau meneliti, khususnya di SDN Babadan Paron Ngawi
  4. Lokasi penelitian berdekatan dengan tempat  tinggalm sehingg dapat mengurangi biaya.
  5. Hipotesa

Hipotesa adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian (Suharsini, Prosedur Penelitian : 167)

Dengan berdasarkan pada pokok masalah dan anggapan dasar yang harus diuraikan, maka penulis mengetengahkan hipotesa sebagai berikut :

Hi  : “Ada pengaruh pendidikan keluarga terhadap prestasi belajar anak didik SDN Babadan 1 Paron Ngawi”

Ho  : “Tidak ada pengaruh pendidikan keluarga terhadap prestasi belajar anak didik SDN Babadan 1 Paron Ngawi”

  1. Sistematika Pembahasan

Agar dapat urut-urutan dalam bahasan skripsi ini maka disusunlah sistematika pembahasan mulai dari bagian preliminaries hingga akhir skripsi ini sebagai berikut :

Bab I : PENDAHULUAN pada bab ini dibahas secara runtut mengenai Latar belakang masalah, penegasan judul, perumusan masalah, tujuan dari kegunaan penelitian, alasan memilih judul, hipotesis dan sistematika pembahasan.

Bab II: LANDASAN TEORI pada bagian ini menjelaskan tinjauan tentang pendidikan keluarga, tinjauan tentang prestasi belajar serta pengaruh pendidikan keluarga terhadap prestasi belajar anak.

Bab III : METODE PENELITIAN pada bagian ini memuat tentang populasi dari sampel, metode-metode data dan metode yang digunakan untuk menganalisa data.

Bab IV: LAPORAN HASIL PENELITIAN dalam bab ini dimuat gambaran umum lokasi penelitian dan penyajian dan analisa data.

Bab V : KESIMPULAN pada bab ini berisi tentang kesimpulan akhir ini, saran-saran dan penutup sedangkan bagian paling akhir skripsi ini dikemukakan daftar kepustakaan, daftar lampiran-lampiran dan daftar ralat (jika ada)

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Tantang Pendidikan Keluarga

1.   Pengartian Pendidikan Keluarga

Sebelum membicarakan pengertian pendidikan keluarga maka perlu kiranya diketahui pengertian pendidikan secara umum sebagai titik tolak memberikan pengertian pendidikan keluarga.

Pendidikan merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan. Setiap orang pasti mengalaminya, apalagi dalam masyarakat yang sudah modern seperti sekarang ini. Pendidikan sama sekali tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan, hidup adalah pendidikan dan pendidikan adalah hidup.

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan kita berpendapat bahwa ada tiga lingkungan dalam sistem pendidikan. Pendapat ini juga banyak dijumpai dalam buku pendidikan. Dalam pendidikan dikenal ada tiga lingkungan pendidikan, yaitu :

  1. Lingkungan keluarga
  2. Lingkungan Sekolah
  3. Lingkungan Masyarakat (Amien Dalen Indrakusuma;Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 108-109)

Menurut Juan Luis Vives bahwa pendidikan dapat dikutip bahwa pendidikan adalah suatu usaha yang sadar yang teratur dan sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang yang disertai tanggung jawab untuk mempengaruhi anak agar mempunyai sifat dan target sesuai dengan cita-cita pendidikan. Dan dalam buku yang sama dapat didefinisikan lebih jelas lagi bahwa pendidikan adalah bantuan yang diberikan dengan sengaja kepada anak dalam pertumbuhan jasmani maupun rohaninya untuk mencapai tingkat dewasa. ( Amin Dalen Indrakusuma;Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 27)

Sedangkan pendidikan yang termuat dalam buku aliran-aliran baru dalam pendidikan adalah salah satu usaha untuk memberikan segala nilai-nilai kebatinan yang ada pada hidup rakyat yang berkebudayaan kepada tiap-tiap turunan baru (cultuur overdracht), tidak berupa pemeliharaan , akan tetapi juga dengan maksud memajukan serta mengembangkan kebudayaan menuju kearah keluhuran kehalusan hidup kemanusiaan. (YB. Suparlan;Aliran-aliran Baru Dalam Pendidikan, hal. 116)

Menurut pandangan John Dewey didasarkan atas aliran progmatisme pendidikan adalah suatu pengetahuan berdasarkan atas berguna atau tidak bergunanya dalam kehidupan menusia. Apa yang tidak berguna tidak perlu diajarkan di sekolah, sebaliknya apa yang menguntungkan bagi hidupnyalah yang diajarkan. (YB. Suparlan;Aliran-aliran Baru Dalam Pendidikan, hal. 74)

Sedangkan menurut Don Bosco bahwa pendidikan adalah cinta dan pengawasan yang kontinyu (berkesinambungan) dengan suka rela (ikhlas). (YB. Suparlan;Aliran-aliran Baru Dalam Pendidikan, hal. 69-70)

Dari pendapat-pendapat tersebut dapat diambil pengertian bahwa pendidikan adalah berlangsung seumur hidup dan sekaligus menjadi tanggung jawab antara keluarga, masyarakat dan pemerintah serta dilakukan dengan sengaja dan sadar oleh pendidik terhadap anak didik untuk mengembangkan potensi yang ada, baik jasmani atau rohani, supaya anak didik itu menjadi lebih dewasa.

Sedangkan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang primer dan fundamental sifatnya. Disini anak dibesarkan memperoleh pertemuan-pertemuan dalam belajar yang memungkinkan dirinya untuk berkembang lebih lanjut. Disini pulalah anak pertama kali akan mendapat kesempatan menghayati pertemuan-pertemuan dengan sesama manusia bahkan memperoleh perlindungan yang pertama. (Aly. H. Gunawan;Kebijaksanaan-kebijaksanaan Pendidikan, hal. 101)

Pendidikan keluarga adalah berkaitan dengan prestasi belajar anak didik maksudnya adalah bimbingan yang dilakukan orang tua dengan sengaja dan terarah, sehingga mencapai tujuan menjadi manusia yang berpribadi dan berguna bagi masyarakat. Maka tidak bisa disangkal lagi betapa pentingnya pendidikan dalam lingkungan keluarga.

Pada pembahasan di atas disebut bahwa keluarga merupakan salah satu lembaga yang ikut bertanggung jawab dalam melaksanakan pendidikan yaitu ikut menentukan berhasil atau tidaknya pendidikan anak.Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang utama dan pertama, karena didalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan . Dikatakan utama karena didikan dan bimbingan anak itu paling banyak dilaksnakan dalam lingkungan keluarga.

Hal ini sesuai dengan hadits nabi yang berbunyi :

ﻋﻦ ﺍﺑﻰ ﻫﺭ ﻴﺭ ﺓ ﺍﻦﻪ ﻜﺎ ﻦ ﻴﻗﻭ ﻞ ﻗﺎ ﻞ ﺭ ﺴﻭ ﻞ ﺍﷲ ﺺ ﻢ ﻤﺎ ﻤﻦ ﻤﻭ ﻠﻭ ﺪ ﺇﻻ ﻴ ﻠﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻠﻔﺎ ﺑﻭﺍ ﻩ ﻴﻬﻭﺪﺍﻨﻪ ﻭ ﺑﻬﺭﺍﻨﻪ ﻭ ﻴﻤﺤﺴﺎ ﺑﻪ (ﺍ ﻤﺎ ﻢ ﻤﺴﻟﻰ ﻢ )

Artinya : Dari Abu Hurairah r.a Rasulallah S.A.W bersabda : “Setiap yang dilahirkan , lahir dalam keadaan fitrah (suci) artinya agama Islam. Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu yahudi, nasrani atau majusi”. (H. R Imam Bukhori)

Kemudian sejauh mana batasan lingkungan keluarga, berikut ini dikutip pendapat dari Drs. Sudarmanto, S. H yang mengatakan bahwa : “Sebagian besar anak dibesarkan oleh keluarga disamping itu kenyataan menunjukkan bahwa di dalam keluarga inilah anak mendapatkan pendidikan dan pembinaan yang pertama kali. Pada dasarnya keluarga merupakan lingkungan paling dekat dan kuat di dalam mendidik anak terutama bagi anak-anak yang belum memasuki bangku sekolah. Berarti seluk beluk kehidupan keluarga memiliki pengaruh yang paling mendasar dalam perkembangan anak”. (Drs. Sudarmanto, S. H;Etika Islam tentang kenakalan remaja,hal. 19)

Dari pendapat tersebut di atas dikatakan bahwa orang tua merupakan anggota keluarga yang paling utama diantara anggota-anggota keluarga yang lain. Hal ini disebabkan karena adanya anak atau kelahiran anak di dunia. Ini tidak adalah merupakan akibat langsung dari perbuatan antara kedua orang tua. Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam pendidikan anak. Berdasarkan atas adanya hubungan yang bersifat kodrati antara anak dan orang tua.

Menurut Ki Hajar Dewantara dalam buku peran pendidikan agama terhadap pemecahan problema remaja mengatakan “In her ver leden light hot heden. In het nuwat warden zat” dengan maksud zaman sekarang dibentuk oleh zaman lampau, masa yang akan datang ditentukan oleh keadaan sekarang. Ia juga menyebutkan semboyan yang berbunyi “Wie de jengd heeff, heeff de toekomst” maksudnya ialah siapa yang mempunyai remaja, maka hari depan berada ditangannya. (H. Sahilun A. N.;Peranan Pendidikan Agama Terhadap Pemecahan Problem remaja, hal. 15)

Dari pendapat tersebut di atas mengisyaratkan suatu petunjuk bahwa orang tua mempunyai peluang yang sangat baik untuk membina anak baik wataknya, kepribadiannya, mentalitasnya maupun intelektualnya untuk masa yang akan datang. Jadi segala tingkah laku perbuatan orang tua yang diketahui oleh anak sudah barang tentu akan ditirunya.

Dari uraian tersebut di atas maka dapatlah diambil suatu pengertian bahwa pendidikan keluaga adalah bimbingan atau pimpinan yang dilakukan oleh orang tua atau anggota keluarga yang lain dengan sadar atau tidak sadar terhadap anak didik untuk menjadi manusia sosial dan agamis. Dalam hal ini dalam penetapan presiden no. 19 th 1965 yang berbunyi : “Tujuan pendidikan nasional kita, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta, dari pendidikan prasekolah sampai perguruan tinggi, supaya melahirkan warga negara-warga negara sosialis Indonesia yang susila yang bertanggung jawab atas selenggaranya masyarakat sosialis Indonesia, adil dan makmur baik spiritual maupun material dan yang berjiwa pancasila yaitu ketuhanan yang maha esa, perikemanusiaan yang adil dan beradab, kebangsaan, kerakyatan, keadilan sosial. (Amin Dalen Indrakusuma;Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 79.)

2.   Dasar dan tujuan Pendidikan Keluarga

a.   Dasar Pendidikan Keluarga

Lingkungan keluarga adalah merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan. Dan dikatakan lingkungan yang terutama karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga. (Amin Dalen Indrakusuma;Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 109)

Selain itu juga berfungsi sebagai lingkungan anak yang faktor-faktor kondisional dan situasional lingkungan keluarga tersebut dapat memberikan pengaruh menguntungkan atau merugikan pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam menanamkan dasar pendidikan moril, dimana pendidikan ini tidak diberikan dengan penerangan atau ceramah, tetapi melalui contoh-contoh yang kongkrit dalam perbuatan sehari-hari. Dalam hal ini observasi terhadap orang tua dilakukan selama pembimbing berhadapan dengan orang tua : bagaimana keadaan fisik, mental, emosi dan sikapnya terhadap anak. Beberapa hal yang dapat diamati, yaitu :

  1. Orang tua yang terlau cemas terhadap kesehatan anaknya, mungkin terlalu melindungi anak, sehingga pada anak timbul sifat-sifat penakut
  2. Orang tua yang terlalu memanjakan anak, maka anaknya menjadi seorang yang penuntut
  3. orang tua yang bersifat tidak mempedulikan anak, sehingga timbul sikap mendendam (Singgih D Gunausa;Psikologi untuk membimbing, hal. 57-58)

Oleh karenanya usaha-usaha pendidikan keluarga sebagai lingkungan utama dan pertama adalah penting sekali dengan berdasarkan :

  1. Firman Allah SWT dalam surat At Tahriim ayat 6 dan surat Asy Syu’ara ayat 214

Surat At Tahrim ayat 6 yang berbunyi sebagai berikut :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR ÇÏÈ …

artinya : “Hai orang-orang yang beriman periharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka … (Q.S. At Tahriim : 6) (Depag RI, Al Qur’an dan terjemahan : 560)

Surat Asy-Syu’araa ayat 214 yang berbunyi sebagai berikut :

ö‘É‹Rr&ur y7s?uŽÏ±t㠚úüÎ/tø%F{$# ÇËÊÍÈ

Artinya : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (Q. S Asy Syu’araa : 214) (Depag RI, Al Qur’an dan terjemahan : 376)

  1. Hadist Nabi SAW yang berbunyi

ﻋﻦ ﺟﺎ ﺑﻰ ﺑﻦ ﺳﻤﺮ ﺓ ﻗﺎ ﻞ ﺭﺴﻮ ﻞ ﺍﷲ ﺼﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻮ ﺴﻠﻢ ﻻ ﻦ ﻴﻮ ﺪ ﺐ ﺍﻠﺭ ﺠﻞ ﻮ ﻠﺪ ﻩ ﺧﻴﺭ ﻤﻦ ﺍﻦ ﻴﺘﺻﺪﻖ ﺒﺻﺎ ﻉ (ﺭﻮﺍﻩﺍﻟﺗﺭﻤﺫﻲ)

Artinya : dari Jabir bin Samurah r.a. berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sungguh bila seseorang memberi pendidikan kepada anaknya, ia adalah lebih dari pada ia bersedekah satu sha”. (H. R. At Tirmidzi)

  1. Undang-undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia

“Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anak”. (UURI;Sistem Pendidikan Nasional,hal. 7)

Orang tua dari anak usia wajib belajar berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya.” (UU RI, Sistem Pendidikan Nasional,hal. 7)

Sudah sewajarnya bila segenap keluarga mendambakan suatu rumah tangga yang baik dan ideal serta penuh dengan kebahagiaan dalam keluarga. Maka harus terpenuhilah suatu kebutuhan jasmani dan rohani termasuk makan, perumahan, uang, emosi, sosial, pendidikan dan sebagainya.

b.   Tujuan Pendidikan Keluarga

Setiap orang tua selalu menginginkan anaknya menjadi orang yang berkembang secara sempurna. Mereka menginginkan anak yang dilahirkan itu kelak menjadi orang yang sehat, kuat, berketrampilan, cerdas, pandai serta beriman.

Sesuai dengan bahasan di atas, bahwa keluarga sebagai lembaga atau lembaga badan pertama dan utama yang terpenuhi oleh kebutuhan jasmani dan rohani, maka pendidikan dalam keluarga harus merupakan pendidikan dan pengajaran pendahuluan atau persiapan bagi pendidik pada lembaga sekolah atau masyarakat. Dan oleh karena itu, pendidikan dalam rumah tangga harus mempunyai tujuan, sedang tujuannya itu ialah “ agar anak mampu berkembang secara maksimal.” Hal ini meliputi seluruh aspek perkembangan anak, yaitu perkembangan jasmani, rohani dan akal.

Dari sini nampak jelas, bahwa fungsi dan tujuan pendidikan sangat diperlukan dalam rangka menanamkan nilai pengetahuan pada anak, mencapai kebahagiaan dan keberhasilan dalam membentuk dan membina rumah tangga bahagia dunia dan akhirat.

3.   Bentuk-bentuk Pendidikan Keluarga

Pendidikan kelurga dalam kaitannya dengan prestasi belajar anak didik yang dimaksudkan adalah bimbingan yang sengaja dan terarah yang dilakukan oleh orang tua dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi belajar anaknya di sekolah, disamping pegaulan dan perlakuan orang tua yang juga ikut mempengaruhi tentang keberhasilan yang dicapai oleh anak di sekolah.

“Pendidikan keluarga sangat penting mengingat keluarga menerima anak dalam keadaan belum biasa berbicara, belum memiliki pengalaman dan belum dapat menggunakan sarana komunikasi kemudian keluarga memulai proses sosial anak dari kondisi “belum berupa apa-apa”, membantunya secara bertahap untuk berinteraksi dengan segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan dan fisik serta mempersiapkannya untuk memasuki lembaga-lembaga masyarakat dan berbagai aktivitas kehidupan pada umumnya”. (Hery Noer Aly M. A ; Watak Pendidikan Islam, hal. 204)

Dengan demikian, bentuk-bentuk pendidikan yang dimaksudkan tersebut penulis menggolongkan dalam dua sub bahasan yaitu mengenai bimbingan orang tua kepada anak dan pergaulan, perlakuan orang tua kepada anak, yang pembahasannya sebagai berikut :

  1. Bimbingan Orang Tua Kepada Anak

Bimbingan atau guidence secara umum dapat dikatakan sebagai bantuan atau tuntunan dari seseorang kepada orang lain yang memerlukannya, namun untuk memperoleh pengertian yang sebenarnya kita harus ingat bahwa tidak semua bantuan itu dikatakan bimbingan, ada bantuan yang tidak termasuk bimbingan seperti kalau pada waktu ujian ada seorang guru yang membisikkan jawaban pada seorang murid, ini adalah bantuan yang tidak termasuk katagori bimbingan.

Sebagaimana penulis kutipkan beberapa pengertian bimbingan sebagai berikut :

Menurut A. J Jones bimbingan adalah pemberian bantuan oleh seseorang kepada orang lain dalam menentukan pilihan, penyesuaian dan pemecahan permasalahan. (Y. Singgih D Gunarso ; Psikologi Untuk Bimbingan, hal. 11)

Menurut L. D. Crow dan A. Crow bimbingan adalah bantuan yang dapat diberikan oleh probadi yang terdidik dan wanita atau pria yang terlatih, kepada setiap individu yang usianya tidak ditentukan untuk dapat menjalani kegiatan hidup. Mengembangkan sudut pandangnya, mengambil keputusannya sendiri dan menanggung bebannya sendiri. (Y. Singgih D Gunarso ; Psikologi Untuk Bimbingan, hal. 11)

Adapun istilah “bimbingan” yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah bimbingan yang dapat menunjang keberhasilan belajar anak di sekolah. Oleh karena itu bimbingan yang diberikan haruslah bimbingan yang berkaitan dengan kegiatan belajar anak selama dalam lingkungan keluarga. Bimbingan dan arahan orang tua sangatlah diharapkan, tanpa demikian anak mengalami kesulitan belajar. Menentukan materi pelajaran atau memcahkan persolan. Persoalan yang sulit diatasi. Dimana dalam hal ini akan dapat mengurangi kesemangatan dan kegairahan untuk belajar atau anak mau balajar akan tetapi kurang terarah dan kurang efisien waktu.

Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat “Orang tua juga memberikan bimbingan yang akan menjadi dasar dari pembinaan mental sehingga pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak terarah. Tidak diserahkan begitu saja kepada sekolah”. (Drs. Moh Anam ; Peranan Pendidikan Agama Dalam Pembinaan Moral Remaja, hal. 44)

Adapun bimbingan dari orang tua disamping secara teknis dapat membantu kelancaran anak dalam belajar secara psikologis akan membantu semangat anak, hal ini disebabkan karena semakin tebal kepercayaan anak bahwa memperoleh perhatian yang cukup. Kasih sayang yang tulus yang akhirnya akan membawa timbulnya perasaan yang tenang dan damai jiwanya, karena mereka merasa mempunyai orang tua yang bertanggung jawab dan ikut memikirkan apa yang menjadi kesulitan anak diwaktu balajar. Kalau hal itu benar-benar dilakukan orang tua maka anak akan lebih senang tinggal di rumah dan belajar dengan baik.

Bimbingan orang tua kepada anak lebih baik dan mantap apabila ditanamkan pendidikan agama islam kepadanya seperti yang dicontohkan oleh Luqman terhadap anaknya yang tersebut dalam Al Qur’an surat Luqman ayat 13 yang berbunyi :

øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8Ύô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ

artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya diwaktu memberikan pelajaran kepadanya : “Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersukutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Q. S. Luqman : 13) (Depag RI, Al Qur’an dan terjemahan : 412)

Selanjutnya mengenai bimbingan orang tua kepada anak yang penulis maksudkan bimbingan dalam bentuk motivasi, uga orang tua hendaknya menyediakan fasilitas belajar, mengawasi kegiatan belajar anak di rumah, mengawasi pengguaan waktu belajar anak di rumah, mengenal kesulitan-kesulitan anak dalam belajar dan menolong anak mengatasi kesulitannya dalam belajar.

Oleh karena itu dalam hal ini, ciri-ciri bimbingan yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya adalah :

  1. Bimbingan Dalam Memberikan Motivasi Belajar

Menurut Drs. Amin D. I motivasi belajar adalah kekuatan-kekuatan atau tenaga-tenaga yang dapat memberikan dorongan kepada kegiatan belajar murid. (Drs. Amin D. I : Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 162)

Sedangkan menurut Mc. Donald motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang dilandasi dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Prof. Dr. Oemar Hamalik ; Proses Belajar Mengajar, hal. 158)

Jelaslah disini bahwa dalam kegiatan belajar yang dilakukan oleh anak perlu adanya dorongan atau motivasi dari orang tuanya, sebab motivasi belajar adalah sebagai penunjang keberhasilan anak dan hasilnya akan mencapai optimal kalau ada motivasi yang diberikan. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan semakin berhasil pula. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intesitas usaha belajar bagi anak didik.

  1. Bimbingan Pengaturan Waktu dan Disiplin Belajar

Perlu diketahui bahwa sebagian besar waktu yang dimiliki anak adalah di rumah, maka agar waktu yang ada tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal perlu adanya bimbingan dari orang tua, dengan jalan pengaturan waktu dan disiplin belajar. Sebagaimana pendapat Soegeng Prijedarminto “Disiplin akan tumbuh dan dapat dibina melalui latihan pendidikan, penanaman kebiasaan dan keteladanan. Pembinaan itu dimulai dari lingkungan keluarga sejak kanak-kanak. (Tulus Tu’u S. TH. MM. Pd ; Peran Disiplin Pada Perilaku Prestasi Siswa, hal. 50)

Tentang penanaman disiplin waktu ini sebenarnya sudah disyaratkan dengan tegas dalam Al Qur’an surat An-Nisa’ ayat 103 tentang shalat, yang berbunyi :

¨¨bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. ’n?t㠚úüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ

artinya : “… sesungguhnya shalat itu adalah fardlu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Q. S. An Nisaa’ : 103) (Depag RI, Al Qur’an dan terjemahan : 95)

dari dalil tersebut dapat diambil pengertian bahwa shalat itu sudah diatur waktunya dan lebih baik (afdhol) kalau waktu-waktu shalat itu dilakukan tepat pada awal shalat, shalat tidak ditunda-tunda. Keteraturan shalat dapat melatih anak untuk berbuat atau melakukan pekerjaan dengan disiplin. Dengan keteraturan waktu shalat ini akan membawa dampak pada pekerjaan-pekerjaan lain yang dilakukan oleh anak termasuk waktu belajarnya.

Dalam masalah disiplin belajar ini langkah-langkah yang diambil dalam rangka menanamkan disiplin belajar pada anak diantaranya dengan jalan pembiasaan contoh tauladan, penyadaran dan pengawasan. Oleh karena itu anak supaya dibiasakan untuk melakukan hal-hal dengan tertib, baik dan teratur. Misalnya berpakaian dengan rapi dan teratur, makan dan tidur pada waktunya dan membuat catatan-catatan yang rapi di buku juga membiasakan belajar setiap hari.

  1. Membantu Mengatasi Kesulitan Belajar

Mengenai masalah kesulitan belajar tidak dapat dihindari lagi dalam proses belajar. Bentuk kesulitan belajar itu bisa berwujud dengan masalah memilih metode belajar yang tepat, penggunaan buku-buku belajar, pengaturan waktu belajar. Orang tua dalam hal ini sebagai salah satu orang yang paling bertanggung jawab atas keberhasilan anak didik, orang harus mendetektif mengenai kegiatan belajar anak mungkin tidak ada orang tua yang tidak senang kalau anaknya berhasil. Untuk itu orang tua harus mengetahui permasalahan-permasalahan yang dialami oleh anak didik selama belajar. Sekaligus berusaha untuk mengetahui penyebab-penyebabnya agar kesulitan anak secepatnya dapat diselesaikan.

Usaha untuk mengatasi kesulitan belajar ini adalah dilakukan dengan berusaha untuk menolong mengatasi kesulitan proses belajar. Menurut Drs. M. Ngalim Purwanto, Mp mengatakan : “Orang tua yang tidak/kurang memperhatikan pendidikan anak-anaknya, mungkin acuh taj acuh, tidak memperhatikan kemajuan belajar anak-anaknya akan menjadi penyebab kesulitan belajar”. (Drs. M. Ngalim Purwanto, Mp ; Psikologi Pendidikan, hal. 238)

Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa ulur tangan orang tua dalam hal memberikan bimbingan terhadap belajar anak dalam mengatasi kesulitan belajar adalah sangat dibutuhkan, kalau sampai orang tua tersebut tidak bisa secara langsung memberikan bimbingan terhadap anak dalam rangka mengatsi kesulitan belajar anak, maka bisa dilakukan oleh orang lain yaang dianggap mampu untuk memberikan bimbingan terhadap anak ini menunjukkan begitu pentingnya bimbingan untuk mengatasi kesulitan belajar anak.

b.   Pergaulan dan perlakuan orang tua terhadap anak

Dalam hal ini sebelum penulis menguraikan panjang lebar tentang pergaulan dan pergaulan orang tua terhadap anak, maka disini akan dijelaskan terlebih dahulu tentang pengertian pergaulan dan perlakuan.

Jadi yang dimaksud pergaulan adalah percampuran dalam persahabatan (kehidupan sehari-hari). (W.J.S. Poerwodarminta ; Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal. 302) Sedangkan perlakuan adalah pergaulan yang dikenakan kepada sesuatu orang. (W.J.S. Poerwodarminta ; Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal. 554)

Didalam lingkungan keluarga perlu mengetahui tentang kebutuhan anak-anaknya. Disamping anak-anak membutuhkan kebutuan-kebutuhan yang bersifat biologi mereka juga membutuhkan rasa aman dalam keluarga dan membutuhkan perasaan keadilan. (Drs. Sudarsono, S. H ; Etika Islam Tetang Kenakalan Remaja, hal. 23)

Rasa cinta dan kasih sayang inilah yang menjadi sumber kekuatan yang tak kunjung padam pada orang tua untuk tidak jemu-jemunya memberikan bimbingan dan pertolongan yang dibutuhkan oleh anak. (Drs. Amin D.I ; Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 110)

Maka sudah jelaslah apa yang dimaksud penulis dalam sub pokok bahasan mengenai pergaulan dan perlakuan orang tua terhadap anak. Sehingga penulis dalam membahas masalah ini tidak memisahkan antara pergaulan dan perlakuan orang tua terhadap anak, karena pergaulan dan perlakuan itu sendiri adalah sangat berkaitan sekali yang tidak bisa dipisah-pisah didalam kehidupan warga.

Dalam hal ini sebagaimana kasih sayang Luqman kapada anaknya yang tercermin di dalam Al Qur’an surat Luqman ayat 17. yang berbunyi :

¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$#           ÇÊÐÈ

Artinya : “Hai anakku! Dirikanlah sembahyang, suruhlah mengerjakan yang baik, cegahlah perbuatan yang buruk … (Q. S. Al Luqman : 17) (Depag RI, Al Qur’an dan terjemahan : 412)

Pencitaan lingkungan keluarga yang penuh kedamaian, teratur dan tertib, disiplin dan tentram adalah sangat dibutuhkan dalam rangka menunjang keberhasilan, ibu sebagai sumber kasih sayang dan ayah sebagai pemberi rasa aman dalam lingkungan keluarga, kunjungan kakek nenek sewaktu-waktu senantiasa memberi hiburan kepada anak dan peran pembantu rumah tangga (pramuwisma) yang diserahi untuk mengsuh dan memelihara anak. Kesemuanya itu mempunyai perasaan yang aktif dan ikut menentukan keberhasilan anak.

B. Tinjauan Tentang Prestasi Belajar

1.   Pengertian Prestasi dan Belajar

Untuk mendapatkan suatu pengertian yang tepat tentang prestasi belajar itu, maka terlebih dahulu disebutkan apa arti prestasi dan arti belajar. Di bawah ini akan dikutipkan pendapat para ahli sebagai berikut :

Menurut Prof. Dr. Oemar Hamalik bahwa belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experienching). (Prof. Dr. Oemar H ; Proses Belajar Mengajar, hal. 27)

Menurut Slanner (1985) yang dikutip dalam bukunya Educational Psycology belajar yaitu proses adaptasi yang berlangsung secara progresif. (Muhabbin Syah, M. Ed ; Psikologi Belajar, hal. 60)

Menurut Chaplin (1972) dalam Dictionary Of Psicology membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan kedua belajar adalah proses mempengaruhi repon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus (Muhabbin Syah, M. Ed ; Psikologi Belajar, hal. 60-61)

Sedangkan menurut Witting (1981) dalam bukunya Psicology Learning mengantikan belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman. (Muhabbin Syah, M. Ed ; Psikologi Belajar, hal. 61)

Prestasi merupakan hasil yang dicapai seseorang ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu.(Tulus TU’U ; Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa,hal. 75)

Sedangkan prestasi belajar sendiri menurut Tulus TU’U adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. (Tulus TU’U S. Th. MM. Pd ; Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa,hal. 75)

Dari pengertian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai atau hasil yang dicapai berkat adanya usaha dalam belajar setelah membaca, mengamati atau mengerjakan ketrampilan yang lain. Termasuk nilai prestasi belajar yang dicapainya yang ada pada buku rapor.

  1. Teori-teori Belajar

Dalam proses balajar ini adalah merupakan proses psikologi yang terjadi dalam diri seseorang karena itu sangat sulit diketahui dengan pasti tentang terjadinya proses itu sangat beraneka ragam, maka timbullah beberapa teori yang antara lain :

  1. Teori belajar menurut ilmu jiwa daya
  2. Teori belajar menurut ilmu jiwa pembiasaan klasik
  3. Teori belajar menurut ilmu jiwa gestalt

Adapun uraian secara singkat tentang ketiga teori itu adalah sebagai berikut :

a.   Teori belajar menurut ilmu jiwa daya

Menurut pandangan ilmu jiea daya antara lain dipelopori oleh Sala dan Wolff menyatakan bahwa jiwa manusia terdiri dari berbagai daya. (Prof. Dr. Oemar Hamalik ; Proses Belajar Mengajar, hal. 36)

Dengan demikian menurut teori ini adalah bahwa jiwa seseorang terdiri dari bermacam-macam daya, yang masing-masing daya itu berfungsi tertentu menurut kegunaannya. Seperti halnya daya berfikir, daya perasaan, daya mengingat, daya mencipta, daya tanggapan, daya kemauan dan sebagainya. Daya yang ada itu pada hakeketnya dapat dilatih sehingga dapat berfungsi. Cara untuk melatih yang ada pada diri manusia itu dapat melalui berbagi macam bahan apa saja sebagai contoh saja, seorang ayah atau ibu ketika sedang memberi bimbingan belajar terhadap anak dapat menyuruhkan untuk memikirkan soal-soal yang sulit seperti matematika lalu dihubungkan dengan jual beli, tukar menukar menurut agama Islam, ilmu alam dihubungkan dengan masalah kekuasaan Allah yang beraneka ragam bentuknya dan sebagainya.

Demikian juga terhadap daya-daya yang lain, daya tangkap dan daya ingat. Kesemuanya itu dapat dilatih, semakin baik melatih daya-daya itu semakin pekalah daya tangkapnya da berfungsi sebagaimana mestinya.

b.   Teori belajar menurut ilmu jiwa pembiasan klasik

Menurut teori ini bahwa belajar itu adalah penghubung antara s dan r, yang dimaksud adalah dimana ada suatu rangsangan (s), maka akan timbul respon (r). Umpamanya orang tua di ruamah menyediakan tempat belajar, bahan pelajaran dan alat-alat belajar. Maka akan timbul keinginan untuk belajar, tinggal besar kecilnya respon itu menurut selera anak itu masing-masing. Sebab ada anak yang kemauannya tinggi namun ada pula yang pemalas meskipun dirangsang dengan bahan, alat-alat pelajaran yang lengkap serta ruang belajar yang baik, kalau dasarnya pemalas sukar penyembuahannya.

Teori pembiasaan klasik yang biasa disebut classical konditioning yang dipelopori oleh Pavlou dari Rusia dan ia mengadakan percobaan dengan anjing. Secara ringkas percobaan-percobaan Pavlou dapat diuraikan sebagai berikut : “ Seekor anjing yang telah dibedah sedemikian rupa sehingga kelenjar ludahnya berada di luar pipinya dimasukkan ke kamar yang gelap. Di kamar itu hanaya ada sebuah lubang yang terletak di depan moncongnya tempat menyodorkan makanan atua menyorokkan cahaya pada waktu diadakan percobaan-percobaan. Pada moncongnya yang telah dibedah itu dipasang sebuah pipa (selang) yang dihubungkan dengan sebuah tabung di luar kamar. Dengan demikian dapat diketahui kelaur tidaknya air liur dari moncong anjing itu pada waktu diadakan percobaan-percabaan Alat-alat yang dipergunakan dalam percobaan-percabaan itu ialah makanan, lampu senter untuk menyorokkan bermacam-macam warna dan sebuah bunyi-bunyian”. (Drs. M. Ngalim Porwanto, Mp ; Psikologi Pendidikan, hal 90)

Dari hasil percobaan-percobaan yang dilakukan dengan anjing itu Pavlou mendapatkan kesimpulan bahwa gerakan-gerakan refleks itu dapat dipelajari, dapat berubah karena mendapat latihan. Sehingga dengan demikian dapat dibedakan dua macam refleks yaitu refleks wajar (Unconditioned reflex) adalah kelaur air liur ketika melihat makanan yang lezat dan refleks bersyarat / refleks yang dipelajari (Conditioned reflex) adalah keluar air liur karena menerima / bereaksi terhadap warna sinar tertentu atau terhadap suatu bunyi tetentu.

Dari uraian di atas dapat diambil suatu pengertian bahwa stimulus / rangsangan itu adalah penting artinya untuk menumbuhkan minat belajar dengan latihan-latihan. Untuk menjadikan anak didik dengan prestasi baik haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu yang terpenting dalam belajar.menurut teori Conditioning ialah adanya latihan-latihan secara kontinyu agar proses belaar anak berhasil dengan memuaskan.

c.   Teori belajar menurut ilmu belajar gestalt

Menurut teori ini, jiwa manusia adalah suatu keseluruhan yang berstruktur. Suatu keseluruhan bukan terdiri dari bagain-bagian atau unsur-unsur. Unsur itu berada dalam keseluruhan menurut struktur yang telah tertentu dan saling berinteraksi satu sama lain. (Prof. Dr. Oemar Hamalik ; Proses Belajar Mengajar, hal. 41)

Dari uraian di atas dapat diambil sebuah contoh kepala manusia bukan merupakan penjumlahan dari pada batok kepala, telinga, mata, hidung, mulut, rambut, dagu dan dahi. Kepala adalah suatu keseluruhan unsur-unsur pada kepala yang terletak peada struktur tertentu. Misalnya mata teletak pada kelopak mata tidak mungkin terletak pada ujung jari, hidung terletak pada struktur hidung yang ada, yaitu berada di bawah dan diantara pipi kiri dan pipi kanan, tidak mungkin strukturnya di dada. Struktur masing-masing unsur tersebut berfungsi sebagaimana mestinya, mata berfungsi untuk melihat, hidung berfungsi untuk mencium dan sebagainya.Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam hubungan keseluruhan. Suatu hal, suatu perbuatan, suatu benda dan sebagainya hanya bermakna dalam hubungan dengan situasi tertentu. Misalnya, perhiasan emas bermakna dalam situasi pesta atau di toko mas (jual beli), tetapi tidak bermakna dalam situasi padang pasir untuk mengatasi rasa haus dan dahaga.

Teori psikologi gestalt sangat berpengaruh terhadap tafsiran tentang belajar. Beberapa prinsip yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut :

  1. Tingkah laku terjadi berkat interaksi antara individu dan lingkungannya, faktor herediter (natural endowment) lebih berpengaruh.
  2. Belajar mengutamakan aspek pemahaman (insight) terhadap situasi problematis
  3. Belajar menitikberatkan pada situasi sekarang, dalam situasi tersebut menemukan dirinya.
  4. Belajar dimulai dari keseluruhan dan bagian-bagian haya bermakna dalam keseluruhan.
  5. Bahwa individu berada dalam keadaan keseimbangan yang dinamis adanya gangguan terhadap keseimbangan itu akan mendorong terjadinya tingkah laku (Prof. Dr. Oemar Hamalik ; Proses Belajar Mengajar, hal. 41)

Dengan adanya rumusan teori yang demikian jelas ini hendaknya dalam proses belajar dikembangkan menurut kebutuhan, baik kebutuhan jasmani maupun rohani dan dalam pengembangannya jangan sampai berat sebelah harus seimbang, begitu pula pengajaran yang diberikan harus didasari dengan pengertian dan juga dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman yang disesuaikan dengan lingkungan setiap hari.

Maka yang diharapkan dalam belajar adalah mengubah tingkah laku yang secara keselurahan merupakan organisme, kebanyakan manusia di dalam mengerjakan sesuatu karena tertarik dan mempunyai pengertian terhadap yang dikerjakan.Apabila belajar tidak dihubungakan dengan pengalaman yang terjadi dalam lingkungan hidup sosial tentu akan mengalami banyak kesulitan. Sebaiknya pada waktu proses belajar mengajar hendaknya siswa mengungkapkan fakta-fakta dan kenyataan yang dilihatnya dihubungkan dengan lingkungan hidup.

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar anak didik itu adalah banyak sekali, sehingga dalam hal ini penulis ungkapkan dengan mengambil berbagai pendapat para ahli.

Menurut Boggi Depoter dalam buku Quantum Teaching menyatakan “Pembelajaran yang berhasil haruslah dalam suasana menyenangkan dan menggembirakan”. ( Tulus TU’U ; Peran disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa, hal. 71)

Menurut Howard Gardnev bahwa “Seseorang dapat memiliki beberapa kecerdasan (musik, olah tubuh, logika matematika, bahasa, ruangan, inter personal dan intr personal) dengan satu yang lebih menonojol, tetapi yang lain kuran menonjol. Agar siswa berhasil dalam studi dan hidupnya kelak, maka pendidikan dilakukan dengan pendekatan pribadi dengan mempertimbangkan kecerdasan yang dimiliki siswa”.         ( Tulus TU’U ; Peran disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa, hal. 76)

Sedangkan menurut Merson U sanglang “Kecerdasan bakat, minat dan perhatian, motif, kesehatan, cara belajar, lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, sekolah dan sarana pendukung belajar adalah faktor-faktor keberhasilan belajar”. ( Tulus TU’U ; Peran disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa, hal. 78)

Dari berbagai pendapat di atas maka dapat disimpukan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah pembelajaran berjalan dengan suasana menyenangkan, kecerdasan anak didik, bakat, minat dan perhatian, motifasi, kesehatan anak didik, cara belajar anak, lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, sekolah dan sarana pendukung.

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi 3 macam :

  1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa) yakni keadaan jasmani dan rohani siswa
  2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa) yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa
  3. Faktor pendekatan siswa

Faktor-faktor di atas dalam banyak hal sering berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Anak didik yang bersikap conserving terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik umpamanya, biasanya cenderung mengambil pedekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaiknya, anak didik yang berintegrasi tinggi dan mendapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor eksternal), mungkin akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil pembelajaran.

  1. Faktor dalam (internal)

Faktor yang berasal dari siswa sendiri meliputi dua aspek yakni : 1) aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah), 2) aspek psikologis (yang bersifat rohaniah) (Muhibbin Syah, M.Ed ; Psikologi belajar, hal. 130)

a.   Aspek fisiologis

Kondisi umum jasmani dan fonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan insensitas anak didik dalam mengikuti pelajaran. (Muhibbin Syah, M.Ed ; Psikologi belajar, hal. 131)

Kondisi organ anak didik yang lemah, apabila disertai pusing-pusing pada kepala, akan dapat menurunkan ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang akan dipelajaripun kurang maksimal atau bahkan tidak akan membekas. Sehingga untuk mempertahankan fonus jasmani agar tetap bugar, anak didik sangat dianjurkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi.

  1. aspek psikologi

Banyak faktor yang termasuk aspek psikologi yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. Tapi diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih exensial itu adalah :

  1. tingkat kecerdasa/ intelegensi siswa
  2. sikap siswa
  3. bakat siswa
  4. minat siswa
  5. motivasi siswa (Muhibbin Syah; Psikologi Belajar; Hal 132)

Dari uraian di atas dapat diperjelas dan dijabarkan sebagai berikut:

  1. Intelegensi siswa

Menurut Reber intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. (Muhibbin Syah; Psikologi Belajar; Hal 133)

Sedangkan menurut Howard Barner bahwa potensi kecerdasan sesungguhnya bukan hanya kecerdasan rasional, melainkan kecerdasan yang beragam (jamak). (Tulus; Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa; Hal 79)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tinggi rendahnya kecerdasan yang dimiliki anak didik sangat menentukan keberhasilannya mencapai prestasi belajar termasuk prestasi-prestasi lain sesuai macam-macam kecerdasan yang menonjol yang ada pada dirinya. Semakin tinggi kemampluan intelegensi anak didik maka semakin besar peluang meraih sukses. Kecerdasan seseorang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Idiot                      :  IQ kurang dari 30

Embisil                  :  IQ 30 – 49

Debil                     :  IQ 50 – 69

Border line            :  IQ 70 – 79

Bodoh                   :  IQ 80 – 89

Sedang                  :  IQ 90 – 109

Cerdas                   :  IQ 110 – 119

Cerdas sekali         :  IQ 120 – 139

Genius                   : IQ 140 – keatas ( Dalyono; Psikologi Pendidikan; Hal 262)

  1. Sikap siswa

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi efektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang efektif tetap terhadap objek barang-barang, baik secara positif atau negatif. ( Muhibbin Syah; Psikologi Belaja; Hal 134)

Dari pendapat di atas bahwa sikap anak didik yang positif terutama pada guru dan mata pelajaran yang disajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar anak didik. Sebaliknya sikap negatif anak didik terhadap guru dan mata pelajaran dan apabila didiringi kebencian pada guru atau pada mata pelajaran dapat menimbulkan kesulitan belajar.

  1. Bakat siswa

Bakat adalah kemampuan yang ada pada seseorang yang dibawa sejak lahir. ( Tulus; Peran Disiplin Pada Perilaku Siswa; Hal 79)

Menurut Caplin bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. ( Muhibbin Syah; Psikologi Belajar; Hal 135)

Sedangkan menurut Dalyono bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai jenis yang dimiliki seseorang.  9 Dalyono; Psikologi Pendidikan; Hal 127)

Jadi dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa bakat merupakan kemampuan seseorang yang satu sama lain berbeda-beda. Dan bakat yang dimiliki seseorang biasanya sebagai warisan dari orang tua.

Secara global bakat itu mirip dengan intelegensi. Dan bakat dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Oleh karena itu, hal yang tidak bijaksana apabila orang tua memaksakan kehendaknya untuk menyekolahkan anaknya pada jurusan keahlian tertentu tanpa mengetahui terlebih dahulu bakat yang dimiliki anaknya itu. Bakat anak didik dalam suatu pembelajaran dalam menentukan pilihan jurusan disertai dukungan dari orang tua atau keluarga hasil prestasinya akan lebih maksimal hasilnya.

  1. Minat siswa

Menurut Reber minat adalah kecenderungan dan kegairah yang tinggi akan keinginan yang besar terhadap sesuatu.           ( Muhibbin Syah; Psikologi Belajar; Hal 136)

Sedangkan menurut Tulus minat adalah kecenderungan yang besar terhadap sesuatu. ( Tulus; Peran Disiplin Pada Perilaku Siswa; Hal 79)

Apabila anak didik menaruh minat pada satu pelajaran tertentu, biasanya cenderung untuk memperhatikannya dengan baik. Terlepas dari masalah populer atau tidak, minat seperti yang dipahami dan dipakai oleh orang selama ini dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar anak didik dalam bidang-bidang tertentu. Dengan minat yang tinggi maka kita boleh yakin berhasil dalam pembelajaran.

  1. Motivasi siswa

Motivasi adalah dorongan yang membuat seseorang berbuat sesuatu (Tulus ; Peran Disiplin pada Perilaku dan prestasi siswa, hal. 80). Menurut Ngalim Purwanto motivasi merupakan daya penggerak atau pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaan (Dalyono Psykologi Pendidikan, hal. 57)

Sehingga motivasi selalu mendasari dan mempengaruhi setiap usaha serta kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam belajar kalau anak didik mempunyai motivasi yang kuat dan baik. Hal itu akan memperbesar usaha dan kegiatannya mencapai prestasi yang tinggi

Dalam perkembangan selanjutnya, motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : 1)Motivasi intrinsik, 2) Motivasi ekstirnsik (Muhibbin ; Psikologi Belajar, hal. 137). Motivasi instrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Yang termasuk motivasi instrinsik siswa adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu anak didik yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, peraturan sekolah contoh konkret motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.

  1. Faktor eksternal siswa

Seperti faktor internal anak didik, faktor eksternal anak didik juga terdiri dari dua macam, yakni : faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.

a.  Faktor lingkungan sosial

1.  keluarga

Keluarga adalah ayah, ibu dan anak-anak serta famili yang menjadi penghuni rumah. Faktor orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan anak didik dalam belajar. (Dalyono; Psikologi Pendidikan; Hal 59)

Tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan, cukup kurangnya perhatian dan hubungan orang tua, rukun atau tidaknya perhatian dan bimbingan orang tua, akrab atau tidaknya hubungan orang tua dengan anak-anak, tenang atau tidaknya situasi dalam rumah, semuanya itu turut mempengaruhi pencapaian hasil belajar anak didik. Di samping itu faktor keadaan rumah juga turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Besar kecilnya rumah tempat tinggal, ada tidaknya media belajar seperti papan tulis, gambar, peta, ada atau tidak kamar ataumeja belajar dan sebagainya. Semua itu juga turut menentukan keberhasilan belajar seseorang.

Sifat –sifat orang tua, praktek pengelolaan keluarga, ketenangan keluarga dan demografi keluarga (letak) rumah. (Muhibbin Syah; Psikologi  Belajar; Hal 139). Kesemuanya itu dapat memberi dampak baik atauplun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh anaka didik.

  1. Sekolah

Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi dan teman-teman sekolah dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. (Muhibbin; Psikologi Belajar; Hal 138)

Kualitas guru, metode mengajar guru, para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dan memperhatikan suri tauladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar. Kesesuaian kurikulum dengan kemampuan anak, keadaan fasilitas sekolah, jumlah murid per kelas, pelaksanaan tata tertib sekolah dan sebagainya. Semuanya itu dapat menjadi daya dorong positif bagi kegiatan belajar dan keberhasilan prestasi anak didik.

  1. Masyarakat

Keadaan masyarakat juga menentukan prestasi belajar. (Dalyono; Psikologi Pendidikan; Hal 60) Masyarakat dan tetanggga serta teman-teman sepermainan di sekitar perkampungan anak didikdan juga orang-orang yang berpendidikan terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik hal ini akan mendorong untuk giat belajar bagi anak.

Demikian juga kondisi di lingkungan kumuh (slum area) yang serba kekurangan dan anak- anak pengangguran misalnya akan juga mempengaruhi aktivitas belajar siswa.

  1. Lingkungan Nonsosial

Mengenai waktu yang disenangi untuk belajar (study time preference) seperti pagi atau sore hari. Seorang ahli bernama J> Biggers berpendapat bahwa belajar pada pagi hari lebih efektif daripada belajar pada waktu-waktu lainnya. (Muhibbin; Psikologi Belajar; Hal 139) Tetapi menurut penelitian beberapa ahli learning style (gaya belajar). Hasil belajar itu tidak bergantung pada waktu secara mutlak, tetapi tergantung pada pilihan waktu yang cocok dengan kesiapsiagaan anak didik. Ini di pelopori oleh Dunn Etal. (Muhibbin ; Psikologi Belajar; Hal 139)

Dengan demikian diantara anak didik ada yang siap belajar pagi hari, ada pula yang siap belajar pada sore hari bahkan tengah malam. Perbedaan antara waktu dan kesiapan belajar inilah yang menilmbulkan perbedaan study time preference antara anak didik denga anak didik lain.

Disamping waktu yang mempengaruhi belajar rumahpun juga sangat mempengaruhi prestasi belajar. Rumah yang sempit dan berantakan serta perkampungan yang terlalu padat dan tidak memiliki sarana umum untuk kegiatan remaja, akan medorong anak didik untuk berkeliaran ke tempat-tempat yang sebenarnya tidak pantas dikunjungi.

4.   Kesulitan Belajar

Setiap anak didik pada prinsipnya berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinarja akademik yang memuaskan. Namun dari pernyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan belajar yang terkadang sangat mencolok antara seorang siswa dengan siswa yang lain.

Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah pada umumnya ditujukan pada para anak didik yang berkemampuan rata-rata. Sehingga anak didik yang berkemampuan rata-rata. Sehingga anak didik yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Dengan demikian anak didik yang berkatagori, “di luar rata-rata” itu (sangat pintar dan sangat bodoh) tidak mendapat kesempatan yang memadahi untuk berkembang sesuai dengan kepasitasnya. Dari satu kemudian timbullah yang disebut kesulitan belajar. Menurut Sri Rahayu hambatan belajar itu diantara lain dapat berasal dari dalam dirinya tetapi juga dari luar dirinya (Tulus ; Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa, ha. 82)

5.   Faktor Penyebab Kesulitan Belajar

Secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar adalah :

  1. Faktor intern

Faktor intern yaitu hal-hal yang muncul dari dalam siswa. Faktor intern meliputi :

1.   Kesehatan

Seorang yang sakit akan emngalami kelemahan fisiknya sehingga syaraf sensorik dan syaraf motorisnya lemah. (Dalyono ; Psikologi Pendidikan, hal. 231) Anak didik yang kesehatannya sering terganggu menyebabkan banyak waktunya untuk istirahat. Hal ini membuatnya ketinggalan pelajaran. Oleh karena itu orang tua perlu mempertahankan kesehatan anak-anaknya. Makanan yang bersih dan bergizi perlu mendapat perhatian.

2.   Kecerdasan

Anak didik yang tingat kecerdasannya rendah akan menyebabkan kemampuan mengikuti kegiatan pembelajaran akan lambat. (Tulus ; Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa, ha. 83)

Anak didik bila dalam kelas yang rata-rata tingkat kecardasannya tinggi, kemungkinan akan tercecer dalam pembelajaran. Hasil yang dicapapun belum sampai optimal. Selain itu kecerdasan sangat dipengaruhi cepat atau lambatnya kemajuan belajar siswa.

Dari uraian di atas bahwa anak didik yang mempunyai IQ kurang dari 90 tergolong lemah mental (Mentally Deffective). Dan anak ini pula yang banyak mengalami kesulitan belajar. Mereka ini digolongkan atas debit, embisit, idiot (Dalyono ; Psikologi Pendidikan,hal. 233) Golongan deit walaupun umurnya telah mencapai 25 tahun, kecerdasan mereka setinggal dengan anak didik normal umur 12 tahun. Golongan ambisit hanya mampu mencapai tingkat anak normal umur 7 tahun. Golongan idiot kecakapannya menyamai anak normal umur 3 tahun. Anak yang tergolong lemah mental itu sangat terbatas kemempuannya.

Apabila mereka harus menyelesaikan persoalan yang melebihi potensinya jelas anak tersebut tidak mampu dan mengalami kesulitan. Karena itu guru atau pembimbing harus meneliti tingkat IQ anak didik dengan meminta bantuan seorang psikolog agar dapat melayani murid-muridnya.

3.   Perhatian

Perhatian yang penulis maksudnya adalah dari perhatian dalam belajar di rumah dan di sekolah. Perhatian adalah melihat dan mendengar dengan baik dan teliti terhadap sesuatu (Tulus ; Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa, ha. 79) Perhatian belajar di rumah kerap kali terganggu oleh acara televisi, kondisi rumah dan kondisi keluarga. Sedangkan perhatian belajar di sekolah terganggu oleh kondisi kelas dan suasana pembelajaran serta lemahnya diri berkonsentrasi. Perhatian yang kurang memadahi tersebut akan berdampak kurang baik bagi hasil pembelajaran.

  1. Minat

Minat adalah kecenderungan yang tinggi terhadap sesuatu (Tulus ; Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa, ha. 82) Apabila pembelajaran ini dikembangkan oleh guru tidak  menimbulkan minat anak didik atau anak didik sendiri tidak mengembangkan minat dirinya dalam pembelajaran. Ha tersebut akan membuat anak didik tidak dengan sungguh-sungguh. Hasil belajarpun tidak akan maksimal

  1. Bakat

Menurut Chaplin dan Reber bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai kebarhasilan pada masa yang kan datang (Muhibbin ; Psikologi Belajar; Hal 135) Apabila pelajaran yang diikuti anak didik tidak sesuai dengan bakat yang dimiliki prestasi belajarnya tidak akan mencapai hasil yang tinggi.

  1. Faktor ekstern yaitu hal-hal yang datang dari luar siswa

1.   Keluarga

Ketidak harmonisan hubungan ayah dan ibu dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga tidak mendukung aktivitas belajar siswa (Muhibbin ; Psikologi Belajar; Hal 166)

Dengan demikian dapat diambil contoh secara kongkrit orang tua mendidik anak-anak yang kurang baik, teladan yang kurang baik, hubungan orang tua dengan anak yang kuran baik, ekonomi keluarga kurang, kebutuhan hidup dan perlengkapan belajar belum dapat dipenuhi dengan baik. Faktor dalam keluarga tersebut kerapkali menjadi penghambat bagi prestasi belajar anak didik.

2.   Sekolah

Kondisi gedung dan letak sekolah yang buruk seperti dkat pasar, kodisi guru serta alat-alat pembelajaran yang berkwalitas rendah (Muhibbin ; Psikologi Belajar; Hal 166) hal itu akan mengganggu hasil belajar

Selain hal di atas faktor yang mengganggu hasil belajar anak didik berhubungan dengan sekolah adalah faktor hubungan guru dengan murid kurang dekat. Biasanya kalau gurunya dibenci atau tidak disukai, hasil belajar kurang baik. Faktor hubungan anak didik dengan anak didik yang lain. Apabila hubungan anak didik yang kurang baik, hal ini juga akan mengganggu hasil belajar.

  1. Masyarakat

Faktor media masa, misalnya acara televisi, radio, majalah dapat mengganggu waktu belajar. Faktor teman sepergaulan yang kurang baik, misalnya teman yang merokok, memakai obat psitropika, terlalu banyak bermain merupakan yang paling banyak merusak prestasi belajar dan perilaku anak didik (Tulus ; Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa, ha. 85)

4.   Aktivitas Organisasi

Apabila anak didik sangat potensial, banyak aktivitas organisasi selain dapat menunjang hasil belajar dapat juga menggangu hasil belajar apabila anak didik tidak mengatur waktu dengan baik.

C. Pengaruh Pendidikan Keluarga Terhadap Prestasi Belajar Anak

Kita semua maklum bahwa keadaan lingkungan pendidikan dari masing-masing keluarga adalah berbeda. Perbedaan lingkungan pendidikan dalam keluarga akan menjadi sebab berbedanya pendidikan anak, sebagian keluarga atau orang tua mendidik anak-anaknya menurut pendidikan yang modern, sedangkan sebagian yang lainnya mesih menganut pendidikan kuno dan kolot. Keadaan seperti itu dapat berpengaruh pula terhadap prestasi belajar anak didik. Keadaan tiap-tiap keluarga barlain-lainan satu sama lain, ada keluarga yang kaya dan ada keluarga yang miskin. Ada keluarga besar (banyak anggota keluarga), ada pula keluarga yang kecil, ada yang mempunyai pembantu rumah tangga dan sebagainya. Ada macam keluarga yang diliputi oleh suasana yang penuh dengan kedamaian dan kesejahteraan atau ketentraman, ada pula keluarga yang selalu gaduh setiap akan melakukan sesuatu diawali dengan percekcokan antara anggota keluarga sudah tidak ada lagi saling hormat-menghormati atau saling mencintai. Dengan sendirinya keadaan keluarga yang bermacam-macam coraknya itu akan berpengaruh terhadap prestasi belajar anak yang ada dalam lingkungan itu. Orang yang kaya misalnya, dengan mudah akan menyediakan fasilitas, bahan atau alat-alat belajar anak-anaknya. Hasil segala apa yang ada dan dialami oleh anak-anak dalam lingkungan keluarga akan mempengaruhi terhadap keberhasilan pendidikannya.

Dalam hal ini Drs. M. Dalyono menyatakan sebagai berikut : “Lingkungan-lingkungan yang baik dibutuhkan untuk mengembangkan fasilitas mental pada taraf yang diharapkan”.

Dari pendapat tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu yang berlaku dan berada dalam lingkungan keluarga akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan serta pendidikan anak, maka dari itu orang tua dalam menanamkan pendidikan pada anak hendaknya sebijaksana mungkin , jangan sampai mematahkan semangat anak. Anak harus diberi semangat untuk mencoba melakukan sesuatu yang dialaminya.

Jika dari dalam lingkungan keluarga selalu dianggap dan dikatakan ia masih kecil karena itu ia belum dapat melakukan sesuatu, kemungkinan anak itu merasa kecil tidak berdaya, tidak sanggup mengerjakan sesuatu, ia akan berkembang masa bodoh kurang mempunyai perasaan harga diri. Sebaliknya jika anak itu dibesarkan dan dibimbing dengan baik, sehingga anak akan mendaptkan prestasi yang baik di sekolahnya (indeks prestasi)

BAB III

METODE PENELITIAN

Di dalam penulisan skripsi disamping diadakan kajian secara teoritis juga diadakan kajian secara empiris yang mengharuskan terjun ke lapangan (fild regearch) untuk itu langkah yang perlu ditempuh satu-satunya adalah mencari suatu metode yang tepat untuk memahami obyek penelitian, sebab dapat atau tidaknya suatu karya ilmiah dipercaya kebenarannya itu tergantung pertama-tama pada kevalidan suatu metode yang dipergunakan pada penelitian.

Prof. Drs. Sutrisno Hadi mengatakan bahwa “Baik buruknya suatu riseart sebagian tergantung pada teknik-teknik pengumpulan datanya” (Sutrisno, Metodologi researsh : 89)

Berangkat dari pendapat tersebut di atas dan mengingat pentingnya teknik-teknik / metode-metode dalam rangka kegiatan penelitian, maka yang perlu ditempuh sebagai upaya untuk mencari metode yang tepat adalah setidaknya harus mengetahui dan memahami sifat hidrogenitas dan homogenitasnya populasi, menentukan metode pengumpulan data serta dengan memakai analisa data apa dalam penelitian ini untuk lebih jelasnya berikut ini dijelaskan satu-persatu.

  1. Populasi dan Sampel
  1. Populasi

Penelitian akan lakukan terhadap anak didik SDN Babadan 1 Paron Ngawi. SDN Babadan 1 Paron Ngawi terletak di Dusun Nanggalan Desa Babadan Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi dengan jumlah siswa secara menyeluruh ada 221 siswa dan terdapat 7 lokal.

Menurut Dr. Husaini Usman, M.Pd pengertian populasi adalah semua nilai baik hasil perhitungan maupun pengukuran baik kualitatif maupun kuantitatif dari pada karateristik tertentu mengenai sekelompok obyek yang lengkap dan jelas. (Dr. Husaini, Metodologi Penelitian Sosial : 43)

Sedangkan menurut Dr. Suharsini Arikunto bahwa populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. (Suharsini, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis : 115)

Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka yang dimaksud populasi dalam penelitian ini adalah siswa yang belajar di SDN Babadan 1 Paron Ngawi.

  1. Sampel

Setelah diketahui sifat dari populasi yang ada langkah selanjutnya adalah menentukan teknik pengambilan sampelnya. Didalam menentukan seberapa besar sampel yang harus diambil dari suatu populasi tidak ada ketentuan yang pasti dan tidaklah ada ketentuan yang mutlak, beberapa persen suatu sampel harus diambil dari populasi.

Sebagai ancar-ancar saja dikutip pendapat Drs. Suharsini Arikunto sebagai berikut :

“Untuk sekedar ancar-ancar maka apabila subyeknya merupakan penulisan populasi selanjutnya jika subyeknya besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih” (Suharsini, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis : 120)

Sedangkan metode penentuan sampel yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara undian. Hal ini adalah dengan berdasarkan pertimbangan keadaan populasi yang terdiri dari tingkatan-tingkatan kelas dan tidak utuh homogen sebagai pedoman. Berikut ini penulis kemukakan pendapat Dr. Husaini Usman yang mengatakan :

“Teknik Statified sampling digunakan apabila populasinya heterogen atau terdiri dari kelompok-kelompok yang bertingkat”. (Husaini, Metodologi Penelitian Sosial : 45 )

Sedangkan teknik random yang dimaksudkan adalah memandang bahwa semua populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Pengambilan sampel dengan teknik random sampling ini merupakan salah satu untuk memperoleh sampel yang representatif.

Walaupun sudah ditegaskan bahwa dalam teknik random sampling ini memberi kesempatan yang sama terhadap semua anggota populasi yang ada bukan berarti lantas sembarangan dalam pengambilan sampel akan tetapi harus memperhatikan propabilitas yang sama bagi semua anggota untuk dipilih sebagai anggota sampel.

Untuk menghindari dari penelitian sampel yang secara sembarang atau kebetulan saja, maka penulis menggunakan prosedur undian, langkah-langkahnya sebagai berikut :

  1. Membuat dari masing-masing kelas 1 sampai dengan kelas 6 ditulis pada kertas
  2. Kertas tersebut digulung secara baik
  3. Gulungan dari kertas digulung dengan baik
  4. Dimasukkan dalam tempolong kemudian dikocok
  5. Kemudian diambil 2 kertas dari kumpulan kertas-kertas dari kelas 1 sampai dengan kelas 6

Dari hasil undiannya dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 1. Hasil Penentuan Sampel

No Kelas Jenis Kelamin Jumlah Ket
L P
1. V 13 18 31
2. VI 14 15 29
27 33 60

Dari uraian di atas dapat diambil keterangan bahwa jumlah yang dapat diteliti adalah 60 sisiwa.

  1. Metode Pengumpulan Data

Dalam penulisan skripsi ini sebagai alat pengumpulan data dipergunakan metode :

  1. Angket

Seperti yang dikatakan oleh Dr. Hadari Nawawi bahwa yang dimaksud metode angket adalah usaha mengumpulkan informasi dengan menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis, untuk dijawab secara tertulis pula ole responden (Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial : 117). Sedangkan Dari metode dekumentasi diharapkan untuk memperoleh data tentang prestasi belajar anak didik, dengan jalan menyelidiki benda tertulis seperti buku, catatan harian dan sebagainya.

  1. Dokumentasi

Menurut Dr. Lexy dokumen internal berupa memo, pengumuman, instruksi, aturan suatu lembaga masyarakat tertentu yang digunakan dalam kalangan sendiri.Termasuk didalamnya risalah atau laporan raport, keputusan pemimpin kantor (Dr. Lexy, Metode Penelitian Kualitatif : 163)

Dalam metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang :

  1. Struktur organisasi SDN Babadan 1 Paron Ngawi
  2. Daftar guru dan data siswa SDN Babadan 1 Paron Ngawi
  3. Data Prestasi
  4. Observasi

Disamping angket dan dokumentasi sebagai pelengkapnya juga memakai metode observasi, metode ini diharapkan sebagai alat untuk menulis dan mempelajari obyek tempat yang akan diselidiki, baik malalui pengamatan atau catatan.

Jenis observasi yang dipergunakan penulis adalah gabungan-gabungan antara observasi non partisipan yang dilakukan dimana observasi tidak melibatkan langsung dalam kegiatan yang akan diselidiki, sedangkan observasi sistematis adalah observasi yang dilakukan dengan menyusun kerangka atau rancangan terlebih dahulu tentang pokok-pokok yang akan diselidiki sebelum terjun ke lapangan penelitian.

  1. Wawancara atau Interview

Menurut Prof. Dr. Hadari Nawawi Interview adalah usaha mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lesan, untuk dijawab secara lesan pula (Dr. Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial : 111)

Jadi yang dimaksud interview yaitu pertanyaan yang diberikan secara lesan. Dan bentuk interview yang akan berikan secara lisan. Bentuk interview yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah interview bebas terpimpin, yaitu sebelum melaksanakan interview dipersiapkan terlebih dahulu dan orang yang diwawancarai diberi kesempatan yang luas untuk memberi keterangan sehingga dengan data yang diharapkan dapat terpenuhi. Disamping interview bebas terpimpin penulis juga memakai interview pribadi yang dilaksanakan interview dilakukan face to face dengan interview.

  1. Teknik Analisis Data

Data yang berhasil dikumpulkan akan dianalisa dengan sistem pengujian statistik, disamping dicari significansi statistik hubungan antara variable dependent dan variable independent hipotesa-hipotesa yang diajukan (akan diuji) jika akan dilakukan analisa kualitatif, maksud dari pada analisa kualitatif adalah agar bisa merekontruksi kembali aspirasi-aspirasi dan kesan-kesan yang diperoleh baik selama interview, observasi, angket atau dokumenter.

Dan metode statistik yang dipergunakan dalam menganalisa hasil penelitian ini adalah menggunakan “Teknik Analisa Yule’s Q “ dengan rumus :

Qxy =

Langkah-langkah penggunaan rumus Yule’s Q adalah sebagai berikut :

  1. Masing-masing variabel untuk variabel independen diberi kode X dan untuk variabel dependen diberi kode Y
  2. Masing-masing kriteria/kategori. Misalnya tinggi dan rendah atau baik dan kurang baik
  3. Analisa Yule’s Q bekerja berdasarkan frekuensi dari masing-masing kategori atau kreteria tersebut
  4. Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara variabel X dan Y ditetukan dengan nilai convensi Yule’s Q sebagai berikut :

TABEL 2 Nilai Convensi Yule’s Q

Nilai Q Arti Penafsirannya
0,70 – ke atas

0,50 – 0,69

0,30 – 0,49

0,10 – 0,29

0,01 – 0,09

0 – 0

Hubungan positif yang sangat mantap

Hubungan positif yang mantap

Hubungan positif yang sedang

Hubungan positif yang rendah

Hubungan positif yang tidak berarti

Tidak ada hubungan

(Kasiram, Teknik Analisa Two Variabel Yule’s Q : 12 -13)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: