skripsi5

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Pendidikan adalah salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, di mana peningkatan kualitas SDM merupakan pra-syarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan. Maka dari itu kualitas pendidikan harus senantiasa ditingkatkan. Sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan, pada tempatnyalah kualitas SDM ditingkatkan melalui berbagai program pendidikan yang dilaksanakan secara sistematis dan terarah berdasarkan kepentingan yang mengacu pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan (IMTAK).( E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Kompetensi, Bandung : PT Rosda Karya, 2003, hal 3-4)

Pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa. Melalui pendidikan suatu bangsa menyalurkan warisan kultur dan intelektualnya pada generasi penerus. Pendidikan adalah suatu proses yang terus bersambung. Dengan proses itu latihan mental, fisik, dan moral diberikan bertujuan untuk membentuk maanusia yang berguna, cakap   melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai manusia dan warga negara yang baik.(Sidik Jamil Utho’I, Sunan Ibnu Majah Juz 1, Darul Fikri, 1995, hal 87)

Pendidikan merupakan sesuatu yang esensial bagi manusia. Melalui pendidikan manusia dapat belajar menghadapi segala problematika yang ada di alam semesta demi mempertahankan kehidupannya. Pendidikan dalam

kehidupan manusia mempunyai peranan yang sangat penting. Ia dapat membentuk kepribadian seseorang dan pendidikan diakui sebagai kekuatan yang dapat menentukan prestasi dan produktifitas seseorang. Dengan bantuan pendidikan seseoranng memahami dan menginterprestasikan lingkungan yang dihadapi, sehingga ia mampu menciptakan karya gemilang dalam hidupnya. Atau dengan kata lain manusia dapat mencapai suatu peradaban dan kebudayaan yang tinggi dengan bantuan pendidikan. Karena pentingnya  pendidikan, maka Islam mewajibkan bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

ﻄﻟﺏ ﺍﻠﻌﻟﻡ ﻓﺭ ﻴﺿﺔ ﻋﻠﻰ ﻜﻝ ﻤﺴﻠﻡ ﻮﻤﺴﻠﻤﺔ

Artinya : Anas bin Malik ia berkata: Rasulullah bersabda: “mencari ilmu itu adalah fardu bagi setiap orang islam laki-laki dan perempuan…’(H.R Bukhori Muslim).(Abdullah Shonhaji, et.., al, Terjemahan Sunan Ibnu Majah Jilid 1, Semarang: Asy-Syifa’, Hal 181-182)

Selain itu tinggi rendahnya derajat seseorang tidaklah ditentukan oleh hartanya tetapi oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Seperti yang termaktub dalam Surat Al-Mujadalah:11

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? †Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râ“à±S$# (#râ“à±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ

Artinya : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Depag RI, AL Qur’an dan terjemahannya, 1974, hal. 910)

Sesuai UU No 20 tahun 2003 tentang sisdiknas menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. ( UU Sisdiknas 2003, Jakarta : Sinar Grafika, 2003, hal. 2) Hal ini berarti pendidikan memiliki andil yang cukup besar dalam kehidupan bangsa dan negara guna mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Agar dapat melaksanakan hal tersebut diperlukan lembaga-lembaga pendidikan sebagai  wadah untuk merealisasikannya. Pada dasarnya setiap lembaga pendidikan berusaha untuk mengarahkan dan memaksimalkan keefektifan pengajaran dengan jalan merencanakan dan mengorganisasikannya. Dalam melaksanakan hal tersebut perlu pertimbangan keempat hal yaitu siswa, tujuan, pengajaran dan hasil. Denga adanya faktor perbedaan individu, misalnya intelegensi, minat, dan motivasi maka tujuan pengajaran tidak dapat tercapai tanpa memperhatikan karakteristik siswa yang terlibat dalam  proses   belajar  mengajar.  Dalam  hal  ini   perlu   ditempatkan

terlebih dahulu karakteristik apa yang relevan bagi pengajaran yang akan diberikan. Setiap proses belajar mengajaar mempunyai tujuan umum dan tujuan khusus. Mengajar tidak dilakukan untuk mendapatkan kesenangan saja tetapi merupakan usaha untuk membekali siswa dengan berbagai kemampuan, ketrampilan, pengetahuan, sikap dan lain-lain. Dengan demikian tujuan akhir proses belajar mengaja yang hendak dicapai perlu dispesifikasikan terlebih dahulu. Ini berarti kecakapan atau tingkah laku apa yang akan diperoleh setelah mengikuti proses pengajar harus dapat digambarkan dengan jelas.

Untuk mencapai tujuan yang telah dispesifikasikan tersebut, pengajaran harus disusun sedemikian rupa sehingga tercapai hubungan optimal antara berbagai aspek lingkungan belajar. Ini berarti pemilihan metode mengajar, jenis dan isi bahan pengajaran, serta media yang diperlukan dalam pengajaran sangat penting dalam menentukan keefektifan pengajaran. Proses pengajaran tersebut dapat dilakukan oleh lembaga pendidikan yang bernama sekolah.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat dipandang sebagai tempat untuk mewujudkan seluruh kemampuan yang dimiliki oleh siswa dan sebagai tempat untuk melepaskan ketergantungan anak dari peran orang tua dan keluarga. Hal ini dapat diartikan bahwa sekolah dapat memberikan pengalaman baru sebab dengan sekolah anak dapat mengembangkan lingkungan fisik dan sosialnya. Oleh karena itu sekolah harus berupaya menjalankan fungsinya  untuk menanamkan nilai kebudayaan seoptimal mungkin. Dengan demikian, sekolah dituntut  untuk  dapat menciptakan lingkungan belajar yang menantang dan memenuhi kebutuhan siswa, serta memberi pengalaman baru yang dapat mengubah sikap atau pandangan siswa menjadi lebih positif, yang berarti tumbuhnya perasaan dihargai, dimiliki, dan dianggap mempunyai kemampuan.

Di sekolah, siswa selalu dihadapkan pada situasi penilaian keberhasilan, baik dari guru maupun dari siswa lain. Situasi penilaian yang dihadapi siswa bukan hanya penilaian ujian saja, tetapi juga dari keberhasilan dalammelaksanakan seluruh tugas sekolah. Sepanjang waktu sekolah, siswa dapat menilai dirinya sendiri maupun siswa lain dengan cara melihat bagaimana  ia atau siswa lain menyelesaikan tugas yang diberikan. Misalnya, seorang siswa yang mencoba menyusun balok-balok. Ternyata ia tidak berhasil menyusun balok-balok tersebut pada waktu yang ditentukan. Pada waktu itu dengan sendirinya ia mengetahui bahwa ia tidak mempunyai cukup kemampuan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa siswa tersebut memandang dan menilai dirinya sendiri sebagai orang yang tidak mampu melaksanakan tugas yang diberikan. Pandangaan dan sikap siswa terhadap dirinya sendiri disebut dengan konsep diri. ( Clara R Pudjijogyanti, Konsep Diri Dalam Pendidikan, Jakarta : 1988, hal. 2)

Konsep diri dapat mempengaruhi pendekatan siswa dalam belajar sebab cara bagaimana individu memandang dirinya akan mempengaruhi seluruh prilakunya. Dengan kata lain, prilaku individu akan sesuai dengan cara individu  memandang dirinya sendiri. Apabila individu memandang dirinya sebagai orang yang  tidak mempunyai cukup kemampuan untuk melakukan suatu tugas, maka seluruh prilakunya akan menunjukan ketidakmampuan tersebut.(ClaraRPudjijogyanti,KonsepDiriDalamPendidikan,Jakarta:1988, hal.4). Rupanya hal tersebut juga terjadi pada siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu.

Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu merupakan salah satu lembaga yang berciri khas Agama Islam dengan Pendidikann  Agama Islam sebagai mata pelajaran pokok mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembentukan moral, akhlak, etika dan moral peserta didik. Namun dalam mata pelajaran Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat sulit bagi para siswa. Sehubungan dengan itu bahwa konsep diri adalah salah satu faktor non-intelektual yanng sangat penting dalam prestasi belajar.(ClaraRPudjijogyanti,KonsepDiriDalam Pendidikan, Jakarta:1988, hal.4)

Adanya prestasi belajar siswa yang rendah Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu disebabkan oleh banyak faktor diantaranya: tingkat intelegensi siswa, minat dan perhatian dalam pembelajaran, motivasi dalam belajar, cara belajar yang dilakukan siswa, pengaturan waktu siswa yang kurang efektif, faktor tugas rumah yang terlalu banyak sehingga waktu belajar tersita dan suasana keluarga yang kurang kondusif.

Dalam Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu, adanya siswa yang mengalami kegagalan dalam pelajaran, khususnya dalam bidang studi Matematika selain disebabkan oleh faktor-faktor diatas, juga disebabkan adanya persepsi dan sikap negatif siswa terhadap dirinya sendiri, yaitu kurangnya kepercayaan diri siswa dalam menghadapi tugas sekolah atau adanya perasaan tidak mampu untuk melaksanakan tugas-tugas yang diberikan. Sehingga siswa beranggapan tugas yang diberikan itu sulit akibatnya tugas tersebut terasa berat dan dianggap sebagai beban. Dengan melihat keadaan itu dapat dikatakan siswa tersebut cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini perlu dilakukan.

Siswa yang cemas dalam menghadapi ujian akhir dengan mengatakan “saya sebenarnya anak bodoh, pasti saya tidak akan mendapat nilai baik”, sesungguhnya sudah mencerminkan harapan apa yang akan terjadi dengan hasil ujiannya. Kata-kata tersebut menunjukkan keyakinan bahwa ia tidak mempunyai cukup kemampuan untuk memperoleh nilai yang baik.

Siswa yang mempunyai konsep diri yang negatif  dan kurang percaya akan kemampuannya sering merasa seakan-akan siswa lain lebih baik daripada dirinya. Mereka cenderung medah menyerah,  cepat  frustasi dan mudah tersinggung. Jika terdapat konsep diri  yang negatif, individu itu  menilai diri mempunyai unsur negatif lebih banyak daripada unsur positif. ( Mallary M. Collins, Don H. Fontenelle, Mengubah Prilaku Siswa Pendekatan Positif, Jakarta : PT. Bpk Gunung Mulia, 1992, hal. 143)

Oleh karena itu pengarahan konsep diri ke arah yang lebih positif merupakan salah satu cara dalam membantu  siswa mengatasi masalah yang dihadapi sehubungan dengan tugas-tugas sekolah.(Mallary M Collis, DonFontenelle,Mengubah Prilaku Siswa Pendekatan Positif,Jakarta:PT Gunung Mulia,1992 hal. 81). Sehingga untuk mengubah   konsep diri yang negatif tersebut, harus dimulai   dari   diri siswa   sendiri. Dengan   rasa percaya diri / keyakinan pada diri sendiri dan membuat siswa merasa lebih baik. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Surat Ar-Ra’d:11

¼çms9 ×M»t7Ée)yèãB .`ÏiB Èû÷üt/ Ïm÷ƒy‰tƒ ô`ÏBur ¾ÏmÏÿù=yz ¼çmtRqÝàxÿøts† ô`ÏB ̍øBr& «!$# 3 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr’Î/ 3 !#sŒÎ)ur yŠ#u‘r& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqߙ Ÿxsù ¨ŠttB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB @A#ur ÇÊÊÈ

Artinya :    “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan  yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Depag RI, al Qur’an dan Terjemahan,1974,hak.370)

Dalam  bukunya Improving Your Self-Confidence, Cydle menulis: keyakinan terhadap diri sendiri banyak tergantung pada bagaimana perasaan kita tentang diri kita sendiri. Dengan sendirinya kalau kita ingin menambah keyakinan terhadap diri sendiri, kita harus meneliti perasaan-perasaan kita.  Kita tidak dapat   mengharapkan untuk maju sebelum kita memahami tingkah laku kita. ( Reihan Nufandi, Mengatasi rasa malu, Gresik : Putra Pelajar, 2000, hal. 28)

Selain dengan menumbuhkan keyakinan pada diri sendiri/percaya diri juga  dibantu oleh lingkungn yang mendukung ke arah tersebut. Menurut Stephie Barrat-Godefroy ada empat langkah untuk memperoleh kepercayaan diri,  yaitu:

  1. Buatlah daftar keberhasilan
  2. Bersikaplah optimis
  3. Ubahlah sikap kita terhadap kegagalan
    1. Tidak melihat kegagalan di mana pun (AriwibowoPrijaksono,Marlan Mardianto,SelfManagement 12 Langkah Managemen Diri,Jakarta:Elex Komputindo,2001,hal 46-47)

Oleh karena itu dengan mengubah konsep diri ke arah yang lebih positif akan bermanfaat dan membawa kebaikan bagi diri siswa itu sendiri. Sebagaimana  dalam Surat An-Najm: 39

br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy™ ÇÌÒÈ

Artinya   :    “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya.( Depag RI,Op.Cit, hal.46.47)

Sebaiknya siswa yang memiliki konsep diri yang positif akan berpandangan positif pula terhadap kwalitas kemampuan dirinya. Sehingga menyebabkan siswa percaya diri dan mamandang tugas yang diberikan sebagai suatu hal yang mudah untuk diselesaikan. Hal ini akan berpengaruh terhadap hasil belajar / prestasi belajarnya serta membantu siswa dalam memandang keberhasilan yang akan dicapai.

Berangkat dari apa yang penulis paparkan bahwa pandangan dan sikap siswa dalam memandang dirinya akan mempengaruhi pendekatan siswa dalam menghadapi tugas dan lebih jauh lagi prestasi belajar siswa. Maka Penulis mencoba menuangkan dalam skripsi yang berjudul “ Pengaruh Konsep Diri Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu Tahun Pelajaran 2009/2010.

B.  Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, maka penulis dapat mengambil rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah Konsep Diri siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu semester 1 tahun pelajaran 2009/2010?
    1. Bagaimanakah Prestasi Belajar Matematika Siswa Madrasah Ibtidaiyah  Islamiyah Dawu semester 1 tahun pelajaran 2009/2010?
    2. Adakah pengaruh Konsep Diri terhadap Prestasi Belajar Matematika                  Siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu semester 1 tahun pelajaran 2009/2010?

C.  Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian dalam penyusunan tesis ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui Bagaimana Konsep Diri siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu semester 1 tahun pelajaran 2009/2010.
  2. Untuk mengetahui Bagaimana Prestasi Belajar Matematika Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu semester 1 tahun pelajaran 2009/2010.
  3. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh Konsep Diri terhadap Prestasi Belajar Matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu semester 1 tahun pelajaran 2009/2010.

D.  Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan yang penulis harapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Secara Teoristis
    1. Menambah khasanah ilmu pengetahuan bagi peneliti pendidikan.
      1. Dapat dijadikan penelitian ulang dan dikembangkan oleh pihah yang  berkepentingan.
  2. Secara Praktis
    1. Berguna untuk orang tua dan pedidik, sebagai bahan acuan dalam membimbing dan mengarahkan anak atau peserta didik dalam  pelaksanaan pendidikan.
    2. Berguna untuk sekolah dan dunia pendidikan, sebagai sumbangan pemikiran dalam proses belajar mengajar di sekolah Khususnya Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu sehingga akan  memperlancar tercapainya tujuan yang dikehendaki.
    3. Berguna untuk peneliti, sebagai bekal untuk menambah wawasan berfikir dan mendapat pengalaman langsung dari penelitian untuk memperoleh kebenaran.

E.   Hipotesa

Hipotesa adalah dugaan yang mungkin benar atau mungkin salah. Dia akan ditolak jika salah atau palsu dan akan diterima jika faktor membenarkannya. Penolakan dan penerimaan hipotesa sangat tergantung kepada hasil-hasil penyelidikan terhadap fakta yang dikumpulkan. ( Sutrisno, Hadi, Metodologi Reaserch Jilid 1, Yogyakarta : Andi Offes, 2001, hal. 63)

Adapun hipotesa yang penulis ajukan adalah :

Ho : “ Tidak ada pengaruh yang signitif antara konsep diri dengan prestasi belajar Matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiah Dawu semester 1 tahun pelajaran 2009/2010

Ha : “ Ada pengaruh yang signitif antara konsep diri dengan prestasi belajar Matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu semester 1 tahun pelajaran 2009/2010

F.   Penegasan Judul

Penegasan judul skripsi ini dapat diuraikan melalui penjelasan dari istilah-istilah antara lain :

Prestasi adalah hasil yang dicapai (Paul Hanna, You Can Do It! Anda Pasti Bisa!Jakarta : Erlangga, hal 10), yang dimaksud dalam penelitian disini adalah siswa kelas 1 sampai dengan kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu tahun pelajaran 2005/2006

Konsep diri adalah pandangan dan sikap individu terhadap seluruh keadaan dirinya. ( Clara R Pudjijogyanti, Konsep Diri Dalam Pendidikan, Jakarta, 1988, hal 2)

G.Metode Penelitian

1.   Populasi dan Sample

a.   Populasi

Adalah seluruh individu atau keseluruhan subjek penelitian. (Suharsimi Arikunto, Produser Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta : Rineka Cipta, 1999, hal. 102). Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas I sampai dengan kelas VI Madrasah Ibidaiyah Islamiyah Dawu tahun pelajaran 2009/2010

b.   Sample

Adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti.(SuharsimiArikunto,ProduserPenelitianSuatauPendekatanPraktis,Jakarta:Rineka Cipta,hal. 104). Mengingat jumlah siswa yang banyak. Maka penelitian terhadap siswa dilakukan tidak secara menyeluruh.Sample sebenarnya    tidaklah   ada   ketetapan  yang   mutlak    berapa   persen suatu sampel harus diambil dari suatu populasi. Maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil 10%-15% atau 20%-25% atau lebih. (Suharsimi Arikunto,Produser Penelitian Suatau Pendekatan Praktis,Jakarta:Rineka Cipta,hal. 115) Untuk memilih sampel penulis menggunakan sample dengan mengambil 43 siswa dari 148 siswa.

2.   Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data-data yang diperoleh dalam penelitian ini, teknik yang digunakan sebagai berikut:

a.   Observasi

Observasi digunakan dalam rangka mengumpulkan data dalam suatu penelitian, merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya sesuatu rangsangan tertentu yang diinginkan atau suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan/fenomena sosial dan gejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat. (S. Nasution, Metode Reaserch, Jakarta : Bumi Aksara, 2003, hal. 107). Dalam penelitian ini metode  observasi digunakan untuk mengumpulkan data-data tentang gambaran umum Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu keadaan guru dan siswa, sarana dan prasarana.

b.   Interview

Inteview adalah metode pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapat keterangan-keterangan  lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan kepada peneliti. ( Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta : Bumi Aksara, 2003, hal. 64) Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang prestasi   belajar siswa, sejarah berdirinya Madrasah Ibitidaiyah Islamiyah dawu, keadaan guru dan siswa.

c.   Dokumentasi

Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, raport, legger, agenda dan sebagainya. ( Suharsimi Arikunto, Op. Cit, hal. 234) Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang diambil dari dokumentasi sekkolah yang bersangkutan antara lain:

  1. Keadaan guru dan siswa
  2. Struktur organisasi
  3. Prestasi belajar berupa raport

d.   Angket

Angket adalah teknik pengumpulan data melaui formulir-formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang siajukan secaral tertulis pada  seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau   tanggapan dan informasi yang diperlukan oleh peneliti. ( Mardalis, Op. Cit, hal. 65) Dengan metode ini penulis  harapkan memperoleh data tentang konsep  diri siswa kelas I sampai dengan kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu.

3.   Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik analisa data statistik dengan menggunakan product moment, dengan rumus. ( Anas Sudjiono, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999, hal. 207)

χ y′    –   ( Cx. Cy­)

N

Rxy    =

SD­X . SDY

Keterangan :

x’y            = Jumlah hasil perkalian silang (product moment) antara

frekuensi sel (f) dengan x’ dan y’

Cx’            = Nilai koreksi pada variabel X, Cx’=      ∑ fx’

N

Cy’            = Nilai koreksi pada variabel Y, Cy’=      ∑ fy’

N

SDx’          = Deviasi Standart nilai X dalam arti tiap nilai sebagai 1 unit (di

mana i=1)

SDy’          = Deviasi Standart nilai Y dalam arti tiap nilai sebagai 1 unit (di

mana I =1)

N               = Number of Case

H.  Sistematika Pembahasan

Skripsi ini terbagi menjadi lima bab, yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut:

Bab Satu (pendahuluan) berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, hipotesa, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab Dua (landasan teori) berisi mengenai bahasan teoritis tentang pengertian dan komponen konsep diri, perkembangan konsep diri, upaya meningkatkan konsep diri siswa, pengeertiaan prestasi belajar Matematika, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, faktor-faktor penghambat prestasi belajar, pengaruh konsep diri terhadap pretasi belajar Matematika.

Bab Tiga (laporan hasil penelitian) dalam bab ini diuraikan  mengenai paparan data umum  objek penelitian, paparan data khusus yang berisi tentang konsep diri siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu, prestasi belajar Matematika Madrasah Ibtidaiyah Islamiah Dawu.

Bab Empat (analisa data) yang  mana memberikan gambaran tentang apa yang diperoleh kemudian dianalisa untuk menngetahui ada atau tidaknya pengaruh  konsep diri terhadap prestasi belajar Matematika Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu.

Bab Lima (penutup) berisi tentang kesimpulan dan saran yang terkait dengan hasil penelitian.

BAB II

KONSEP DIRI DAN PRESTASI BELAJAR

MATEMATIKA

A.    KONSEP DIRI

  1. 1. Pengertian dan komponen konsep diri

  1. Pengertian konsep diri

Apakah konsep diri itu? Konsep diri (self concept) tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri. Konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri kita sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri  sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan. ( Paul. J. Centi, Mengapa Rendah Dir?i, Yogyakarta : Kasinius, 1995, hal. 9) Konsep diri adalah gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki orng tentang merka sendiri karateistik fisik, psikologis, sosial, dan emosional, aspirasi dan prestasi. ( Elizabeth B. Hurlok, Perkembangan Anak Jilid 2, Jakarta : Air Langga, 1999, hal. 58)

17

Menurut William D.Brooks, konsep diri adalah perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri kita ini boleh bersifatd psikologis, sosial dan fisik. Dan Anita Taylor berpendapat konsep diri meliputi apa yang kita fikirkan dan apa yang kita  rasakan. ( Jalaludi Rahmad, Psikologi Komunikasi, Bandung Renadja Karya, 1986, hal.125)

Menurut Burns, konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri. Sedangkan Cawagas menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kepandaiannya, kegagalannya dan sebagainya. ( Clara R Pudjijogyanti, Konsep Diri Dlam Pendidikan, Jakarta : Arcan, 1988, hal. 2) Konsepsi orang tentang dirinya adalah dasar pertama yang  diatasnya berdiri kepribadian. Ia juga merupakan faktor pokok dalam penyesuaian pribadi dan sosial. Maka pribadi terbentuk  dari sekumpulan pengenalan orang terhadap dirinya dan penilaiannya terhadap dirinya itu.

Dari beberapa definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa konsep diri adalah evaluasi individu mengenai diri sendiri atau penilaianmengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan yang dapat dipengaruhi oleh orang tua, saudara kandung, teman sebaya, sekolah dan masyarakat.

Sedangkan kesadaran diri adalah wawasan ke dalam atau wawasan mengenai alasan-alasan dari tingkah laku sendiri, pemahaman siri sendiri. Dalam bukunya Emotional Intelegence, Daniel Goleman berpendapat bahwa kesadaran diri yaitu mengamati diri dan mengenali perasaan-perasaan diri, menghimpun kosakata untuk peresaan, mengetahui hubungan antara pikiran, perasaan, dan reaksi. ( Daniel Goleman, Emotional


Intelligency, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2001, hal. 428) Sementara itu, Steven J. Stein dan Howard E. Book berpendapat bahwa kesadaran diri adalah kemempuan untuk mengenal dan memilah-milah perasaan, memahami hal yang sedang kita rasakan, dan mengetahui penyebab munculnya perasaan tersebut. ( Steven K. Stein, Horwad E. Book, Ledakan IQ 15 Prinsip Kecerdasan EmisionalMeraih Sukses, Bandung : Kaifa, 2002, hal. 73) Jadi kesadaran diri dapat diartikan kepekaan yang berlebihan mengenai tingkah laku sendiri, kesadaran mengenai proses-proses mental sendiri dan kesadaran mengenai eksistensi sendiri.

  1. Komponen konsep diri

Konsep diri tebentuk atas dua komponen yaitu:

  1. Komponen kognotif

Merupakan pengetahuan individu tentang keadaan dirinya, misanya “saya anak bodoh” atau “saya anak nakal”. Jadi komponen kognitif merupakan penjelasan dari “saya siapa” yang akan memberi gambaran tentang diri saya. Gambaran diri adalah gambaran yang kita bentuk dan kita miliki tentang diri kita. Gambaran diri itu merupakan kesimpulan daril pandangan kita dalam berbagai peran yang kita pegang, pandangan tentang watak kepribadian yang kita rasa ada pada diri kita, pandangan kita tentang sikap yang ada pada diri kita, kemampuan yang kita miliki, kecakapan yang kita kuasai dan lain-lain. Pada dasarnya gambaran diri adalah bagaimana menilai diri sendiri. Semua hal yang anda percayai tentang diri sendiri hingga saat ini dalam kehidupan anda    akan membentuk gambaran diri anda.

Apakah anda melihat diri anda  sebagai orang yang percaya siri dan ramah seseorang yang malu dan takut bertemu orang lain? Apakah anda mengganggap diri sendiri sebagai orang  yang   positif yang melihat keburukan orang lain? (Paul Hanna, You Can Do It! Anda Pasti Bisa, Jakarta : Erlangga, hal. 9) Gambaran diri tersebut akan membentuk citra diri.

Citra diri ini erat kaitannya dengan self esteem atau seberapa tinggi kita menghargai, menilai dan menghormati diri sendiri. Self esteem ini adalah satu kesatuan kepercayaan(beliefs) yang selalu kita bawa ke mana-mana. Di mana hal tersebut di kepala kita sudah kita  terima kebenarannya, terlepas dari apakah benar atau tidak. Artinya biasanya seseorang dipandang menarik oleh orang lain, melihat dirinya tiidak menarik, tidakpercaya diri dan memiliki citra diri negatif lainnya. ( Aribowo Pridjaksono, Marlan Mardianto, Op. Cit. Hal. 35)

Menurut Mark R Douglas ada enam hal penyebab citra diri buruk yaitu : (AriwibowoPrijaksono,MarlanMardianto,OpCit hal.37)

  1. Citra  tubuh yang negatif, merasa kecil hati ketika      membandingkan penampilan diri yang kurang menarik dengan orang lain

b.   Kritik orang tua  yang berlebihan, hal ini  bisa membuat anak merasa tidak bahagia. Anak harus mendapat penghargaan atas setiap usaha  yang dilakukan untuk memperoleh kemajuan di bidang apapun.

  1. Kritik terhadap diri sendiri yang berlebihan, anak yang terlalu membesar-besarkan kritik terhadap dirinya sendiri, akan menghambat perkembangan dirinya menjadi orang yang penuh percaya diri.
  2. Pembanding kronis,  orang selalu membandingkan anak dengan orang lain.
  3. Dituntut sempurna, orang tua sering menuntut anaknya menjadi sempurna dan sang anak berusaha untuk memenuhinya. Padahal tidak ada orang yang sempurna. Karena anak berusaha menjadi orang yang sempurrrna  seperti harapan orang tua, maka hal tersebut mendorong timbulnya rasa tidak aman pada anak.
  4. Perasaan tak berdaya, input negatif yaang terus menerus datang dari orang lain akan merampas dan menghancurkan harapan yang dimiliki anak.
  5. Komponen afektif

Merupakan penilaian individu terhadap diri. Penilain tentang diri sendiri merupakan pandangan kita tentang harga atau kewajaran kita sebagai pribadi. Bagaiman kita merasa tentang diri kita ? Apa kita suka atau tidak dengan pribadi kita? Jika kita suka dengan diri kita maka kita memiliki harga diri yang tinggi. Sebaiknya jika tidak maka kita memiliki harga diri yang rendah. Atau dengan kata lain penilain tersebut akan membentuk penerimaan terhadap diri, serta harga diri individu. Penerimaan terhadap diri dipengaruhi penerimaan orang lain terhadap dirinya. Semakin banyak orang menyukai dan menerima mereka, semakin senang orang dengan dirinya dan semakin kuat menerima dirinya. Sedangkan hargi diri merupakan dasar bagi pertumbuhan positif dalam hubungan kemanusiaan, belajar, berkreativias dan bertanggung jawab pribadi. Harga diri merupakan “semen” yang mengikuti kepribadian anak bersama-sama manjadi struktur yang positif, terpadu, dan efektif. ( Haris Clemes, Reynold Bean, Bagaimana Kita Meningkatkan Harga Diri Anak, Jakarta : Bina Rupa Aksara, 1995, hal. 3)

Pada dasarnya harga diri merupakan sebuah kesadaran akan seberapa besar nilai yang diberikan kepada dirinya sendiri. Artinya harga diri merupakan sebuah sikap bagaimana kita bisa memberikan sesuatu kepada diri sendiri agar bisa memuaskan batin sehingga tampak lebih percaya diri dan bisa menguasai keadaan disekitar kita. ( Aziz, Bachtiar, Sukses Ala Remaja, Yogyakarta : Saujana, 2005, hal. 27)

Harga diri seseorang akan mempengaruhi konsep diri mereka. Orang yang memiliki harga diri rendah pada umumnya memiliki konsep diri yang negatif. Menurut William D. Brooks dan Philip Emmert, ada lima orang yang memiliki konsep diri yang negatif yaitu :

  1. Ia peka terhadap kritik
  2. Responsif sekali terhadap pujian
  3. Sikap hiper kritis terhadap oarang lain
  4. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain
    1. Bersikap pesimis terhadap kompetisi ( Jalanuddin Rahmad, Op. Cit, hal. 131-132)

Di samping itu konsep diri yang negatif mempunyai pengaruh terhadap hidup kita, yaitu :

  1. Konsep diri yang negatif membuat kita cenderung memusatkan perhatian yang negatif-negatif dalam diri kita
  2. Konsep diri yang negatif mendorong kita untuk membuat perbandingan negatif dengan orang lain
  3. Konsep diri negatif menciptakan ingatan yang pilih-pilih, selektif, yang meneguhkan perasaan diri tak berharga
  4. Konsep diri yang negatif menciptakan sikap memihak dalam pandangan kita mengenai apa yang terjadi pada diri kita
  5. Konsep diri yang negatif cenderung membawa kita pada kegagalan ( Paul J Centi, Op. Cit, hal. 26-32)

Sebaiknya, orang yang memiliki harga diri yang tinggi umumnya memiliki konsep diri yang positif pula. Menurut William D. Brooks dan Philip Emmart orang yang mempunyai konsep diri positif ditandai dengan lima hal, yaitu:

  1. Ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah
  2. Ia merasa setara dengan orang lain
  3. Ia menerima pujian tanpa rasa malu
    1. Ia menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat
    2. Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadiannya yang tidak disenanginya dan berusaha merubahnya ( Ibid, hal. 132)

Konsep diri mempunyai pengaruh besar dalam hidup kita. Konsep diri yang baik dapat berakibat pada diri kita, konsep diri yang buruk akan berdampak pada diri kita. Untuk mengembangkan konsep diri yang sehat dan positif, kita sebainya :

  1. Belajar tentang diri sendiri. Pekalah terhadap setiap informasi, tanggapan, umpan balik, baik yang positif maupun yang negatif tentang diri kita entah lewat pengalaman atau diberikan oleh orang lain.
  2. Mengembangkan kemampuan untuk menemukan orang yang meresapkan kedalam hati kita, unsur-unsur positif, mengolah segi-segi negatif, dan mengenal hal-hal yang netral apa adanya.
  3. Menerima dan mengakui diri sebagai manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dapat berhasil dan dapat gagal.
  4. Memandang diri sebagai manusia yang berharga dan mampu mengurangi hidup ini dengan tujuan dan cita-cita menjadi manusia yang bermutu dan mampu menyumbang bagi kehidupan. ( Paul j Centi,Op. Cit, hal. 70-71)
  5. 2. Perkembangan konsep diri

Konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari pengalaman individu dalam berhubungan dengan individu lain. Dalam interaksi ini individu akan menerima tanggapan. Tanggapan-tanggapan tersebut akan dijadikan cermin bagi individu untuk menilai dan memandang dirinya sendiri. Jadi konsep diri terbentuk karena suatu proses umpan balik dari individu lain. Konsep diri didasarkan atas keyakinan individu mengenai pendapat orang yang penting dalam kehidupan mereka, yaitu orang tua, guru dan teman sebaya tentang diri mereka. ( Elizabeth B. Hurluck, Iop. Cit, Hal. 59)

Orang yang dikenal pertama kali oleh individu   adalah orang tua dan anggota keluarga lain. Ini berarti ini individu akan menerima tanggapan pertama dari lingkungan keluarga. Barulah setelah individu  mampu melepaskan diri dari ketergantungan keluarga, ia akan berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas.

Apa yang tampak pertama kali dalam setiap individu adalah keadaan fisik dan jenis kelaminnya. Dengan demikian apa yang direfleksikan pertama kali oleh individu lain mengenai diri individu adalah keadaan fisik dan jenis kelaminnya. Maka akan diuraikan peranan citra disik da jenis kelamin terhadap perkembangan konsep diri. Juga peranan prilaku orang tua dan lingkungan sosial dalam membentuk konsep diri. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagi berikut:

  1. Peranan  Citra Fisik

Setiap individu tidak dapat melihat  keseluruhan tubuhnya   kecuali bila ingin cermin yang dapat memantulkan bayangan tubuhnya.   Demikian pula halnya dengan  citra fisik yang hanya dapat terbentuk melalui refleksi dari individu lain.   Setiap individu menganggap bahwa ia akan mendapat tanggapan positif dari individu lain apabila ia berhasil mencapai patokan tubuh ideal. Kegagalan atau keberhasilan individu mencapai patokan ideal yang ditetapkan masyarakat merupakan keadaan yang sangat mempengaruhi pembentukan  citra fisiknya.

Padahal citra fisik merupakan sumber untuk membentuk konsep  diri. Penilaian  positif terhadap keadaan fisik seseoranng , baik dari diri sendiri maupun orang lain, sangat  membantu perkembangan konsep diri ke arah yang positif. Hal ini disebabkan penilaian positif akan menumbuhkan rasa puas terhadap keadaan diri. Rasa puas ini merupakan awal dari sikap positif  terhadap diri sendiri. Citra fisik diri biasanya terbentuk pertama-tama dan berkaitan dengan penampilan fisik anak, daya tariknya, dan kesesuaian atau ketidaksesuain dengan jenis kelaminnya dan   pentingnya berbagai bagian tubuh prilaku dan harga diri anak itu di mata yang lain.

  1. Peran Jenis Kelamin

Adanya perbedaan jenis kelamin, menyebabkan perbedaan pula pada konsep diri masing-masing jenis kelamin tersebut. Pada umumnya wanita mempunyai konsep diri lebih negatif dibanding laki-laki. Hal ini disebabkan sumber pembentukan konsep diri laki-laki berbeda dengan perempuan. Menurut Wilson, konsep diri laki-laki bersumber pada keberhasilan pekerjaan, persaingan dan kekuasaan. Konsep diri wanita bersumber pada keberhasilan tujuan pribadi, citra fisik dan keberhasilan dalam hubungan keluarga. ( Clara R. Pudjijogyanti, Op. Cit, hal. 25) Perbedaan sumber konsep diri antara laki-laki dengan perempuan mengakibatkan perbedaan dalam usaha mencapai dan menunjukan prestasi. Pada umumnya  wanita mempunyai  anggapan bahhwa keberhasilan yang dicapai merupakan suatu kebetulan atau keberuntungan. Lain halnya dengan laki-laki yang  selalu memandang keberhasilan sebagai   usaha dan kemampuan mereka.

c.      Peran Prilaku Orang Tua

Konsep diri berasal dan berakar pada pengalaman masa kanak-kanak dan berkembang, terutama sebagai akibat dari hubungan kita dengan orang lain. Kerena lingkungan pertama yang menanggapi prilaku kita adalah lingkunngan keluarga, maka dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan ajang dalam menentukan konsep diri anak. Pola asuhan orang tua,  hubungan orang tua dan anak, ibu yang bekerja, besarnya keluarga, urutan keluarga, akibat ketidakhadiran orang tua karena meninggal atau bercerai dan pola kepemimpinan orang tua merupakan aspek keluarga yang dapat mempengaruhi konsep diri anak.

Menurut Coopersmith, selain kondisi keluarga  yang buruk, konsep diri yang rendah juga disebabkan oleh tuntutan orang tua  terhadap prilaku anak. Anak yang mempunyai konsep diri yang tinggi akan menunjukkan prilaku yang  berbeda  dengan anak yang mempunyai konsep diri yang    rendah. Prilaku ini disebabkan perbedaan sistem nilai yang dianut orang tua mereka dalam menempatkan usaha pencapaian prestasi. ( Ibid, hal. 35) Oleh karena itu untuk mengembangkan konsep diri anak ke arah yang positif, diperlukan situasi keluarga yang dapat memberikan rasa aman pada anak yaitu dengan menerima anak,menghargai kegiatannya, dan memberi patokan prilaku yang jelas.

d.      Peranan Faktor Sosial

Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi individu dengan orang-orang di sekitarnya. Apa yang dipersepsikan individu lain mengenai diri individu, tidak terlepas dari struktur, peran, dan status sosial merupakan gejala yang disandang individu. ( Ibid, hal. 37) Struktur, peran dan status sosial merupakan gejala yang dihasilkan dari adanya interaksi antara individu satu dengan yang lainnya, antara individu dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok. Adanya struktur, peran, dan status sosial yang menyertai individu lain terhadap diri individu merupakan petunjuk bahhwa seluruh prilaku individu dipengaruhi oleh faktor sosial. Menurut Rosenberg, perkembangan konsep diri tidak terlepas dari pengaruh sosial, agama dan ras.

  1. Upaya Meningkatkan Konsep Diri Siswa

Siswa yang mengalami kesulitan untuk mmewujudkan kemampuannya akan meminta bantuan konselor atau guru di sekolah mereka. Kebanyakan siswa yang meminta bantuan menyatakan bahwa mereka tidak mampu menyelesaikan tugas sekolah, menyesuaikan diri dengan lingkunngan sekolah dan memusatkan diri pada pelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan siswa bermasalah tidak mempunyai kepercayaan terhadap kualitas kemampuan yang dimilikinya dalam menghadapi tugas-tugas di sekolah. Dengan kata lain, siswa-siswa yang datang meminta bantuan kepada konselor umumnya menunjukkan tingkat konsep diri yang rendah.

Pengarahan konsep diri  ke arah yang lebih poditif merupakan salah satu caranya dengan membantu siswa mengatasi masalah yang dihadapi sehubungan dengan tugas-tugas sekolah. Menurut Carl Roger ada tiga kondisi terapeutis yang memungkinkan adanya perubahan kepribadian yaitu adanya empati, pandangan positif dan keakraban dari konselor. ( Ibid, hal. 81-82) Ketiga kondisi tersebut juga efektif bila diterapkan dalam proses belajar mengajar. Empati yang diberikan guru akan menimbulkan perasaan tidak sendirian menghadapi seluruh tugas di sekolah serta perasaan diterima dan dipahami sebagaimana adanya dalam diri siswa. Empati guru dalam pengajaran akanditunjukkan dengan adanya toleransi dan penyesuaian diri dengan dunia siswa serta pemahaman akan kehidupan siswa.

Pandangan positif serta penerimaan guru terhadap seluruh kelemahan dan kelebihan siswa membantu meningkatkan kepercayaan siswa akan kemampuannya sehingga siswa menjadi lebih tertarik untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Pandangan positif dan sikap guru yang bisa menerima terlihat dari minat guru terhadap kegiatan yang dilakukan siswa. Minat ini diwujudkan dengan mengikkuti seluruh kegiatan yang dilakukan siswa, memperlihatkan kemajuan yang dicapai siswa, mendukung siswa ketika siswa menghadapi stress dalam menghadapi tugas sekolah, serta memberi penghargaan terhadap prestasi belajar.

Situasi keakraban yang tercipta dalam proses belajar mengajar akan menimbulkan rasa aman pada diri siswa sehingga ia bisa mewujudkan seluruh kemampuannya dan memecahkan masalahnya dalam menghadapi seluruh tugas sekolah. Situasi ini tercipta apabila guru dapat berinterksi dengan siswa dalam situasi dan sikap yang tidak mewujudkan statusnya sebagai guru.

Ketiga kondisi terapeutis tersebut sangat diperlukan dalam interaksi guru-siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar, sedangkan untuk meningkatkan konsep diri serta prestasi belajar siswa diperlukan enam kondisi tambahan yaitu:

  1. Membuat siswa merasa mendapat dukungan guru

Setiap  siswa membutuhkan adanya perasaan bahwa ia mendapat dukungan guru atas segala yang ia lakukan, namun tidak berarti bahwa siswa harus selalu mendapat limpahan bantuan guru. Dukungan tersebut menimbulkan perasaan tanggung jawab terhadap hasil belajarnya dan juga dorongan untuk menyelesaikan tugasnya sesuai dengan kemampuannya.

  1. Membuat siswa merasa bertanggung jawab

Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat keputusan sendiri atas prilakunya dapat diartikan sebagai usaha guru untuk memberi tanggung jawab kepada siswa. Tanggung jawab ini akan mengarahkan sikap positif siswa terhadap diri sendiri, yang diwujudkan dengan usaha pencapaian prestasi belajar yang tinggi serta peningkatan integritas pribadi dalam menghadapi tekanan sosial.

  1. Membuat siswa merasa mampu

Guru yang sudah mempunyai praduga bahwa siswa-siswa tidak akan mampu belajar dan tidak akan mendapat manfaat terhadap pelajaran yang diberikan akan menyebabkan siswanya bersikaap negatif terhadap kemampuannya. Sebaliknya bila guru berpandangan positif bahwa siswa mempunyai kemampuan belajar dan akan memperoleh manfaat dari pengajaran siswanya akan bersikap positif pula terhadap kemampuannya.

  1. Mendidik siswa untuk mencapai tujuan yang realistis

Keberhasilan dalam suatu tugas merupakan dasar untuk menilai keberhasilan pada tugas-tugas mendatang. Adanya konsep diri yang negatif disebabkan adanya penetapan tujuan yang tidak realistis, mungkin terlalu tinggi atau terlalu rendah. Pencapaian tujuan prestasi yang dilandasi oleh tujuan yang tidak relistis akan dipandang sebagai suatu kegagalan. Untuk menetapkan tujuan yang hendak dicapai serelistis mungkin, yaitu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki siswa.

  1. Membantu siswa menilai diri mereka secara realistis

Pada saat mengalami kegagalan. Adakalanya siswa menilai kegagalan secara negatif, dengan memandang dirinya sebagai seorang yang tidak mampu. Untuk menghindari hal itu siswa memerlukan bantuan guru untuk menilai prestasi mereka secara realistis yang membantu menambah rasa percaya  akan kemampuan mereka dengan menghadapi tugas-tugas sekolah dan meningkatkan prestasi belajar dikemudian hari.

  1. Mendorong siswa agar bangga dengan dirinya secara realistis

Rasa bangga akan keberhasilan yang telah dicapai merupakan salah satu kunci untuk menjadi lebih positif dengan memandang kemampuan yang dimiliki. Dengan mendorong siswa agar  bangga dengan keberhasilan yang dicapai berarti guru juga mendorong siswa untuk berusaha mencapai keberhasilan. Rasa bangga di sini tidak berarti sombong tetapi  rasa percaya diri bahwa dirinya mampu.

Selain hal diatas, menurut Burn ada beberapa latihan praktis yang dapat digunakan untuk meningkatkan konsep diri, yang dapat digunakan sebagai bagian dari prosedur konseling sekolah atau dalam kegiatan lproses belajar mengajar di kelas. Beberapa latihan tersebut yatiu: ( Ibid, hal. 89-98)

1)      Latihan pengenalan

2)      Latihan berfikir positif

3)      Latihan memproyeksikan citra diri

4)      Lembaran laporan mingguan

5)      Persahabatan

6)      Kalimat yang menjelaskan “AKU”

7)      Visualisasi keberhasilan

8)      Warta kelas

9)      Belajar menerima perasaan negatif

10)  Pemakaian kutipan

  1. PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

1.  Pengertian prestasi belajar

Kata “Prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Dalam bahasa Indonesia berarti “hasil usaha”. Menurut W.J.S. Poerwadarmanto, prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai. Prestasi merupakan hasil yang dicapai seseorang ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. Sedangkan belajar sendiri memiliki definisi bermacam-macam, diantarannya:

Menurut W.S Winkel, belajar adalah suatu aktifitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan daalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Prubahan itu bersifat secara konstan dan berbekas. ( Winkel. W. S, Psykology Pengajaran, Yogyakarta : Media Abadi, 2004, hal. 59)

Menurut Wasty Sumanto, belajar adalah suatu proses dan bukan hasil. Oleh karena itu belajar berlangung secara aktif dan integratif menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan.       ( Wasty, Soemanto, Psikologi Pendidkan, Jakarta : Bina Aksara, 1984, hal. 98)

Menurut Slameto, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. ( Slameto, Belajar dan faktor-fakto yang mempengaruhinya, Jakarta : Rineka Cipta, hal. 2)

Sehingga prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya dilanjutkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Berdasarkan hal tersebut prestasi belajar dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Prestai belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai ketika mengikuti dan mengerjakan pembelajaran di sekolah.
  2. Prestasi belajar siswa tersebut terutama dinilai dari aspek kognitifnya karena bersangkutan dengan kemampuan siswa dalam pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, sintesa dan evaluasi.
  3. Prestasi belajar siswa dibuktikan dan ditunjukkan melalui nilai atau angka nilai dari evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap tugas siswa dan ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya. ( Tulus Tu’u, Peran Disiplin pada Perilaku dan  Prestasi Belajar Siswa, Jakarta : Grasindo, 2004, hal. 75)

Jadi, prestasi belajar siswa terfokus pada nilai atau angka yang dicapai siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Nilai tersebut terutama dilihat dari sisi kognitif, karena aspek ini sering dinilai oleh guru untuk melihat penguasaan pengetahuan sebagai ukuran pencapaian hasil belajar. Nana Sudjana mengatakan di antara ketiga ranah ini yakni kognitif, afektif dan psikomotorik maka kognitiflah yang paling sering dinilai oleh guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran. ( Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Balajar Mengajar, Bandung : remaja Rosda Karya, 1990, hal, 23)

2.  Pengertian Matematika

Pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Sehingga pendidikan dipadang sebagai salah satu asek yang memiliki peranan pokok dalam membentuk generasi muda agar memiliki kepribadian yang utama. ( Zuhairini, dkk, Metodologi Pendidikan Agama, Solo : Ramadhani1993, hal, 3)

Sementara Matematika adalah ide atau konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya dedukif. ( Herman Hudoyo, 1988 : 2)

Maksud dari pelajarn matemetika di sini merupaka salah satu bidang studi yang wajib diikuti dan dikuasai oleh siswa, khususnya bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu.

3.   Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Menurut Horward Gardner, kecerdasan seseorang tidak tunggal berupa kecerdasan rasional ( IQ ). Sudah disadari bahwa kecerdasan ternyata jamak lebih dari satu, artinya dapat terjadi kecerdasan seseorang berbeda dengan orang lain. Agar seseorang berhasil dalam studi dan hidupnya kelas, maka pendidikan sebaiknya dilakukan dengan pendekatan pribadi dengan mempertimbangkan kecerdasan yang dimiliki siswa. Pendekatan pribadi ini diharapkan menolong siswa lebih berhasil dalam kegiatan belajar.

Dalam Quantum Teaching, Bobbi De Porter mengutip pendapat Verron Magnesen bahwa orang belajar 10 % dari apa yang dibaca, 20 % dari apa yang didengar, 30 % dari yang dilihat, 50 % dari apa yang didengar dan dilihat, 70 % dari apa yang dikatakan dan 90 % dari apa yang dikatakan dan dilakukan. (Bobbi De Porter, Quantum Teching, Bandung : Kaifa, 2000, hal. 57)Dalau demikian, strategi pembelajaran yang leebih memberi hasil yang baik bagi siswa adalah pembelajaran ayng banyak melibatkan siswa berfikir, berbicara, berargumentasi dan mengutarakan gagasannya. Sebaliknya hasil belajar siswa akan rendah apabila siswa hanya pasif dan menjadi pendengar ceramah denagn metode monolognya.

Bobbi De Potter mengatakan : pembelajaran yang berhasil haruslah dalam suasana menyenangkan dan menggembirakan. Untuk mencapai suasana tersebut, dipakai tahapan sebagai berikut :

  1. Ambak (apa manfaat bagi aku). Guru menumbuhkan minat dan manfaat belajar.
  2. Alami. Guru mengajak siswa mengalamainya dalam kegiatan atau bemain
  3. Namai. Guru mengajak siswa memberi nama konse, model, rumus, kata kunci yang mereka temukan
  4. Demonstrasi. Guru mengajak siswa menunjukkan apa yang mereka ketahui
  5. Ulangi. Guru memberi kesempatan siswa mengatakan bahwa, “Aku tahu bahwa aku memang tahu ini”
  6. Rayakan. Guru memberi pujian dan penghargaan dengan tepukan tangan atau cara lain atas partisipasi dan pendapat para siswa (Ibid, hal. 10)

Untuk ruanagan bealajr yang mendukung hasil belajar yang baik menurut Bobbi De Potter, perlu :

  1. Dicipta dengan poster ikon
  2. Memakai alat bantu atau peraga
  3. Ditambah aroma atau tanaman
  4. Disertai alunan musik klasik Baroq (Ibid, hal. 67)

Selain itu masih ada faktor lain yang penting dan mendasar ikut memberi kontribusi bagi keberhasilan siswa dalam mencapai hasil belajar yang baik. Faktor-faktor tersebut menurut Merson U. Sangalang terdiri atas :

  1. Faktor Kecerdasan (intelegensi) : Intelegansi adalah  Kemampuan yang di bawa sejak lahir yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu. (Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung Remaja Rosda karya, 1992,hal. 52)
  2. Faktor bakat : bakat adalah : kmampuan pada seseorang yang dibawa sejak lahir, yang diterima sebagai warisan orang tua. Bakat-bakat yang dimiliki oleh siswa apabila diberi kesempatan dikembangkan dalam pembelajaran akan menvapai prestasi tinggi
  3. c. Faktor minat dan perhatian. Minat adalah kecenderungan yang besar terhadap sesuatu. Perhatian aalah melihat dan mendengardenagn baik dan teliti terhadap sesuatu. Minat dan perhatian yang tinggi pada mata pelajaran akan memiliki dampak yang baik bagi prestasi belajar siswa
  4. d. Faktor Motif, Motif adalah dorongan yang membuat seseorang berbuat sesuatu. Dalam belajar kalau siswa mempunyai motivasi yang baik dan kuat akan memperbesar usaha dan kegiatannya mencapai prestasi yang tinggi
  5. e. Faktor cara belajar Cara belajar yang efisien memungkinkan mencapai prestasi yang lebih tinggi dibanding dengan cara yang tidak efisien.

Cara belajar yang efisien sebagai berikut :

  1. Berkonsentrasi sebelum dan pada pelajaran
  2. 2. Segera mempelajari kembali bahan yang telah diajarkan
    1. 3. Membaca dengan teliti dan baik bahan yang sedang dipelajari dan berusaha menguasai sebaik-baiknya
    2. 4. Mencoba menyelesaika dan melatih mengerjakan soal.
    3. f. Faktor lingkungan keluarga ; keluarga adalah salah satu potensi yang besar dan positif memberi pengaruh pada prestasi siswa. Orang tua sudah sepatutnya mendorong, memberi semangat, membimbing dan memberi teladan yang baik kepada anaknya. Selain itu perlu suasana hubungan dan komunikasi yang lancar serta keuangan keluarga.
    4. g. Faktor Sekolah ; Sekolah merupakan lingkungan yang sudah berstruktur, memilki sistem dan orang yang baik bagi penanaman nilai etik, moral, mental, spiritual, disiplin dan ilmu pengetahuan. Adanya kondisi kondusif sekolah dapat menolong siswa saling berkompetensi dalam pembelajaran. Keadaan ini diharapkan membuat hasil belajar siswa lebih tinggi.

4.  Faktor Penghambat Prestasi Belajar

Menurut Sri Rahayu, hambatan-hambatan dalam optimalsasi prestasi siswa antara lain dapat berasal dari dalam dirinya dan juga dari luar dirinya

  1. Penghambat dari dalam meliputi :

1)      Faktor Kesehatan; siswa yang kesehatannya sering terganggu menyebabkan banyak waktunya untuk beristirahat. Hal ini membuat tertinggalnya pelajaran. Prestasi kemungkinan belum dapat dicapai secara optimal.

2)      Faktor Kecerdasan; siswa yang tingkat kecerdasannya rendah akan menyebabkan kemampuan mengikuti kegiatan pembelajaran agak lambat sehingga hasil yang dicapaipun belum optimal.

3)      Faktor Perhatian; di sini terdiri dari perhatian dalam belajar di rumah dan di sekolah. Perhatian yang kurang akan berdampak kurang baik bagi hasil pembelajaran.

4)      Faktor Minat; tidak adanya minat akan membuat siswa tidak belajar dengan sungguh-sungguh sehingga hasil belajarpun tidak optimal.

5)      Faktor Bakat; apabila pelajaran yang diikuti siswa tidak sesuai dengan bakat yang dimiliki, prestasi belajar tidak mencapai hasil belajar yang tinggi.

  1. Penghambat dari luar meliputi

1)      Faktor keluarga; faktor ini dapat berupa orang tua, misalnya hubungan orang tua dan anak yang kurang baik, suasana rumah yang ramai dan faktor ekonomi keluarga yang buruk.

2)      Faktor sekolah; terdiri faktor metode pembelajaran, faktor hubungan guru dan murid, hubungan siswa dengan siswa, faktor guru, faktor sarana sekolah.

3)      Faktor disiplin sekolah; bila disiplin sekolah kurang mendapat perhatian mempunyai pengaruh yang  tidak baik pada proses belajar anak.

4)      Faktor masyarakat; faktor media massa, misalnya acara TV, radio, majalah dapat mengganggu waktu belajar. Faktor teman gaul yang kurang baik dapat mempengaruhi prestasi belajar dan prilaku siswa.

5)      Faktor lingkungan tetangga; misalnya banyak pengangguran, berjudi, mencuri, minum-minum dan cara berbicara kurang sopan.

6)      Faktor aktivitas organisasi; bila siswa sangat potensial, banyak aktivitas organisasi. Selain dapat menunjang hasil belajar dapat juga mengganggu hasil belajar apabila siswa tidak mengatur waktu dengan baik.

5. Faktor Pendukung Prestasi Belajar

Menurut Ausubel dan Ribinson Faktor pendukung prestasi belajar ada 3 komponen :

1. Faktor kognitif ; yang termasuk dorongan kignitif adalah kebutuhan untuk mengetahui , untuk mengerti dan untuk memecahkan masalah. Dengan dorongan kognitif maka siswa akan lebih dewasa dalam segala hal.

2. Faktor harga diri ; bahwa siswa melaksanakan tugas bukan untuk mencari pengetahuan tetapi untuk memperoleh status dan harga diri.

3. Faktor berafiliasi ; Bahwa siswa berusaha mengusai bahan pelajaran atau belajar dengan giat untuk memperoleh pembenaran dari orang lain yang dapat memberikan status padanya. Oleh karena itu mereka giat belajar, melakukan tugas dengan baik, agar memperoleh pembenaran tersebut.

C.     PENGARUH KONSEP DIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR

MATEMATIKA

Konsep diri menurut Williams D Brooks adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri kita dapat bersifat :

  1. Secara psikologis; keyakinan pada dirinya sendiri, merasa bodoh atau pandai, kemampuan dalam menyelesaikan tugas dan keoptimisan dalam menghadapi kegagalan.
  2. Secara sosial; komunikasi atau cara bergaul dengan teman, pendapat orang lain tentang dirinya berupa saran dan kritik, penerimaan terhadap orang lain.
  3. Secara fisik; pandangan/anggapan seseorang tentang wajahnya, keadaan dan bentuk tubuhnya. Ketiga hal tersebut dapat berpengaruh pada pendekatan siswa dalam menghadapi tugasnya dan lebih jauh lagi prestasi belajarnya.

Apabila dilakukan pengamatan terhadap cara siswa melakukan tugas akan terlihat berbagai pendekatan yang digunakan siswa untuk memahami dan melaksanakan tugas tersebut. Sebagian siswa memulai pendekatan dengan adanya minat terhadap tugas sebagai suatu hal penting  untuk dipelajari. Siswa lain memandang tugas sebagai sesuatu persyaratan dan kewajiban saja, sehingga mereka kurang antusias untuk menyelesaikan tugas. Di samping itu ada pula yang memandang tugas sebagai suatu hal yang tidak membawa manfaat, sehingga siswa merasa cemas dan menganggap tugas hanya sebagai beban saja.

Bentuk pendekatan yang dilakukan siswa untuk memahami dan melaksanakan tugas akan mempengaruhi hasil belajarnya sebab bentuk pendekatan yang dipilih dipengaruhi oleh sikap terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Pada umumnya, sistem nilai yang ditekankan pada dunia pendidikan adalah pencapain prestasi belajar. Prestasi belajar ini selanjutnya dijadikan patokan perilaku yang harus dicapai siswa. Dengan menetapkan prestasi belajar sebagai patokan perilaku, guru selalu berusaha agar siswa mencapai patokan tersebut. Sudah barang tentu tidak semua siswa berhasil mencapai prestasi belajar yang ditetapkan. Siswa yang berhasil mencapai prestasi yang ditetapkan, akan dipandang sebagai siswa yang mempunyai kemampuan dan usaha yang tinggi oleh guru dan siswa-siswa lain. Sebaliknya, siswa yang tidak berhasil mencapi prestasi belajar yang telah ditetapkan akan dipandang sebagai siswa yang tidak/kurang mempunyai kemampuan dan usaha.

Pandangan yang diberikan oleh guru maupun siswa lain merupakan tanggapan yang sangat mempengaruhi pembentukan konsep diri siswa. Tanggapan positif, yaitu memandang siswa sebagai siswa yang mempunyai kemampuan dan usaha tinggi akan membantu siswa bersikap positif terhadap dirinya sendiri. Sikap ini akan mempengaruhi pendekatan siswa dalam menghadapi tugasnya, dan lebih jauh lagi akan mempengaruhi prestasi belajar.

Walaupun studi dari Bachman O’Malley pada tahun 1977 membuktikan adanya hubungan yang erat antara konsep diri terhadap keberhasilan pendidikan, masih sering dipertanyakan apakah konsep diri mempengaruhi hasil pendidikan, atau sebaliknya. Untuk menjawab pertanyaan ini, Bloom mengemukakan bahwa keberhasilan pendidikan di sekolah bukanlah atau jaminan tumbuhnya konsep diri positif secara umum pada diri siswa, tetapi hal itu mampu meningkatkan peluang bagi siswa untuk mengembangkan konsep diri positif. Sebaliknya, kegagalan pendidikan di sekolah melahirkan kemungkinan yang besar individu (siswa) akan mengembangkan konsep diri akademik dan sekaligus meningkatkan kemungkinan bahwa siswa yang bersangkutan akan memiliki konsep diri secara umum. (Clara R Pudjijogyanti, Op. Cit, hal. 56)

Dari uraian Bloom dapat dilihat bahwa sesungguhnya konsep dir merupakan salah satu variable yang menentukan dalam proses pendidikan. Dan hubungan timbal balik antara konsep diri dengan prestasi belajar akan tampak apabila dilakukan pengukuran terhadap konsep diri spesifik, yaitu konsep diri akademis.

Untuk menjelaskan adanya hubungan yang erat antara konsep diri dengan prestasi balajar, Fink melakukan penelitian yang menghubungkan konsep diri dengan prestasi yang kurang (underachievement). Dalam penelitian ini Fink menggunakan 20 pasang laki-laki dan 24 pasang siswa perempuan. Siswa-siswa tersebut dipasangkan berdasarkan tingkat intelegensi mereka. Disamping itu, mereka digolong-golongkan berdasarkan prestasi belajar, yaitu :

  1. Overachievers (kelompok prestasi balajar lebih)
  2. Underachievers (beprestasi kurang).

Seluruh siswa diminta melengkapi skala citra diri, dan hasilnya dinilai oleh tiga orang psikolog. (Ibid, hal. 57)

Dari penelitian itu dapat disimpulkan bahwa perbedaan konsp diri antara siswa yang tergolong overachievers dan underachievers. Siswa yang tergolong overachievers menunjukkan konsep diri yang lebih positif. Walsh dalam penelitiannya juga membuktikan bahwa siswa-siswa yang tergolong underachiever mempunyai konsep diri yang negatif. Sedangkan menurut Jones dan Grieneeks bahwa konsep diri merupakan faktor yang paling baik diantara faktor non-intelektual lain untuk meramalkan prestasi belajar siswa.

Dari penelitian diatas dapat diketahi bahwa :

  1. i.                  konsep diri mempunyai hubungan yang erat dengan prestasi belajar siswa. Dan preatasi belajar siswa dapat diramalakan dengan melihat konsep diri siswa. Pada umumnya hasil penelitian tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan sikap dari siswa yang berprestasi tinggi dalam memandang diri mereka.
  2. ii.                  Siswa yang berprestasi kurang akan memandang diri mereka sebagai siswa yang tidak mempunyai kemampuan dan kurang dapat menyesuaikan diri dengan siswa lain. Mereka juga memandang orang-orang disekitar mereka sebagai lingkungan yang tidak dapat menerima mereka.

Perbedaan konsep diri antara siswa yang prestasi tinggi dan siswa yang kurang berprestasi menyebabkan adanya perbedaan dalam memandang keberhasilan yang dicapai. Siswa yang memandang dirinya negatif menganggap keberhasilan yang dicapai hanya sebagai kebetulan saja ataukarena faktor keberuntungan saja. Sedang siswa yang memandang dirinya positif akan menganggap keberhasilan sebagai adanya kemampuan.

BAB III

PENGARUH KONSEP DIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA MADRASAH IBTIDAIYAH ISLAMIYAH DAWU

  1. A. Paparan Data Umum

1. Letak Geografis Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu

Ditinjau dari segi geografis lembaga Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu berada  4 km dari kota Paron dan tepatnya berada di Jalan Gajah Mada No. 10 Dusun Blimbing Desa Dawu Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi.

Menurut observasi penulis, batas-batas Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu adalah seagai berikut :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Beran

b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tempuran

c. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Gunting

d. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Paron

Lembaga pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu merupakan lembaga yang bernaung dibawah Departemen Agama. Letak sekolah ini cukup strategis, tidak terlalu bising. Jadi cukup memberikan ketenangan dalam Proses Belajar Mengajar yang berarti cukup memenuhi syarat bagi sebuah lembaga pendidikan.

Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu menempati lokasi yang strategis dalam lingkungan masyarakat yang mendukung progam sekolah dalam ikut memelihara, menumbuhkan, meningkatkan dan mengembangkan pendidikan.

2. Sejarah Berdiri dan Perkembangannya

Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu berdiri pada tahun 1960. Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu didirikan oleh para tokoh NU yang bernama MI Ma’arif. Tokoh-tokoh tersebut antara lain :

  1. Moh. Damiri
  2. Samsul Qomari
  3. Abdul Gani

Pada tahun 1980 yang dulunya bernama MI Ma’arif berganti Nama Dengan MI Islamiyah Dawu, dengan plopornya, Yaitu :

  1. Mohammad
  2. Zaid Humam
  3. Mukhodar

Sedangkan Kepala Sekolah Yang pernah Mengepalai MI Islamiayah Dawu antara Lain :

  1. Moh. Damiri
  2. Mujiman
  3. Mardanus
  4. Sarni
  5. Siti Maimunah

Berdasarkan hasil observasi penulis,perkembangan kualitas dan kuantitas Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu tidak hanya menekan kepada aspek intrakurikuler saja, tetapi juga mengarahkan perhatian pada aspek ekstrakurikuler sebagai media untuk meningkatkan animo masyarakat terhadap Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu. Pengadaan tenaga edukatif yang relevan merupakan langkah prioritas yang ditempuh untuk meningkatkan kualitas Proses Balajar Mengajar.

Disamping melengkapi sarana dan prasarana pendidikan, kemudian dari segi kegiatan ekstrakurikuler pun pembinaan digalakkan sehingga berbagai prestasi dapat diraih terutama di Pramuka Dan Seni Hadrah.Dengan upaya yang maksimal tersebut. Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu dari tahun ke tahun semakin diminati masyarakat.

3.    Struktur Organisasi

Strukur organisasi dalam suatu perkumpulan atau lembaga sangat penting keberadaannya. Hal ini dengan adanya struktur organisasi akan mempermudah pelaksanaan progam yang telah direncanakan juga untuk menghindari kesimpangsiuran dalam pelaksanaan tugas antar pesonil sekolah, sehingga tugas yang dibebankan kepada masing-masing personil dapat berjalan dengan lancar serta mekanisme kerja pun  dapat diketahui dengan mudah.

Adapun struktur organisasi Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu         dapat dilihat pada lampiran 4. Untuk lebih jelasnya mengenai tanggung jawab dan tugas masing-masing personal adalah sebagai berikut :

  1. Kepala Sekolah

Bertugas membawahi dalam pengelolaan sekolah, bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilakukan di sekolah dan peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh.

  1. Komite sekolah

Merupakan pengganti dari BP-3, yakni suatu perkumpulan yang anggotanya siswa, guru, orang tua dan tokoh masyarakat yang berfungsi untuk bekerja sama dengan pihak sekolah dalam memenuhi sarana dan prasarana juga mengadakan pengawasan terhadap kegiatan sekolah.

  1. Bidang Kurikulum

Bertugas menyusun progam kegiatan Proses Belajar Mengajar yang berkaitan dengan penyusunan progam pengajaran, menyusun jadwal pelajaran dan jadwal kegiatan sekolah serta mengkoordinir kelancaran Proses Belajaar Mengajar.

  1. Bidang Kesiswaan

Bertugas menyusun progam kegiatan kesiswaan, membina dan

membimbing progam kegiatan  meliputi pramuka, UKS,  dan lain-lain serta menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler.

  1. Bidang Sarana dan Prasarana

Bertugas menyusun progam pengadaan, pemeliharaan dan pendayagunakan sarana prasarana yang dibutuhkan untuk menunjang Proses Belajar Mengajar.

  1. Bidang Humas

Bertugas membina kerja sama dengan masyarakat, mengembangkan hubungn dengan Komite Sekolah, memberikan informasi baik ke dalam maupun ke lur sekolah dan sebagai penghubung/moderator penyelesaian masalah antara sekolah dengan masyarakat.

  1. Wali Kelas

Bertugas melaksanakan pengelolan kelas, memberikan pengarahan dan mengkoordinir administrasi kelas, memotivasi siswa dalam proses belajar mengajar, bekerjasama dengan BP dalam membantu kesulitan belajar siswa

  1. guru

bertugas sebagai pendidik dan pengajar, merencanakan dan melaksanakan progam pengajaran, membimbing dan memotivasi siswa dan bertanggung jawab terhadap proses belajar mengajar.

4.   Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana merupakan komponen yang ikut menentukan keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran. Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran yang ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadahi dan lengkap maka proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar, hambatan-hambatan pun dapat diatasi sehingga tujuan pendidikan dapat dicapai sebagaiman yang diharapkan.

Untuk lebih jelasnya mengenai kondisi sarana dan prsarana yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu dapat dilihat pada tabel   berikut :

Tabel 3.1

Kondisi Sarana Madrasah Ibtidaiyah Isalmiyah Dawu

No Nama Barang Keterangan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Buku Pelajaran

Buku Bacaan

Papan Tulis

Bangku dan Meja Guru

Kursi dan Meja Murid

Alat Peraga Pelajaran

Almari dan Rak buku

Alat Olah Raga

Pengeras Suara

Gedung dan Ruang Kelas

Cukup Baik

Cukup Baik

Cukup Baik

Cukup Baik

Cukup Baik

Cukup Baik

Cukup Baik

Cukup Baik

Cukup Baik

Cukup Baik

Tabel 3.2

Kondisi Prasarana Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu

No Nama Barang Keterangan
1.

2

3.

4.

5.

6.

7.

Kantor kepala sekolah

Ruang kelas

Perpustakaan

Ruang UKS

Mushola

Kamar mandi

Kantin

1 buah

5 buah

1 buah

1 buah

1 buah

2 buah

1 buah

Demikianlah keadaan sarana dan prasarana yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu. Semuanya itu merupakan kekayaan yang sangat berharga. Menurut observasi penulis bahwa sarana dan prasarana yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu telah digunakan sebagaimana mestinya dan dalam kondisi yang terawat.

5.   keadaan Guru dan siswa

a.  Guru

Guru atau pendidik dalam kegiatan proses belajar mengajar adalah salah satu faktor yang sangat signifikan. Siswa dan segala fasilitas pendidikan yang ada tidak dapat berjalan tanpa adanya seorang guru. Oleh karena itu guru dalam menjalankan tugasnya harus bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab atas lancarnya proses belajar mengajar, bahkan harus juga bertanggung jawab terhadap keberhasilan dari semua materi yang telah disampaikan.

Para guru Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu                                  terdiri dari guru-guru yang profesional dalam usaha meningkatkan mutu siswanya. Guru Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu juga merupakan guru yang memiliki kompetensi yang cukup memadai sesuai ilmu dan bidangnya masing-masing. Hal ini terbukti para guru sebagian besar alumni dari perguruan tinggi dengan gelar sarjana (SI). Jumlah guru yang ada di sekolah ini sebanyak  orang yang terdiri dari  guru dinas dan  guru tidak tetap. Adapun personil guru, pegawai Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah dawu terdapat dalam lampiran 5.

  1. Siswa

Yang dimaksud siswa adalah mereka yang secara resmi menjadi siswa Madrasah Islamiyah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu dan terdaftar dalam buku induk sekolah. Adapun pada saat penulis melakukan penelitian ini, jumlah siswanya adalah  148 orang yang terdiri dari 80 siswa laki-laki dan 68 siswa perempuan yang menempati 5 ruang belajar. Untuk lebih jelasnya mengenai kondisi siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.3

Keadaan siswa Madrasah IbtidaiyahIslamiyah Dawu

No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
1

2

3

4

5

6

I

II

III

IV

V

VI

Jumlah 80 68 113

  1. B. Paparan Data Khusus
    1. 1. Data Tentang Konsep Diri Siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu

Data ini penulis peroleh dari penyebaran angket penelitian di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu pada kelas V dan kelas VI tahun pelajaran 2009/2010. Jumlah angket yang penulis sebarkan adalah 43 lembar yang berisi 15 item. Selanjutnya rekapitulasi skor jawaban angket konsep diri siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu dapat di lihat pada lampiran 6. Sedangkan skor jawaban angket dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.4

Skor jawaban angket siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu

No Kode Nama Skor No Kode Nama Skor
1

2

3

4

5

SA

AS

NI

AK

FZ

34

39

39

37

38

23

24

25

26

27

FN

FMT

FMS

GAR

GA

33

33

37

32

35

6

7

8

9

10

KR

SR

YA

IF

RB

38

39

40

40

31

28

29

30

31

32

IN

IM

ID

MS

MF

31

40

37

37

37

11

12

13

14

15

FD

AK

AR

AA

AP

30

35

33

38

36

33

34

35

36

37

RN

RM

SD

YS

REP

39

38

36

32

39

16

17

18

19

20

AE

AD

CT

CT

DA

38

36

37

34

34

38

39

40

41

42

AR

AI

DS

CE

EP

33

33

34

39

34

21

22

FR

FA

36

35

43 EE 36

  1. 2. Data Tentang Prestasi Belajar Siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu

Dalam membicarakan prrestasi belajar, maka tidak lepas dari masalah penilaian sebab prestasi belajar dicapai oleh siswa setelah mengikuti atau melalui proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat dibuktikan dan ditunjukkan melalui nilai atau angka nilai dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap tugas siswa dan ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya. Untuk memperoleh data tentang prestasi belajar Matematika siswa kelas V DAN VI Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawa tahun pelajaran 2009/2010, penulis mengambil data dari raport semester I. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 3.5

Prestasi belajar Matematika siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dawu

No Kode Nama Skor No Kode Nama SKOR
1

2

3

4

5

SA

AS

NI

AK

FZ

7,3

7

7,3

6,6

8

23

24

25

26

27

FN

FMT

FMS

GAR

GA

7,3

7

7,6

7,6

7,3

6

7

8

9

10

KR

SR

YA

IF

RB

7,3

7,3

7,3

7,3

6,6

28

29

30

31

32

IN

IM

ID

MS

MF

7,3

8,6

8

8

7,6

11

12

13

14

15

FD

AK

AR

AA

AP

6,6

7,6

7,6

7,3

7,6

33

34

35

36

37

RN

RM

SD

YS

REP

8,3

7,6

7

7,3

8

16

17

18

19

20

AE

AD

CT

CT

DA

7,3

8

7,6

6,6

6,6

38

39

40

41

42

AR

AI

DS

CE

EP

7,3

7,3

7

7,3

7

21

22

FR

FA

7

8,3

43 EE 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: