skripsi6

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Keluarga adalah pokok pertama yang akan mempengaruhi manusia dalam kepribadiannya, terutama tingkah laku, budi pekerti, opini dan lain-lain. Lembaga keluarga adalah lembaga yang sangat kuat berdiri di tengah masyarakat, diseluruh dunia, sejak zaman purba hingga kini. Ia merupakan tempat manusia mula-mula di gembleng untuk mempengaruhi hidup. Orang tua mewariskan anaknya, selain kondisi fisik yang langsung mempengaruhi diri seseorang seumur hidup berupa fisik turunan juga membekas dalam sikap watak dan mentalnya. Pergaulan yang terus menerus antara orang tua dan anak hingga dewasanya, juga akan membekas dan membentuk sesuatu dalam diri anak yang bersangkutan.

(M. Syafaat Habib, 1982 : 55-56)

Dalam pandangan Islam, anak adalah amanat yang dibebankan oleh Allah kepada manusia (orang tua), karena itu orang tua harus menjaga dan memelihara serta menyampaikan amanah itu kepada yang berhak menerima karena manusia adalah amanah Allah mereka harus mengaturkan anaknya untuk mengenal dan menghadapkan kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 6 :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ

Atinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(Q.S. At-Tahrim : 6)

(Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, hal. 951)

Menjaga diri artinya setiap orang yang beriman harus dapat melaksanakan selft education dan melakukan pendidikan terhadap anggota keluarganya untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, sesuatu hal yang mustahil dalam pandangan Islam kita seorang yang tidak berhasil mendidik diri sendiri akan dapat melakukan pendidikan kepada orang lain. Karena itu untuk menyelamatkan orang lain harus lebih dahulu meyelamatkan dirinya dari api neraka. (Chabib Toha, 1996. 103-104)

Tapi pada kenyataanya tidak semua orang tua mampu melaksanakan pendidikan agama Islam pada anaknya, pada hal ini sangat penting dan berpengaruh terhadap Aqidah dan akhlaknya.

Dalam judul di atas sengaja penulis menghubungkan antara pendidikan agama Islam dalam keluarga dengan prestasi belajar Aqidah akhlak anak. Karena dalam dunia yang sudah maju ini perubahan begitu cepat sehingga terjadi pergeseran baik buruk  khususnya yang menyangkut nilai-nilai agama.

Seorang pengarang rusia Alex Sander I Solzhenitsyn bertanya bila kita dipisahkan dengan konsep baik buruk, apalagi yang masih  tersisa ? tampaknya akan mendapatkan jawaban tidak ada lagi kecuali menempati status yang sama dengan binatang ( A. Syafifi M, 1991 : 147)

Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 1 dan 13 tentang “Sistem Pendidikan Nasional” yang berbunyi :

Ayat 1 :     Pendidikan adalah usaha sadar dan berencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Ayat 13 :   Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan (UU RI, Sistem Pendidikan Nasional : 3-4)

Banyak kenakalan remaja yang terjadi sekarang ini, hal ini mungkin kurangnya wibawa dan peranan orang tua dalam pendidikan agamanya, karena hal tersebut maka terutama anak-anak masa seusia SD/MI harus di gembleng mental agamanya karena mereka-mereka nanti adalah sebagai estafet bangsa.

Dari uraian di atas penulis ingin mengetahui peranan orang tua tentang pendidikan informal terhadap prestasi belajar Aqidah akhlak siswa MI PSM Sulursewu Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi.

  1. B. Perumusan Masalah
    1. Apakah semua orang tua siswa MI PSM Sulursewu Paron.Ngawi melaksanakan pendidikan informal terhadap anaknya ?
    2. Bagaimana prestasi belajar Aqidah akhlak siswa MI PSM Sulursewu Paron.Ngawi ?
    3. Apakah terdapat hubungan antara pelaksanaan pendidikan informal dalam keluarga dengan prestasi belajar Aqidah akhlak siswa MI PSM Sulursewu Paron Ngawi ?
    4. C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai. (Suharsimi Arikunto : 1986, 41)

Untuk itu penelitian yang akan penulis lakukan mempunyai tujuan sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui  orang tua siswa MI PSM Sulursewu Paron.Ngawi melaksanakan pendidikan informal terhadap anaknya ?
  2. Untuk mengetahui prestasi belajar Aqidah akhlak siswa MI PSM Sulursewu Paron.Ngawi ?
  3. Untuk mengetahui hubungan antara pelaksanaan pendidikan informal dalam keluarga dengan prestasi belajar Aqidah akhlak siswa MI PSM Sulursewu Paron Ngawi ?
  4. D. Hypotesa

Dalam penulisan ini akan penulis cantumkan hipotesa sebagai berikut : “ terdapat hubungan antara pelaksanaan pendidikan informal dengan prastasi belajar Aqidah akhlak siswa MI PSM Sulursewu Paron.Ngawi.

  1. E. Kegunaan Penelitian

Dengan hasil penelitian ini diharapkan kegunaan atau manfaat sebagai berikut: “Bagi penulis sebagai sarana untuk menambah wawasan dan memperkaya ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan”.

  1. F. Ruang lingkup penelitian

Dalam penelitian ini ruang lingkup penelitian adalah :

  1. Siswa kelas V dan VI MI PSM Sulursewu Paron Ngawi
  2. Orang tua kelas V dan VI , karena sebagai sampel dalam penelitian ini nanti adalah V dan VI.
  3. G. Sistematika Pembahasan

Dalam penulisan skripsi ini, penulis hendak menyajikan penulisan dengan sitematika penulisan sebagai berikut:

Bab I      :     Meliputi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesa, kegunaan penelitian, ruang lingkup penelitian, dan sistematika penelitian.

Bab II     :     Kajian Pustaka meliputi pengertian pendidikan informal dan pengertian prestasi belajar Aqidah akhlak.

Bab III   :     Metode Penelitian, meliputi tiga komponen yaitu populasi dan Sampel,teknik pengumpulan data dan analisa data.

Bab IV :             Laporan dari Hasil Penelitian yang membahas tentang garis besar situasi dan kondisi desa Sulursewu dan data siswa MI PSM Sulursewu Paron Ngawi, penyajian data, data yang diperlukan serta analisa data.

Bab V     :     Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran-saran.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A. Pendidikan Informal
  1. Pengertian Pendidikan Informal

Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 13 tentang “Sistem Pendidikan Nasional” yang berbunyi :

Ayat 13 :      Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Serta Bab I pasal 1 ayat 1 “Sistem Pendidikan Nasional” yang berbunyi :

Ayat 1 :        Pendidikan adalah usaha sadar dan berencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU RI, Sistem Pendidikan Nasional : 3-4

Dari pengertian tersebut maka pendidikan informal itu tidak hanya membimbing pada pertumbuhan jasmani saja atau rohani saja akan tetapi harus kedua-duanya mendapat bimbingan, arahan, ajaran, dan latihan berlakunya semua ajaran Islam.

Adapun pengertian keluarga menurut Freman Showel (dalam Arifin : 67) adalah tempat persekutuan hidup terkecil dari masyarakat Negara secara luas.

Zakiyah Darajad (1987 : 81) keluarga adalah suatu system kehidupan masyarakat yang terkecil dan dibatasi oleh agama, adanya keturunan atau di sebut ummah akibat adanya kesamaan agama.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan informal adalah bimbingan terhadap pertumbuhan jasmani dan rohani yang dilakukan dalam lingkungan masyarakat yang terkecil.

Pendidikan informal ditinjau dari susunan kalimatnya terdiri dari “Pendidikan” yang berarti usaha seseorang untuk memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan. Sedang informal adalah jalur keluarga dan lingkungan. Jadi pengertian pendidikan informal adalah usaha seseorang untuk memelihara dan memberi latihan mengenai kecerdasan, keterampilan jasmani dan rohani. Pendidikan informal akan membawa anak didiknya kepada kemulyaan sesuai dengan hakekat manusia itu diciptakan, firman Allah dalam surat At-Tiin ayat 5-6 :

¢OèO çm»tR÷ŠyŠu‘ Ÿ@xÿó™r& tû,Î#Ïÿ»y™ ÇÎÈ

žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏHxåur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßgn=sù íô_r& çŽöxî 5bqãYøÿxE ÇÏÈ

Artinya :       5. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

(Dep. Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, hal. 45)

Manusia sebenarnya diciptakan Allah sebagai makhluk yang mulia yang mempunyai kelebihan –kelebihan dibandingkan dengan makhluk yang lain, akan tetapi manusia akan berubah menjadi rendah apabila mereka tidak mau menuruti perintah dan larangan Allah dan Rasulnya, bahkan mereka disamakan dengan binatang.  Hal inilah perlunya pendidikan pada manusia, sebab hanya pendidikanlah yang membedakan derajat sesama makhluk.

Menurut Abdullah Nasih Ulwan, pendidikan bukanlah sekedar upaya memanusiakan manusia, tetapi dengan jelas dan rinci ia menyebutkannya sebagai upaya membina mental, melahirkan generasi, membina umat dan budaya, serta memberlakukan prinsip-prinsip kemanusianan dan peradaban (Abdul Khalik dkk. 989 : 54)

Tujuannya sangat jelas yaitu untuk merubah umat manusia dari kegelapan, syirik, kebodohan, kesesatan dan kekacauan menuju cahaya tauhid, ilmu, hidayah dan kemantapan.

Zakiah Darojat (1987 : 181) keluarga mempunyai pengertian suatu system kehidupan masyarakat yang terkecil dan dibatasi oleh agama, adanya keturunan atau disebut juga ummah akibat adanya kesamaan agama.

Pengertian ini dapat terbukti pada kehidupan sehari-hari umat Islam. Umpamanya dalam hukum waris yang menunjukkan bahwa hubungan persaudaraan atau keluarga dalam pengertian keturunan tidak terbatas hanya kepada ayah ibu dan anak saja.

Freman Showel (dalam Arifin : 67) keluarga adalah tempat persekutuan hidup terkecil dari masyarakat Negara yang luas.

Mengingat pentingnya fungsi yang demikian itu maka Islam memandang keluarga bukan hanya sebagai persekutuan hidup terkecil saja, tetapi Islam lebih dari itu yakni sebagai lembaga hidup manusia yang dapat memberi kemungkinan celaka dan bahagianya anggota keluarga itu.

  1. Tujuan pendidikan informal dalam Keluarga

Berbicara masalah tujuan adalah berbicara masalah apa yang akan dihasilkan sesudah adanya perbuatan atau usaha. Semua usaha pada umumnya diarahkan pada pencapaian tujuan yang ia kehendaki. Untuk dapat diketahui dan diukur tercapai atau tidaknya suatu tujuan, harus nyata batas-batas tersebut.

Didalam dunia pendidikan tujuan sangat komplek sekali batasan-batasannya. Hal ini disebabkan karena banyaknya ahli-ahli pendidik serta falsafah-falsafah bangsa yang berbeda. Dijaman modern ini pendidikan telah terorganisir secara masal, yang telah diatur langsung oleh pemerintah yang bersangkutan.

Di Indonesia pendidikan telah diatur oleh Departemen Pendidikan Nasional. Disamping itu Departemen Agama juga berperan aktif pada pendidikan agama khususnya. Dua departemen tersebut bersama-sama mengarahkan pendidikan di Indonesia yang bergerak dibawah falsafah bangsanya yaitu Pancasila.

Sebelum membahas dan menguraikan tentang tujuan informal, maka terlebih dahulu akan penulis jelaskan tentang tujuan akhir dari pendidikan nasional di Negara Indonesia, yang diharapkan dapat membantu pembahasan selanjutnya.

Dalam proses pendidikan tujuan akhir merupakan tujuan yang tertinggi yang akan dicapai. Tujuan akhir pendidikan informal merupakan kristalisasi nilai-nilai ideal Islam yang diwujudkan dalam pribadi anak didik. Oleh karena itu harus meliputi semua aspek yang terintegrasi dalam pola kepribadian yang ideal. Dalam konsepsi Islam pendidikan berlangsung sepanjang hayat manusia. Oleh karena itu tujuan akhir pendidikan harus terefleksi sepanjang hidup manusia. Dengan demikian tujuan akhir informal pada dasarnya sejajar dengan tujuan hidup manusia dan peranannya sebagai makhluk ciptaan Allah sebagaimana kata Hasan Langgalung (dalam Abdul Khaliq dkk, 1999 : 47)

Jadi tujuan yang dimaksud adalah membentuk insan kamil yang muttaqin, dan terefleksikan dalam tiga perilaku yaitu hubungan baik antara manusia dengan Allah (khaliq), hubungan baik dengan sesama manusia dan hubungan baik dengan alam sekitar.

Menurut Abdullah Nasikh Ulwan pendidikan itu tidak hanya sekedar memanusiakan manusia, tetapi dengan jelas dan rinci ia menyebutkannya sebagai upaya membina mental, melahirkan generasi, membina umat serta memberlakukan prinsip-prinsip kemuliaan dan peradaban.

Jadi ukuran keberhasilan suatu system pendidikan, menurut Abdullah Nasih Ulwan tersebut, adalah perubahan tingkah laku si terdidik. Nash-nash dan mushaf-mushaf sendiri tidak bisa berbuat apa-apa sebelum  menjelma pada diri seseorang, dan pondasi-pondasi itu tidak dapat hidup kecuali ia sudah menjelma menjadi tingkah laku. Oleh karena itu, tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW, yang pertama adalah meyempurnakan akhlak umatnya. Dalam hal ini terutama pendidikan untuk anak-anak ada bagian pendidikan yang paling mendasar, yang bertujuan mempersiapkan dan membina setiap individu supaya menjadi anggota masyarakat yang berguna dan menjadi insan yang shaleh didalam hidup bermasyarakat.

Setiap orang tua selalu menginginkan anaknya menjadi orang yang berkembang secara sempurna. Mereka menginginkan anak yang dilahirkan itu kelak menjadi orang yang sehat, kuat, berketrampilan, cerdas, pandai serta beriman.

Sesuai dengan bahasan di atas, bahwa keluarga sebagai lembaga atau lembaga badan pertama dan utama yang terpenuhi oleh kebutuhan jasmani dan rohani, maka pendidikan dalam keluarga harus merupakan pendidikan dan pengajaran pendahuluan atau persiapan bagi pendidik pada lembaga sekolah atau masyarakat. Dan oleh karena itu, pendidikan dalam rumah tangga harus mempunyai tujuan, sedang tujuannya itu ialah “ agar anak mampu berkembang secara maksimal.” Hal ini meliputi seluruh aspek perkembangan anak, yaitu perkembangan jasmani, rohani dan akal.

Dari sini nampak jelas, bahwa fungsi dan tujuan pendidikan sangat diperlukan dalam rangka menanamkan nilai pengetahuan pada anak, mencapai kebahagiaan dan keberhasilan dalam membentuk dan membina rumah tangga bahagia dunia dan akhirat.

Selain itu juga berfungsi sebagai lingkungan anak yang faktor-faktor kondisional dan situasional lingkungan keluarga tersebut dapat memberikan pengaruh menguntungkan atau merugikan pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam menanamkan dasar pendidikan moril, dimana pendidikan ini tidak diberikan dengan penerangan atau ceramah, tetapi melalui contoh-contoh yang kongkrit dalam perbuatan sehari-hari. Dalam hal ini observasi terhadap orang tua dilakukan selama pembimbing berhadapan dengan orang tua : bagaimana keadaan fisik, mental, emosi dan sikapnya terhadap anak. Beberapa hal yang dapat diamati, yaitu :

  1. Orang tua yang terlau cemas terhadap kesehatan anaknya, mungkin terlalu melindungi anak, sehingga pada anak timbul sifat-sifat penakut
  2. Orang tua yang terlalu memanjakan anak, maka anaknya menjadi seorang yang penuntut
  3. orang tua yang bersifat tidak mempedulikan anak, sehingga timbul sikap mendendam (Singgih D Gunausa;Psikologi untuk membimbing, hal. 57-58)

Oleh karenanya usaha-usaha pendidikan keluarga sebagai lingkungan utama dan pertama adalah penting sekali dengan berdasarkan :

  1. Firman Allah SWT dalam surat At Tahriim ayat 6 dan surat Asy Syu’ara ayat 214

Surat At Tahrim ayat 6 yang berbunyi sebagai berikut :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR ÇÏÈ …

artinya : “Hai orang-orang yang beriman periharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka … (Q.S. At Tahriim : 6) (Depag RI, Al Qur’an dan terjemahan : 560)

Surat Asy-Syu’araa ayat 214 yang berbunyi sebagai berikut :

ö‘É‹Rr&ur y7s?uŽÏ±t㠚úüÎ/tø%F{$# ÇËÊÍÈ

Artinya : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (Q. S Asy Syu’araa : 214) (Depag RI, Al Qur’an dan terjemahan : 376)

  1. Undang-undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia

“Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anak”. (UURI;Sistem Pendidikan Nasional,hal. 7)

Orang tua dari anak usia wajib belajar berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya.” (UU RI, Sistem Pendidikan Nasional,hal. 7)

  1. Faktor-faktor Pendidikan.

Faktor-faktor pendidikan yaitu pendidik, anak didik, materi pendidikan, metode, dan evaluasi (Abdul Khaliq, 1999 : 560. Pendidik, untuk berhasilnya sebuah system pendidikan, faktor pendidik memiliki peran yang sangat penting, bagaimanapun dia adalah seorang penyampai ilmu, memberi nasehat dan teladan bagi anak didiknya. Untuk itu dia harus mampu mempertahankan penampilannya sebagai orang terbaik dimata anak didiknya.

Abdullah Nasikh Ulwan, mensyaratkan bagi setiap pendidik untuk memiliki sifat-sifat asasi yaitu ikhlas, bertaqwa, berilmu, bersikap, dan berperilaku santun dan memiliki rasa tanggung jawab. (Abdullah Khaliq, 1999 : 56)

Seorang pendidik ketika mendidik anaknya hendaknya menetapkan sifatnya semata-mata untuk Allah dalam seluruh pekerjaan edukatifnya, baik berupa perintah, larangan, nasehat. Dengan begitu dia dapat melaksanakan pendidikan dan dapat mengawasi anak-anak secara terus menerus. Ia juga mendapat pahala dan keridloan Allah. Disamping itu jika seorang pendidik melaksanakan tugasnya dengan iklas, maka apa yang dinasehatkannya adalah sebagian dari asas iman dan ajaran Islam. Allah tidak akan menerima perbuatan tanpa dikerjakan dengan iklas.

Seorang pendidik atau orang tua adalah teladan atau panutan yang akan diikuti dan ditiru anak sekaligus penanggung jawab pertama dalam pendidikan anak berdasarkan ilmu dan ajaran Islam. Jika pendidik tidak menghiasi dirinya dengan taqwa dan berperilaku dengan muamalah yang Islami, maka anak akan menyimpang, terombang-ambing,berada dalam lumpur dosa berselimut kemungkaran dan kerusakan.

Seorang pendidik harus memiliki ilmu pengetahuan perihal pokok-pokok pendidikan yang dibawa oleh syari’at Islam. Dia juga harus menguasai hukum-hukum halal dan haram, mengetahui prinsip-prinsip etika Islam dan memahami secara global peraturan-peraturan dan kaidah-kaidah syariat Islam. Penguasaan kemampuan dasar ini akan mengantarkan seorang pendidik untuk menjadi alim dan bijak. Mampu meletakkan segala sesuatu pada tempat yang sebenarnya.dapat mendidik anak-anak pada pokok-pokok dan persyaratan agama, dapat mendidik dan memperbaiki sikap dan perilaku anak dengan berpijak pada dasar-dasar kokoh ajaran-ajaran Al-Qur’an. Jika orang tua (pendidik) tidak mengetahui kaidah-kaidah asasi dalam pendidikan ini, maka anak akan dilanda kemelut spiritual, moral dan sosial.

Seorang pendidik (orang tua) akan tampil lebih terpuji dan disukai anak-anaknya, sehingga akan lebih berhasil dalam menjalankan tugas pendidikannya, termasuk tanggung jawabnya membentuk dan memperbaiki kepibadian anak-anak. Karena orang tua merupakan teladan bagi anak-anaknya, maka orang tua harus santun yang nantinya akan memberikan pengaruh positif pada anak-anaknya, sehingga mereka menghiasai dirinya dengan akhlak terpuji dan terjauh dari perangai tercela.

Disamping itu seorang pendidik harus menanamkan dalam hatinya rasa tanggung jawab yang benar dalam pendidikan anak, bagi segi ilmu perangai, pembentukan jasmani dan dalam mempersiapkan mental dan sikap sosial. Rasa tanggung jawab ini akan mendorong upaya mengawasi anak dan memperhatikannya, mengarahkan, mengikutinya, membiasakan dan melaihnya, dan orang tua menyadari bahwa kalau ia melalaikan tanggung jawabnya maka pada suatu ketika secara bertahap anak akan terjerumus pada jurang kerusakan. Jika kerusakan anak sudah parah, maka teramat sulit bagi orang tua untuk memperbaiki.

Fakor-faktor pendidikan yang kedua adalah anak didik. Anak adalah objek pendidikan. Dialah pihak yang diajak, dibina, dan dilatih untuk dipersiapkan menjadi manusia yang kokoh iman dan islamnya serta berakhlak mulia, bagaimanapun kondisi seorang anak, ia harus diterima sebagai amanah bagi orang tuanya. Untuk itu, wajib ditanamkan padanya dasar-dasar keimanan, ajaran-ajaran Islam, dan nilai-nilai kemuliaan akhlak, agar ia hidup dengan damai, dan tenteram dibawah Rasulullah SAW.

Faktor-faktor pendidikan yang ketiga adalah materi pendidikan untuk mewujudkan generasi kokoh iman dan Islamnya.

Abdullah Nasih Ulwan (dalam Abdul Khaliq, 1999 : 62) menekankan materi pendidikan yang bersifat mendasar dan universal materi-materi pendidikan tersebut adalah pendidikan Iman akhlak, fisik intelektual, psikis, sosial dan seksual.

Yang dimaksud pendidikan iman adalah mengikat anak-anak dengan dasar-dasar, rukun Iman, rukun Islam, dan dasar-dasar Syari’ah, sejak anak mulai mengerti dan dapat memahami sesuatu. Dalam pendidikan iman orang tua mengenalkan hukum-hukum halal haram pada anak-anaknya. Menyuruh anak shalat ketika berusia tujuh tahun, mendidik anak untuk mencintai Rasul dan membaca Al-Qur’an.

Adapun pendidikan akhlak (moral) adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa anak hingga ia menjadi seorang mukalaf. Tujuan dari pendidikan akhlak ini adalah untuk membentuk benteng religius yang berakhar pada hati sanubari. Benteng tersebut akan memisahkan anak dari sifat-sifat negativ, kebiasaan dosa dan tradisi-tradisi jahiliah.

Pendidikan fisik merupakan tanggung jawab orang tua (ayah ibu). Pendidikan fisik ini akan menjamin anak tumbuh dewasa dengan kondisi fisik yang kuat dan selamat, sehat dan bergairah. Diantara metode praktis yang digariskan Islam dalam mendidik fisik anak memberi aturan yang sehat dalam hal makan, minum dan tidur, pengobatan terhadap penyakit, membiasakan anak untuk berolah raga dan sebagainya.

Pendidikan intelektual ini sangat erat hubungannya dengan pendidikan iman moral dan fisik dalam rangka membentuk pribadi anak secara integral.

Pendidikan psikis adalah upaya mendidik anak agar berani bersikap, berani berterus terang, merasa mampu, suka berbuat baik terhadap orang lain, mampu menahan diri ketika marah serta senang kepada seluruh bentuk keutamaan.

Pendidikan sosial merupakan pendidikan yang bertujuan membiasakan anak-anak untuk menjalankan adab sosial yang baik. Dengan pendidikan tersebut, anak dapat tampil dengan adab pergaulan yang baik terhadap orang lain, mampu menahan diri ketika marah serta senang kepada seluruh bentuk keutamaan.

Pendidikan seksual, dengan pendidikan ini anak akan dapat memahami urusan-urusan kehidupan yang dihalalkan dan diharamkan. Lebih lanjut ia akan mampu menerapkan ajaran Islam dalam hal akhlak, kebiasaan dan tidak akan mengikuti dorongan syahwat.

Abdul Khaliq dkk (1999 : 66) Metode dan teknik pendidikan dan keteladanan, dengan adat kebiasaan, dengan nasehat dengan perhatian, dan dengan pemberian hukuman.

Keteladanan dalam kependidikan adalah metode yang sangat menentukan keberhasilan dalam mempersiapkan dan membentuk sikap dan perilaku moral, spiritual dan sosial anak. Hal ini karena pendidik adalah contoh terbaik dalam pandangan anak, yang akan ditirunya orang tua dalam segala tindak tanduknya dan sopan santunnya baik disadari atau tidak. Bahkan jiwa dan perasaan seorang anak sering menjadi gambaran pendidiknya baik dalam ucapan dan perbuatan, baik materil ataupun spiritual, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui.oleh karena itu masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam hal baik buruknya. Jika pendidik jujur dan dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka anak akan tumbuh sikap kejujurannya, terbentuk akhlak mulianya terbina sikap keberaniannya dalam menjauhkan diri dari perbuatan khianat, durhaka, kikir, penakut, dan hina. Maka sifat tersebutpun akan mudahnya tumbuh pada anak didiknya.

Si anak, bagaimanapun besarnya usaha untuk mempersiapkan kebaikan, bagaimanapun suci beningnya fitrah, ia tidak akan mampu memenuhi prinsip-prinsip kebaikan dan pokok-pokok pendidikan utama, selama ia tidak melihat sang pendidik (orang tua) memberi tauladan dalam mengamalkan nilai-nilai moral yang tinggi.

Pendidikan dengan adat kebiasaan, maksudnya menyiapkan lingkungan kondusif yang mengharap pada pencapaian tujuan pendidikan. Telah diakui bahwa seorang anak diciptakan dengan fitrah tauhid yang murni, agama yang lurus dan iman kepada Allah. Jika manusia tidak memiliki agama tauhid, maka itu tidak wajar. Dan demikian itu hanyalah pengaruh lingkungan. Untuk itu, peranan pembiasaan, pengajaran dan pendidikan selama masa pertumbuhan anak dan perkembangan anak dalam menemukan tauhid yang murni, keutamaan-keutamaan budi pekerti, spiritual dan etika agama yang lurus merupakan suatu hal mutlak diperlukan. Untuk menuju cita-cita tersebut maka seorang anak harus dihadapkan pada dua faktor yang saling mendukung yaitu faktor pendidikan Islam yang utama dan faktor pendidikan lingkungan yang baik. Jika metode semacam ini terwujud maka sang anak akan tumbuh dengan iman yang kokoh dan berhiaskan etika Islam sampai pada puncak keutamaan spiritual dan kemuliaan pribadi. Lingkungan yang harus diperhatikan dalam penciptaan adat kebiasaan ini adalah lingkungan keluarga dan lingkungan diluar keluarga. Dalam lingkungan keluarga diharapkan seorang anak memiliki kedua orang tua muslim yang baik, yang mengajarkan prinsip-prinsip iman Islam, sehingga anak dapat tumbuh dengan kekuatan iman dan Islam. Adapun metode Islam dalam memperbaiki sikap dan perilaku anak-anak didasarkan pada dua masalah pokok yaitu pengajaran dan pembiasaan.

Pengajaran merupakan upaya teoritis dalam rangka perbaikan dan pendidikan sedangkan pembiasaan merupakan upaya praktis dalam upaya pembinaan dan persiapan.

Pendidikan dengan nasehat, metode nasehat ini digunakan dalam pendidikan untuk mendorong anak menuju situasi luhur rmenghiasinya dengan akhlak mulia dan membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam.

Pendidikan dengan perhatian, maksudnya mencurahkan, memperhatikan dan mengikuti perkembangan anak dalam pembinaan Aqidah dan moral, persiapan spiritual dan sosial, disamping selalu bertanya tentang situsi pendidikan jasmaniah dan daya hasil ilmiahnya. Islam memerintah para orang tua untuk memperhatikan dan senantiasa mengikuti serta mengontrol anak-anaknya dalam segala segi kehidupan dan pendidikan secara universal. Permasalahan yang harus diketahui oleh orang tua adalah memberikan perhatian dan pengawasan tidak hanya terbatas pada satu dua segi perbaikan dalam pembentukan kepribadian seseorang, tetapi harus mencakup segi baik keimanan, mental, moral, fisik, spiritual maupun sosial. Dengan demikian pendidikan ini dapat menghasilkan buah dalam menciptakan individu muslim yang seimbang, matang dan sempurna.

Pendidikan dengan pemberian hukuman, adalah hukuman yang didasarkan pada syari’ah yang wajib dilaksanakan karena Allah. Tujuan dari penerapan hukuman ini adalah untuk merealisasikan kehidupan yang tenang, penuh kedamaian, keamanan dan ketentraman.

Adapun pelaksanaan hukuman kepada anak-anak didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut :

  1. Lemah lembut dan kasih sayang
  2. Menjaga tabiat anak yang salah dalam menggunakan hukuman.
  3. Dalam upaya memperbaiki, hendaknya dilakukan secara bertahap dari yang paling ringan hingga yang paling keras, yang dapat memberi kemungkinan celaka dan bahagianya anggota-anggota keluarga tersebut dunia akhirat.
  1. Fungsi Orang Tua dalam pendidikan Keluarga.

Orang tua adalah kepala keluarga, keluarga adalah sebagai persekutuan hidup terkecil dari masyarakat negara secara luas. Pangkal ketentraman dan kedamaian hidup adalah terletak pada keluarga. Diatas telah disinggung bahwa keluarga harus mendapat pimpinan ayah dan ibu sebagai kepala dwi tunggal yang mempunyai tanggung jawab demikian juga Islam memerintahkan pada orang tua untuk berlaku sebagai kepala dan pimpinan keluarga.

Fungsi orang tua menurut Arifin (1976 : 7) adalah : orang tua sebagai pendidik keluarga, pemelihara serta pelindungi keluarga.

Orang tua sebagai pendidik maksudnya bahwa keluarga sebagai tempat lahir anak dan tempat menerima pendidikan, dengan sendirinya pembentukan pribadi dan watak terlaksana dalam keluarga melatih dan mendidik anak adalah suatu hal penting sekali, karena anak sebagai amanat bagi orang tuanya maka jika ia dibiasakan kearah yang baik ia akan berbahagia dunia akhirat tetapi bila dibiasakan jelek atau dibiarkan dalam kejelekan, maka celaka dan rusaklah ia, sedang orang tua juga mendapat dosa.

Anak menggunakan orang tua sebagai pimpinan dari penyesuaian dirinya dengan kehidupan, bila orang tua tak dapat dipakai untuk standart penyesuaian diri anak dengan sebaik-baiknya, maka hal ini akan menimbulkan problem psikologis anak sebagai problem tingkah laku orang tuanya. Karena sangat besar pengaruhnya pendidikan orang tua terhadap anaknya, dapatlah menentukan haluan hidup terhadap anaknya, yang nantinya akan menentukan haluan hidup dimasa dewasanya dalam masyarakat.

Wood Worth dan Marquis (dalam Arifin 1976 : 87) berpendapat bahwa anak selalu mengadakan identifikasi atau meniru orang-orang yang lebih tua tidaklah secara pasif tetapi secara sungguh-sungguh dan gairah, anak akan menjadi seperti ayahnya atau ibunya sikap yang demikian disebut identifikasi.

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa keluarga adalah lingkungan pertama yang menjadi pangkal atau dasar hidup kemudian hari. Pendidikan keluarga ini karena besar pengaruhnya atas dasar hidup kemudian hari. Pendidikan keluarga ini karena besar pengaruhnya atas anak dapatlah menentukan haluan hidup dimasa dewasanya dalam masyarakat. Kehidupan normal atau tidaknya orang dalam masyarakat ditentukan oleh keluarga ini.

Disamping sebagai pendidik orang tua juga berfungsi sebagai pelindung dan pemelihara. Orang tua harus berusaha menjaga keselamatan keluarganya baik moril maupun materiilnya. Kekuasaan ini kecuali didasarkan atas beberapa ayat Al-Qur’an juga didasarkan Arifin (1976 : 82) artinya “Tiap kamu itu menjadi pengembala dari masing-masing kamu bertanggung jawab atas gembalanya”.

  1. B. Prestasi Belajar Aqidah Akhlak.
    1. 1. Pengertian Prestasi Belajar.

Poerwodarminto (1961 : 710), prestasi belajar adalah segala pekerjaan yang berhasil atau hasil yang telah dicapai (dilakukan).

Belajar adalah perubahan tingkah laku, sehingga apabila ada seorang yang dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan sebelumnya, maka ia telah mengalami proses belajar. Perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari proses belajar. Perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari porses belajar. Perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari proses belajar tersebut dinamakan hasil belajar atau prestasi belajar.

Winarno Surakhmad, (1984 : 51) mengatakan bahwa hasil pelajaran adalah kebulatan tingkah laku apabila  usaha murid telah menghasilkan pola tingkah laku yang dihasilkan pola tingkah laku yang dihasilkan semula, proses belajar dapat dikatakan mencapai titik akhir sementara. Pola tingkah laku tersebut terlihat pada perbuatan, rekasi dan sikap murid secara fisik maupun mental. Bersamaan hasil utama itu terjadi bermacam-macam proses yang juga menghasilkan tambahan perubahan tingkah laku, sehingga akhirnya terdapat satu kesatuan yang menyeluruh.

Dengan demikian prestasi belajar atau hasil belajar adalah kecakapan dari usaha atau latihan dan pengalaman dalam bentuk tingkah laku yang mengandung unsur-unsur skill, pengetahuan, sikap dan nilai-nilai.

  1. 2. Pengertian pelajaran Aqidah Akhlak

Nasruddin Rozak (1971: 1190) “Aqidah ialah iman atau kepercayaan”.

Adapun pengertian akhlak menurut :

Nasudin Rozak (1971 : 39) Akhlak adalah perbuatan suci yang terbit dari lubuk jiwa yang paling dalam, karenanya mempunyai kekuatan yang paling hebat.

Imam Al-Ghozali (Juz 3 : 52) Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa dari padanya timbul peruatan yang mudah, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran.

Dari definisi tersebut, dapat diketahui bahwa hakekat akhlak menurut Al-Ghozali mencakup dua syarat, pertama perbuatan itu harus konstan, yaitu dilakukan berulang kali didalam bentuk yang sama sehingga dapat menjadi kebiasaan. Kedua perbuatan itu harus tumbuh denagan mudah tanpa pertimbangan dan pemikiran, yakni bukan karena adanya tekanan, paksaan dari orang lain atau bahkan pengaruh-pengaruh dan bujukan yang indah dan sebagainya.

Dari pengertian diatas dapat penulis simpulkan bahwa pengertian Aqidah Akhlak adalah ilmu tentang keimanan (rukun iman) dan sifat-sifat manusia (akhlak terpuji dan akhlak tercela).

Adapun ruang lingkup pendidikan akhlak adalah

Aqidah : berisi aspek pelajaran untuk menanamkan pemahaman dan keyakinan terhadap Aqidah Islam sebagaimana yang terdapat dalam rukun Iman.

Akhlak : Akhlak terpuji, akhlak tercela, kisah-kisah keteladanan para rasul, shabat rasul, orang shalih.

Nasrudin Rusli, Modul Aqidah Akhlak (1995 : 6) Mata pelajaran Aqidah Akhlak adalah salah satu bagian dari mata pelajaran pendidikan agama Islam yang digunakan sebagai wahana pemberian pengetahuan, bimbingan dan pengembangan kepada siswa agar dapat memahami, meyakini dan menghayati kebenaran ajaran Islam, serta bersedia mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi jelaslah bahwa pelajaran Aqidah Akhlak adalah pemberian pengetahuan, bimbingan dan pengembangan tentang rukun iman, akhlak terpuji dan akhlak tercela agar siswa dapat memahami, menghayati dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. 3. Pengertian Pelajaran Aqidah Akhlak

Setelah mengetahui prestasi belajar, pengertian pelajaran Aqidah Akhlak yang penulis paparkan diatas maka dapat kita ketahui bahwa pengertian prestasi belajar Aqidah Akhlak adalah perubahan ingkah laku pada diri siswa setelah mereka mengetahui tentang keesaan dan sifat-sifat tingkah laku yang ditimbulkan dari dalam lubuk hati yang paling dalam.

Dalam hal ini siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang Aqidah Akhlak semata namun lebih ditekankan pada pola perubahan tingkah laku yang lebih baik.

Oleh karena itu program utama dan perjuangan pokok dari segala usaha, ialah pembinaan akhlak mulia. Mereka harus ditanamkan pada seluruh lapisan dan tingkatan masyarakat, mulai dari tingkat atas sampai bawah.

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A. Populasi dan Sampel
  1. Penentuan Populasi

Sebelum menetapkan populasi terlebih dahuluakan  penulis jelaskan pengertian populasi.

Sutrisno Hadi, (1981: 700), mengatakan bahwa “populasi adalah semua individu untuk siapa kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari sampel itu hendak di generalisasikan”.

Adapun populasi penelitian yang dijadikan objek kajian dalam penyusunan skripsi ini adalah siswa MI PSM Sulursewu Paron Ngawi. Sehingga populasi dari penelitian ini adalah keseluruhan siswa MI PSM Sulursewu Paron Ngawi kelas V dan VI semester 2 tahun pelajaran 2007/ 2008.

  1. Penentuan Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. dalam penelitian nanti penulis mengambil sampel kelas V dan VI semester II tahun pelajaran 2007/ 2008, dengan pertimbangan kelas merupakan kelas terakhir dari jenjang tingkat SD/MI

Keuntungan sampel :

  1. Tidak begitu merepotkan peneliti, karena jumlahnya yang terbatas
  2. Dimungkinkan tidak terlewati karena jumlah sampel lebih sedikit di banding populasi.
  3. Lebih efisien dalam hal waktu, biaya dan tenaga
  4. B. Teknik Pengumpulan Data

Beberapa metode yang digunakan dalam pengumpulan data antara lain :

  1. 1. Angket atau Quiseoner

Angket atau quiseoner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Suharsimi Arikunto : 124)

Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh keterangan tentang latar belakang orang tua siswa, tentang pelaksanaan pendidikan agama Islam terhadap anak di dalam keluarga dengan menjawab pertanyaan dalam angket. adapun yang diberi angket adalah orang tua siswa kelas V dan VI yang di jadikan sampel.

Angket dapat dibedakan menjadi beberapa jenis tergantung pada sudut pandangnya. Maka sehubungan dengan sumber data yang penulis perlukan maka penulis pergunakan instrumen pengumpulan data dengan kriteria sebagai berikut :

  1. Dipandang dari segi menjawabnya sudah disediakan jawaban angket tertutup, dimana penulis sudah menyediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.
  2. Dipandang dari bentuknya, penulis menggunakan chek list yaitu sebuah daftar dimana responden tinggal membubuhkan tanda silang pada option a,b,c dan d dengan jawaban yang ada.

Alasan menggunkan metode ini adalah :

  1. Angket ini dapat digunakan untuk mengumpulkan data dari sejumlah besar responden yang menjadi sampel.
  2. Dengan menjawab pertanyaan melalui amgket ini diharapkan agar responden lebih leluasa, tidak dipengaruhi oleh sikap mental hubungan peneliti dengan responden.
  3. Kemudahan dalam menganalisa data karena pernyataan yang diajukan sama antara sesama responden.

Bentuk pertanyaan adalah multiple choice yaitu dengan cara memilih salah satu jawaban yang telah di sediakan. Dengan  penjelasan (untuk angket)

Pertama, Jawaban a. nilai a item = 1

Jawaban b. nilai a item = 1/2

Jawaban c. nilai a item = 1/4

Jawaban d. nilai a item = 0

Kedua, Angket nomor 1 – 10 menanyakan tentang keadaan keagamaan siswa lewat orang tua.

Angket nomor 11 – 20 tentang pelaksanaan pendidikan agama Islam orang tua terhadap anaknya

  1. 2. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan mempelajari data yang sudah di dokumentasikan dengan demikian akan mendapatkan data yang dibutuhkan.

Adapun pengertian metode dokumenter menurut WinarnoSurahmad, ( : 132) “metode dokumenter adalah suatu metode yang mana penyelidikannya ditujukan pada penguraian dan penjelasan apa yang telah lalu melalui sumber dokumen”.

Pengertian ini diperjelas dengan penjelasan dari Suharsimi Arikunto, ( : 131) “dokumentasi dari asal kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Didalam melaksanakan metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya”.

Sesuai dengan pengertian metode dokumenter tersebut diatas, peneliti menggunakan metode ini dalam mencari informasi tentang prestasi belajar siswa, struktur organisasi, keadaan siswa, keadaan sarana dan prasarana serta segala sesuatu yang dapat mendukung dalam penulisan skripsi ini.

Alasan dari penggunaan metode ini adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai metode pendahuluan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang menunjang pengetahuan penelitian.
  2. Metode dokumenter mempunyai nilai objektifitas yang tinggi dan punya keefektifan, sebab dokumen sudah tersedia.
  3. Sebagai metode primer sebagian besar data berbentuk dokumen.

Metode dokumentasi ini untuk memperoleh data nilai siswa kelas V dan VI semester II tahun pelajaran 2007/2008 mata pelajaran Aqidah Akhlak melalui raport.

  1. 3. Metode Observasi

Dengan metode ini orang melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala/ fenomena yang diselidiki.

(Marzuki, Metologi riset, Fak. Ek, UII, Yogyakarta, 1986 : 58).

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, maka peneliti mengadakan pengamatan atau peninjauan langsung pada objek penelitian untuk mendapatkan data tentang keadaan sekolah dan kegiatan-kegiatan yang diprogramkan di MI PSM Sulursewu Paron Ngawi.

  1. 4. Metode Interview

Marzuki, (1986 : 58) “Interview merupakan cara pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian”

Dalam metode interview ini penulis mengadakan tanya jawab dengan kepala sekolah tentang sejarah berdirinya MI PSM Sulursewu Paron Ngawi.

  1. C. Analisa Data

Dalam memilih metode analisa data terlebih dahulu harus mengetahui data yang diambil. Dapat ditunjukkan dengan angka (kwalitatif).

Dari data tersebut penulis mewujudkan data dengan penganalisaan secara statistik. Karena pokok pembahasan dalam penelitian ini adalah mengetahui hubungan dari dua variable, maka metode analisa data yang tepat adalah menggunakan rumus “Korelasi Produk Moment” diantaranya rumus kasar atau “Row Scort”.

Keterangan

R xy    = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y

XY      = Product dari V kali Y

N         = Jumlah responden

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: