skripsi7

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Dalam setiap kegiatan pendidikan dan khususnya Madrasah tidak lepas akan pendidikan agama,  maka pendidikan dan pemahaman tentang agama sangatlah penting. Membaca Al Qur’an sebagai tindakan atau upaya untuk memperoleh ilmu dan pemahaman tentang agama islam. Dalam Al Qur’an dijelaskan :

Namun sekarang sangatlah sulit untuk menumbuhkan minat anak didik untuk mau membaca Al Qur’an. Berawal dari permasalahan diatas kami ingin mencoba untuk melakukan penelitian tentang seberapa besar minat anak kelas VI untuk mau membaca Al Qur’an.

Membaca  adalah hal yang sudah dianjurkan dalam Al Qur’an pada awal turunnya AlQur’an yakni surat Al’Alaq ayat 1-5

Bertitik tolak dari permasalahan diatas, karena masih belum diketahui seberapa jauh minat baca siswa secara umum dan minat baca siswa dalam bidang studi agama dan umum serta faktor-faktor apa saja yang diduga memperngaruhi minat baca siswa, maka hal inilah yang mengundang penulis untuk memilih judul dalam skripsi ini dengan judul “Studi Tentang Minat Baca Siswa SMP Negeri 1 di Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi”.

  1. B. Penegasan Istilah dan Lingkup Pembahasan.

Agar istilah-istilah yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini lebih jelas, maka di bawah ini penulis jelaskan batasan-batasannya sebagai berikut :

  1. 1. Studi

Studi bisa berarti “pelajaran” atau penggunaan waktu dan pikiran untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dan juga bisa berarti “penyelidikan” .

(W.J.S. Poerwodarminto, hal. 965)

Studi bisa berarti “telaah”, yaitu menelaah sesuatu dengan teliti. (Mas’ud Khasan Abdul Qodir, hal. 257)

Dari uraian tentang studi diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa “studi” mengandung dua pengertian, yaitu yang pertama berarti pelajaran, dan yang kedua berarti penyelidikan (penelaahan) terhadap sesuatu yang teliti.

Dalam penulisan skripsi ini penulis mengambil pengertian yang kedua, yaitu penyelidikan. Jadi disini penulis ingin mengadakan penyelidikan tentang suatu masalah, yaitu tentang minat baca dan faktor-faktor yang mempengaruhinya serta perbedaan minat baca antara bidang studi agama dengan bidang studi umum.

  1. 2. Minat

Menurut H. Carl Witherington, dalam bukunya psikologi pendidikan menjelaskan bahwa “Minat adalah kesadaran seseorang bahwa suatu obyek atau situasi mengandung sangkut paut dengannya”.

(H.C. Witherington, hal. 122)

Dan Drs. Slameto, dalam bukunya belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya menjelaskan bahwa “Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas”. (Slameto, hal. 182)

Dari uraian tentang pengertian minat diatas maka dapat disimpulkan bahwa minat adalah kesadaran seseorang pada suatu hal (membaca) yang dilakukan dengan rasa lebih suka pada sesuatu hal tersebut (membaca). Jadi yang dimaksud minat baca dalam skripsi ini adalah mencakup dua devinisi di atas, yaitu kesadaran siswa untuk melakukan kegiatan membaca karena timbul dari rasa suka terhadap membaca tersebut.

  1. 3. SMP Negeri

Siswa SMP Negeri 1 Ngawi adalah para siswa yang  belajar di SMP Negeri 1 Ngawi yang pada saat penelitian ini mereka masih aktif mengikuti kegiatan akademik dan masih tercatat sebagai siswa SMP Negeri 1 Ngawi tersebut. Adapun pada saat penelitian ini diadakan, berdasarkan kalender akademik bahwa siswa yang masih aktif dan tercatat sebagai siswa SMP Negeri 1 Ngawi adalah kelas tujuh, delapan, dan sembilan.

Sedang yang dimaksud SMP Negeri 1 Ngawi itu sendiri adalah lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran tingkat  menengah pertama  ?

Adapun ruang lingkup pembahasan dalam skripsi ini meliputi :

  1. Minat baca, yaitu meliputi :

–                                      Frekwensi membaca.

–                                      Tujuan membaca.

–                                      Alasan membaca.

–                                      Bahan bacaan.

  1. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi minat baca, meliputi :

–                                      Bimbingan orang tua.

–                                      Adanya bahan bacaan dirumah.

–                                      Pemberian pekerjaan rumah (PR).

  1. Perbedaan minat baca, meliputi :

–                                      Minat baca pelajaran agama.

–                                      Minat baca pelajaran umum

  1. C. Perumusan Masalah

Berdasarkan judul diatas, maka penulis dapat merumuskan masalah yang akan penulis bahas dalam skripsi ini. Masalah tersebut antara lain :

  1. Belum diketahui seberapa jauh minat baca siswa SMP Negeri 1 Ngawi tersebut.
  2. Belum diketahui faktor apa saja yang diduga mempengaruhi terhadap minat baca siswa SMP Negeri 1 Ngawi tersebut.
  3. Belum diketahui apakah ada perbedaan minat baca antara pelajaran agama dengan pelajaran umum siswa SMP Negeri 1 Ngawi tersebut.
  4. D. Tujuan Penelitian

Setiap aktifitas manusia yang diakukan secara sadar pasti mempunyai tujuan. Demikian juga dalam penulisan skripsi ini, penulis mempunyai tujuan sebagai berikut :

  1. Ingin mengetahui seberapa jauh minat baca siswa SMP Negeri 1 tersebut.
  2. Ingin mengetahui faktor apa saja yang diduga mempengaruhi terhadap minat baca siswa SMP Negeri 1 Ngawi.
  3. Ingin mengetahuui adakah perbedaan minat baca siswa antara pelajaran agama dengan pelajaran umum siswa SMP Negeri 1 Ngawi.
  1. E. Kegunaan Penelitian

Setiap hasil kerja manusia haruslah mempunyai suatu guna, yaitu haruslah bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Demikian juga dalam penulisan skripsi ini diharap mempunyai nilai guna, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Dapat memberi dorongan pada siswa, khususnya siswa SMP Negeri 1 Ngawi dalam meningkatkan minat baca mereka demi tercapainya prestasi belajar yang lebih baik.
  2. Dapat memberi petunjuk bagi para guru, khususnya bagi para guru SMP Negeri 1 Ngawi untuk memotivasi siswanya dalam meningkatkan minat baca mereka.
  3. Dapat memberikan sumbangan bagi lembaga pendidikan umumnya dan khususnya SMP Negeri 1 Ngawi dalam meningkatkan minat baca siswanya.
  4. Dapat memberi petunjuk bagi penulis khususnya dan umumnya bagi para pembaca untuk membaca lebih aktif dan lebih baik.
  5. F. Hipotesa Penelitian

Suatu penelitian adalah membutuhkan hipotesa yang merupakan jawaban sementara dari suatu masalah.Untuk skripsi ini penulis mengajukan hipotesa nol (HO) agar dapat diuji dengan teknik analisa chi kwadrat.HO yang akan diuji adalah sebagi berikut :

  1. Tidak ada pengaruh faktor bimbingan orang tua dengan minat baca siswa SMP Negeri 1 Ngawi.
  2. Tidak ada pengaruh faktor bahan bacaan dirumah dengan minat baca siswa SMP Negeri 1 Ngawi.
  3. Tidak ada pengaruh faktor pemberian tugas atau pekerjaan rumah (PR) dengan minat baca siswa SMP Negeri 1 Ngawi.
  4. Tidak ada perbedaan minat baca antara pelajaran agama dengan pelajaran umum siswa SMP Negeri 1 Ngawi.
  5. G. Sistematika Pembahasan

Agar memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh mengenai isi skripsi ini, maka secara global dapat dilihat pada sistematika pembahasan sebagai berikut :

Bab I, sebagai bab pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, penegasan istilah dan lingkup pembahasan, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, hipotesa penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab II, merupakan tinjauan kepustakaan yang membahas tentang pengertian membaca, minat baca, tujuan membaca, metode membaca, pentingnya kebiasaan membaca, faktor-faktor yang di duga mempengaruhi terhadap minat membaca, dan peranan pendidikan dalam mengembangkan minat baca siswa.

Bab III, metodologi penelitian yang membahas tentang populasi dan sample, metode pengumpulan data, dan metode analisa data.

Bab IV, yaitu laporan penelitian yang berisi tentang latar belakang obyek penelitian dan penyajian serta analisa data.

Bab V, yaitu merupakan bab penutup dari pembahasan skripsi ini, yang berisi tentang kesimpulan dan saran-saran dari hasil penelitian.

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. B. Pengertian Membaca

Pembahasan disini meliputi pembahasan tentang minat dan selanjutnya tentang minat baca.

  1. 1. Minat

Menurut H. Carl Witherington, dalam bukunya psikologi Pendidikan menyebutkan “minat adalah kesadaran seseorang (baca : siswa), bahwa suatu obyek, seseorang, suatu soal atau suatu situasi mengandung sangkut paut dengan dirinya”. (Witherington, 1982 : 122)

Dengan perkataan lain, minat adalah merupakan sambutan yang sadar yang tertuju kepada suatu hal karena hal itu dianggap penting baginya. Minat itu sendiri menurut H.G Tarigan, dalam bukunya membaca dalam kehidupan dibagi ada dua :

Minat ada dua macam, yaitu minat primitif dan minat budaya. Minat primitif timbul dari organisme sadar akan apa yang memuaskan kebutuhan tersebut. Minat budaya atau minat sosial timbul dari tingkatan belajar yang lebih tinggi. Minat jenis ini timbul dari hasil pendidikan.

(Tarigan dkk, 1987 : 103)

Dari pengertian minat  dan pembagian minat diatas maka dalam hal ini kedua devinisi diatas penulis jadikan pedoman dalam pembahasan skripsi ini.

Sesuai dengan pendapat diatas anak-anak tersebutpun mengadakan bermacam-macam aktifitas, termasuk penyelidikan melalui bacaan, sehingga muncullah minat baca mereka.

  1. 2. Minat Baca

Minat baca dalam hal ini dapat diartikan sebagai suatu sambutan atau kegiatan yang dilakukan oleh siswa dengan sadar dan dengan rasa suka yang tertuju pada kegiatan membaca, karena hal itu (membaca) dianggap penting baginya (siswa).

Adapun Machel, dalam bukunya Handbook of Researchon Teaching (Gage, 1965 : 900) menyatakan bahwa studi tentang minat baca murid menyangkut :

1.   Minat baca spontan, yaitu kegiatan membaca yang dilakukan atas kemauan, inisiatif pribadi murid sendiri tanpa pengaruh dari pihak lain atau pihak luar dan

2.   Minat baca berpola, yaitu kegiatan membaca yang dilakukan murid sebagai hasil atau akibat pengaruh langsung dan disengaja melalui serangkaian tindakan dan program yang terpola terutama kegiatan belajar mengajar di sekolah. (Rahman 1983 : 15)

Dengan demikian dari devinisi tentang pembagian minat diatas dapat disimpulkan bahwa minat baca ada dua macam, yaitu minat baca spontan atau minat baca yang timbul dari dirinya sendiri atau atas kemauan siswa sendiri, dan kedua adalah minat baca terpola atau minat baca yang timbul akibat dari pengaruh lingkungan keluarga, teman bergaul atau dorongan dari sekolah. Dalam penelitian ini kedua jenis minat baca tersebut diperhitungkan dan disikapi sebagai hal-hal yang berkaitan dengan motivasi untuk perilaku membaca.

  1. H. Tujuan Membaca

Tujuan setiap orang membaca adalah bermacam-macam tergantung pada dari mana kita melihatnya. Adakalanya membaca bertujuan untuk mengisi waktu luang, untuk memperoleh hiburan, untuk memperoleh informasi baru dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan kecakapan dan perilaku membaca pada dasarnya kegiatan membaca dapat diklasifikasikan menjadi empat tingkatan :

(a) Membaca untuk memperoleh kemahiran membaca secara mekanis, meliputi kegiatan mengenal kata, melatih gerak mata secara baik, kelancaran dan kecepatan membaca tanpa suara, (b) membaca meningkatkan pengertian tentang apa yang dibaca, meliputi perbendaharaan kata yang kaya, luas dan akurat, kemampuan mengingat dan menilai apa yang di baca, (c) membaca fungsional, meliputi kemampuan untuk menemukan bahan-bahan yang diperlukan seperti memakai indeks, mamakai daftar isi, memakai kamus, membuka halaman buku sambil membaca dengan cepat, (d) membaca rekreatif , meliputi kegiatan untuk mengembangkan kegemaran membaca sebagai pengisi waktu luang, membantu mengembangkan kemampuan mengenal bahan bacaan yang menarik dan menyenangkan, dan mengembangkan kesenangan-kesenangan lain dan meningkatkan selera melalui membaca.

(Soedomo, hal. 3-4)

Dengan demikian dari klasifikasi tentang membaca di atas dapat disimpulkan bahwa membaca ada empat klasifikasi, yaitu pertama membaca untuk memperoleh kemahiran membaca secara mekanis, kedua membaca meningkatkan pengertian tentang apa yang di baca, ketiga membaca fungsional, dan keempat adalah membaca rekreatif. Adapun dari keempat klasifikasi di atas yang pada umumnya dilakukan oleh seseorang adalah klasifikasi yang kedua yaitu membaca meningkatkan pengertian tentang apa yang di baca, yang meliputi kemampuan untuk mengingat dan menilai serta kemampuan untuk mengerti urut-urutan apa yang di baca.

Henry Guntur Tarigan, dalam bukunya membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa menjelaskan bahwa tujuan membaca adalah “untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami isi bacaan”.

(Henry Guntur Tarigan, hal.7)

Maksudnya adalah seseorang yang membaca bisa memperoleh informasi dan pengetahuan serta memahami isi bahan bacaan yang di bacanya. Misalnya, orang yang membaca tentang cara membuat kue, ia akan mendapat informasi dan pengetahuan tentang itu sesuai dengan isi buku yang dibacanya. Seseorang membaca buku  tentang pendidikan, ia akan memperoleh informasi dan pengetahuan tentang ilmu pendidikan, dan lain sebagainya.

Menurut Mortimer J.Adler dan Charles Van Doren, dalam bukunya Cara Membaca Buku Dan Memahaminya yang disadur oleh Budi Prayitno mengatakan bahwa “tujuan membaca adalah: untuk mendapatkan informasi, mendapatkan pemahaman, dan mendapatkan kesenangan”.

(Menurut Mortimer J.Adler dan Charles Van Doren, hal. 9)

Jadi seseorang yang membaca buku selain bertujuan untuk mendapatkan informasi dari buku yang dibacanya dan memahami isinya adalah juga untuk mendapatkan kesenangan. Hal ini adalah sudah sewajarnya, karena kegiatan membaca itu adalah suatu kegiatan yang menyenangkan, apalagi yang dibacanya itu sesuai dengan apa yang disukainya, baik itu yang berhubungan dengan profesinya, dengan pelajarannya, dan sebagainya.

Sedangkan menurut ahli membaca Waples (1967), dalam eksperimennya ia menemukan bahwa tujuan membaca itu meliputi: “(a) instrument effek, (b) prestige effek, (c) memperkuat nilai pribadi, (d) mengganti pengalaman estetik yang sudah usang, (e) untuk menghindari kesulitan”. (Nurhadi, hal. 136)

  1. Instrumen effek, yaitu membaca untuk tujuan mendapatkan alat tertentu, memperoleh sesuatu yang bersifat praktis, misalnya cara membuat masakan, cara membuat topi, cara memperbaiki bola lampu, dan sebagainya.
  2. Prestige effek, yaitu membaca untuk tujuan mendapat prestise atau ingin mendapat rasa lebih (self image) dibandingkan orang lain dalam lingkungan pergaulannya, misalnya seseorang akan lebih bergengsi bila bacaannya mejalah-majalah yang terbit dari luar negeri.
  3. Memperkuat nilai-nilai pribadi atau keyakinan, misalnya membaca untuk mendapat kekuatan keyakinan pada partai politik, memperkuat keyakinan agama, dan sebagainya.
  4. Mengganti pengalaman estetis yang sudah usang, misalnya membaca untuk tujuan mendapat sensasi-sensasi melalui penikmatan emosional bahan bacaan (buku cerita, novel, cerita pendek, cerita terkenal, biografi tokoh terkenal, dan sebagainya.
  5. Membaca untuk menghindari kesulitan, ketakutan atau penyakit tertentu.

Dengan demikian dari sekian pandapat tentang tujuan membaca diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca adalah selain untuk mendapatkan informasi, pengetahuan, pemahaman, ada juga membaca yang bertujuan untuk hiburan, mendapat prestis, memperkuat nilai pribadi, menghindari ketakutan, dan sebagainya.

  1. I. Metode Membaca

Kemahiran dan segi-segi lainnya yang berhubungan dengan aktifitas membaca perlu sekali dipelajari oleh setiap pelajar. Membaca asal membaca saja tidaklah sukar selama seseorang sudah mengenal huruf. Tetapi membaca buku sehingga pembacaan itu memberikan hasil yang sebesar-besarnya adalah suatu kecakapan yang harus sungguh-sungguh diusahakan. Oleh karena itu dalam kegiatan membaca diperlukan teknik, cara atau metode yang baik agar tercapai tujuan dari pada pembaca pada umumnya.

Berdasarkan penyelidikan dan percobaan selama bertahun-tahun, Profesor Francis P. Robinson, dalam bukunya Effektive Study menganjurkan suatu cara untuk mempelajari buku-buku pelajaran yang disebut “Methode Survey Q3R.” Singkatan dari survey, question, read, recite, dan reviw.

(The Liang Gie, hal. 87)

Jadi seseorang yang membaca buku atau bahan bacaan lainnya agar berhasil dengan baik hendaklah melaksanakan lima langkah atau methode di atas.

  1. Survey (menyelidiki)

Sebelum mulai membaca suatu bab dari buku pelajaran setiap pembaca hendaknya mengadakan penyelidikan terlebih dahulu untuk mendapatkan gambaran mengenai apakah yang kira-kira di uraikan dalam bab ini. Hal ini dapat dijalankan dengan melihat sepintas lalu pada kalimat-kalimat permulaan pada bab itu. Melakukan penyalidikan itu jangan sampai memakan waktu lebih dari satu menit. Dengan mempunyai gambaran mengenai pokok-pokok yang akan di pelajari, seseorang akan dapat membaca bab itu dengnan lebih cepat dan juga akan dapat dihubungkan satu sama lain dengan lebih baik.

  1. Question (bertanya)

Setelah melakukan survey, seseorang pembaca hendaknya lalu mengadakan pertanyaan-pertanyaan. Ini dilakukan dengan mengubah kalimat-kalimat permulaan yang dibaca sepintas lalu itu menjadi pertanyaan-pertanyaan. Membuat pertanyaan itu dapat dilakukan sekaligus pada waktu penyelidikan. Dengan jalan bertanya itu pembaca lalu akan memiliki sikap ingin tahu. Sikap ini akan memperbesar pengertiannya tentang pelajaran yang di baca itu karena hal-hal yang penting menjadi lebih tampak.

  1. Red (membaca)

Setelah melakukan dua langkah permulaan itu, barulah seseorang pembaca boleh mulai membaca buku tersebut. Membaca ini hendaknya tidak merupakan suatu perbuatan yang pasif, melainkan harus berupa suatu perbuatan yang aktif untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dibuat itu.

  1. Recite (mengungkapkan kembali)

Setelah seseorang membaca suatu bagian yang memuat suatu jawaban atas sesuatu pertanyaan tersebut, segeralah ia mengucapkan kembali jawaban itu dengan tidak melihat buku. Kalau tidak bisa, tengoklah kembali bagian itu. Mengucapkan jawaban itu hendaknya dilakukan dengan kata-kata sendiri. Cara yang baik untuk melakukan pengucapan kembali itu ialah dengan menuliskan jawaban tersebut diatas kertas ditulis dalam bentuk garis besarnya saja.

  1. Review (mengulangi)

Setelah bab itu diselesaikan, segeralah seseorang pembaca mengulangi apa yang baru saja di bacanya itu dengan memeriksa kembali catatan-catatannya. Jawaban garis besar itu di baca secara sepintas lalu sehingga mendapatkan gambaran yang lebih luas dan jelas mengenai pokok-pokok yang di uraikan dalam bab itu serta hubungnnya antara yang satu dengan yang lain. Hal ini dilakukan untuk mengingat kembali tentang apa yang telah di baca, dan itu bisa dilakukan dengan jalan menutup catatan itu.

Disamping methode membaca Q3R tersebut diatas ada lagi methode atau cara membaca dengan baik, yaitu yang dikemukakan oleh Dr.Thomas F. Staton, yang di serasikan dengan metode “PQRST”, yaitu singkatan dari: Previw (menyelidiki), question (menanyakan), read (membaca), state (menyatakan), dan tes (menguji)”. Methode yang prinsipnya sama dengan metode diatas.

(Masfuk Zuhdi, hal. 19)

Ada lagi methode membaca selain yang sudah disebutkan diatas yang pada prinsipnya juga hampir sama dengan kedua metode diatas, tetapi ada sedikit tambahan sehingga bisa melengkapi dan memperluas pengertian metode tersebut ialah “metode PERU” (Previw, Enquerie, Read, Use), menyelidiki, menanyakan, membaca, mempergunakan.” (The Liang Gie, hal. 90)

Selanjutnya agar pembaca lebih berhasil dalam membacanya, selain mempergunakan metode yang telah disebutkan di muka, maka perlulah juga pembaca memiliki kebiasaan-kebiasaan membaca yang baik. Kebiasaan-kebiasaan membaca ynag baik itu menurut The Liang Gie adalah sebagai berikut : “memperhatikan kesehatan badan, ada jadwal, membaca sungguh-sungguh semua buku-buku yang perlu untuk setiap mata pelajaran sampai menguasai isinya, dan membaca dengan konsentrasi penuh”.

(Slameto, hal. 86)

Kesehatan membaca penting artinya demi keberlangsungan membaca. Kesehatan membaca itu meliputi memejamkan mata, memandang jauh sewaktu-waktu membaca, buku yang dibaca kelihatan jelas dengan sinar yang terang, tak silau atau ada bayang pada buku, jarak mata dengan buku kurang lebih 25 – 30 cm, membaca pada meja belajar dan istirahat sesudah membaca kurang lebih satu sampai dua jam. Untuk keteraturan atau kedisiplinan dalam membaca perlulah adanya jadwal yang harus ditepati pelaksanaannya. Memberi tanda-tanda dalam buku akan mempermudah untuk membacanya, selain itu juga perlu adanya catatan-catatan baik di buku sendiri ataupun di buku bacaan. Perpustakaan adalah sumber buku yang akan melengkapi buku-buku pribadai seseorang. Membaca haruslah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan berkonsentrasi penuh untuk memperoleh hasil yang sebanyak-banyaknya.

Selain kebiasaan membaca yang baik, ada juga kebiasaan membaca yang buruk, antara lain :

Membaca sambil menggerakkan bibir/ bersuara, dengan menunjukkan kata yang dibaca, mundur kembali/ mengulang-ulang, melihat satu kata demi satu kata, sambil tiduran, sambil makan makanan kecil, sambil ngobrol, sambil mendengarkan radio atau TV dengan suara keras, sambil melamun, dan lain-lain. (Slameto, hal. 87)

Jadi dari uraian diatas bahwa agar seseorang pembaca dapat membaca dengan baik dan berhasil dengan baik maka haruslah memperhatikan metode-metode di atas yang sesuai dengan urutan-urutannya. Selain harus memperhatikan metode membaca di atas, maka perlulah juga pembaca memperhatikan kebiasaan-kebiasaan membaca yang baik dan kebiasaan-kebiasaan membaca yang buruk. Dengan memperhatikan hal tersebut maka kemungkinan besar pembaca akan berhasil dengan baik dan memuaskan.

  1. J. Pentingya Kebiasaan Membaca

Dalam sebuah memorinya C.P. Cadman, seorang pengarang modern terkenal, menyimpulkan pendapatnya mengenai pribadi seseorang dalam sebuah kalimat singkat berbunyi: “Aman is himsel, and the books he read”. Yang kira-kira artinya bahwa: “Kepribadian seseorang selain ditentukan oleh dirinya sendiri, juga ditentukan oleh buku-buku yang telah dibacanya”.

(Ignatius Silmenes Porang, hal. 1)

Kebenaran teori ini sekarang mulai diyakini orang pada zaman kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Dewasa ini orang benar-benar dipaksa berpacu dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Siapa yang terlambat tidak masuk bilangan. Dalam hal ini buku merupakan satu-satunya cara untuk mengikuti perlombaan tersebut.

Pada zaman modern ini buku merupakan teman terdekat bagi orang yang ingin maju. Dalam keadaan bagaimanapun, orang-orang modern tidak dapat meninggalkan bahan bacaan. Dengan membaca buku atau bahan bacaan, seseorang dapat memetik informasi yang terdapat dalam buku itu, baik informasi yang bersifat ilmu pengetahuan dan teknologi, informasi yang bersifat sosial budaya maupun pengetahuan tentang agama, yang akan mencerdaskan taraf berfikirnya dan mengembangkan pengetahuannya demi peningkatan penghidupan dan kesejahteraan.

Namun yang dinamakan upaya untuk membangkitkan minat untuk membaca dalam setiap kegiatan itu bukanlah hal yang mudah. Kegiatan membaca belum merupakan unsur yang menjadi budaya masyarakat, sehingga upaya untuk membelajarkan masyarakat melalui bahan-bahan tercetak mengalami hambatan. Hambatan yang membatasi kegiatan dan kegemaran membaca tersebut adalah :

Pertama, kondisi masyarakat yang sangat beragam (hiterogin) baik di tinjau dari segi tingkat pendidikan, sosial ekonomi dan sosial budaya. Umumnya perilaku membaca mudah dicapai oleh golongan atas, sedang pada golongan menengah dan bawah perilaku ini masih banyak memerlukan bimbingan. Agaknya golongan atas kegiatan membaca sudah menjadi kebutuhan, sedang pada golongan menengah dan bawah kegiatan membaca menjadi kewajiban. Dengan kata lain, kegiatan membaca bagi golongan atas didorang oleh faktor intern (dalam diri) sedang di pihak golongan menengah dan bawah didorong oleh faktor ekstern (faktor luar). Kedua, persepsi manusia terhadap pentingnya mambaca dan dalam menyikapi bahan bacaan tersebut. (Soedomo, hal.1)

Jadi kegiatan atau kegemaran mambaca pada masyarakat kita dewasa ini dirasa masih berkurang. Dalam hal ini sesuai dengan uraian diatas, disebabkan oleh faktor ekonomi masyarakat itu sendiri.selain itu juga disebabkan oleh persepsi masyarakat terhadap membaca kurang disadarinya, yaitu tentang pentingnya membaca itu sendiri. Oleh karena itu tugas pendidikanlah dalam hal ini untuk mau membimbing dan memberi dorongan pada anak didiknya sedini mungkin di biasakan untuk gemar membaca.

Ada yang percaya memang, membaca itu hanya bermanfaat bagi orang-orang yang senang melakukannya. Itu, antara lain diyakini oleh Dr. Donno E. Norton. Ia mencoba bermain metafora tetang hakekat membaca yang di sampaikan dalam makalahnya yang disajikan dalam “Summer Reading and Library Programs”, tahun 1986.Katanya :

Membaca itu semacam “rekreasi mental” atau sejenis “wisata rohani”, dimana “mata hati” menjelajahi “rimba kata” untuk sampai ke “puncak gunung”. Hanya orang-orang yang merasa senang atau yakin akan memperoleh manfaat yang mau berepot-repot melakukan hal itu. Dan hanya orang-orang yang memiliki keterampilan dan berbekalan yang cukup yang akan sampai ke puncak dan tidak tersesat.

(H.G. Tarigan dkk., hal. 7)

Memang benar rumusan tamsil diatas, mambaca adalah merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan, ini adalah bagi orang-orang yang membaca sudah merupakan kebiasaan dan orang-orang yang tahu betapa besar manfaat dan pentingnya membaca. Dan hanya orang-orang yang tahu dan mengerti tentang cara dan kebiasaan membaca yang baik dan sampai pada tujuan.

Menurt Soedomo, dalam makalahnya yang berjudul “Menumbuhkan dan Mengembangkan Minat Baca Anak”, menjelaskan bahwa nilai membaca dapat dilukiskan sebagai berikut :

Moral, peradaban, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi sampai tingkat perkembangan yang sampai sekarang sebagian besar merupakan akibat langsung dari pembacaan terhadap buku-buku besar (great book) yang di turunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan karya manusia terkemuka. (Soedomo, hal.3)

Selain membaca itu mempunyai nilai tersendiri, yang sudah disebutkan diatas, adalah juga mempunyai manfaat. Adapun manfaat umum dari pada membaca itu adalah:

a. Membaca adalah suatu kegiatan intelektual yang dapat menghasilkan pandangan, sikap dan tindakan positif dari seseorang.           b. Kemampuan membaca sangat berguna untuk mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan teknologi dan kebudayaan untuk: menambah ilmu pengetahuan; menambah daya berfikir secara sistimatis dan kritis; memberikan keterampilan dan kecakapan khusus serta menumbuhkan sikap mental perubahan dan pembangunan demi meningkatkan kemajuan dan memperbaiki tingkat kehidupan manusia, masyarakat, dan bangsa.     c. Membaca buku dapat memberi pengaruh yang baik kepada seseorang pengarang penulis karangan, seorang peneliti menulis laporan penelitian, para ilmuan mengembangkan ilmu pengetahun dan teknologi yang dimilikinya dan para cendekiawan mengembangkan dan meningkatkan usahanya dalam bidang perdagangan, perindustrian, kegiatan sosial, pemerintahan, militer dan lain sebagainya. d. Selain itu pentingnya membaca buku ini merupakan proses belajar baik mengikuti pendidikan disekolah maupun setelah meninggalkan bangku sekolah, karena ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan yang diperoleh melalui pendidikan disekolah ini di batasi oleh waktu dan kurikulum sehingga tidak mungkin semua pengetahuan ini di capai secara lengkap dan menyeluruh, maka untuk menambah dan meningkatkan ilmu pengetahun ini perlu membaca buku diluar sekolah setelah meninggalkan bangku sekolah. (Ignatius Silmenes Porang, hal.4)

Dari uraian tentang pentingnya membaca dan manfaat dari membaca diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa betapa pentingnya kegiatan membaca bagi seseorang dan betapa besar manfaatnya bagi seseorang yang gemar melakukannya. Dengan membaca selain mendapat dan menambah informasi tentang ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan yang berkembang semakin pesat dewasa ini adalah juga bisa membentuk sikap dan kepribadian seseorang, serta pandangan hidup yang maju dan positif. Dengan membaca akan menambah daya pikir manusia secara sistematis dan kritis, memberikan keterampilan dan kecakapan khusus serta menumbuhkan sikap mental perubahan dan membangun demi meningkatkan kemajuan dan memperbaiki tingkat kehidupan dan penghidupan manusia, masyarakat dan bangsa. Karena itu sebagai pendidik hal ini haruslah disadari, sehingga pendidik mau memberi dorongan dan bimbingan pada anak didiknya untuk lebih giat membaca, hal ini adalah  perlu dilakukan sedini mungkin. Karena kebiasaan membaca sejak kecil adalah berpengaruh setelah anak menjadi dewasa nanti.

  1. K. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Minat Baca

Dalam setiap kegiatan pendidikan bahkan dalam kegiatan sosial lainya adalah tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi untuk melakukan atau mengadukan kegiatan tersebut, baik itu faktor dari dalam diri seseorang atau dari luar diri manusia tersebut. Begitu juga seseorang dalam kegiatan membaca, gemar melakukan kegiatan membaca, mempunyai minat tinggi atau rendah terhadap membaca adalah juga dipengarui oleh beberapa faktor.

  1. 22

    Bimbingan orang tua

Bimbingan yang diberikan oleh orang tua terhadap anaknya adalah besar pengaruhnya terhadap minat baca anaknya, baik itu secara langsung mupun bimbingan secara tidak langsung . Orang tua yang kurang memperhatikan kegiatan belajar anaknya, tidak mengatur waktu belajar, acuh tak acuh, yang akhir dalam proses belajarnya prestasi belajarnya kurang memuaskan. Oleh karena itu orang tua dalan hal ini mempunyai tanggung jawab yang besar untuk memberi bimbingan terhadap anaknya agar anak mempunyai kegemaran membaca/ belajar, yaitu dengan jalan memberikan fasilitan dan mengarahkannya. Menurut Drs.Qomarudin, dalam artikelnya bahwa tanggung jawab orang tua untuk memberikan fasilitas dan mengarahkannya dalam kegiatan membaca/belajar terhadap anaknya meliputi:

  1. Situasi yang baik ; yaitu megusahakan tempat belajar, peralatan belajar dan mengusahakan agar badannya tetap sehat.
  2. Hal-hal yang bersifat psikhis; yaitu, untuk memusatkan perhatian, memberikan motivasi, cara mengembangkan hal-hal yang berguna, perencanaan belajar, mengadakan pengecekan dan penelitian.
  3. Kebiasaan belajar; yaitu kegemaran membasa, membuat catatan-catatan/ ikhtisar, memilih sumber bacaan, cara mengingat, cara memecahkan masalah dan cara menulis yang systematis. (Qomarudin, 1987 : 33)

Jadi agar anak gemar membaca/ belajar, maka bimbingan orang tua sangat diperlukan, baik secara fisik maupun secara psikhis, yaitu pengarahan tentang pentingnya membaca, manfaat membaca, bagaimana membaca yang baik. Selain itu orang tua haruslah memberikan fasilitas-fasilitas yang memadai yang menunjang terhadap kegiatan membaca tersebut, misalnya membutuhkan kamar khusus untuk belajar, membelikan buku-buku, alat-alat belajar, dan sebagainya. Dengan cara seperti itu, maka anak akan lebih giat membaca buku-buku, sehingga dalam proses belajarnya ia akan lebih berhasil.

  1. Bahan bacaan di rumah.

Yang dimaksud bahan bacaan dirumah adalah tersedianya bahan bacaan dirumah, baik berupa majalah, surat kabar buku-buku cerita dan yang sejenis ataupun berupa perpustakaan keluarga. Dalam hal ini adalah berpengaruh terhadap minat baca anak. Karena dangan tersedianya bahan bacaan yang banyak dan bermacam-macam, sudah barang tentu anak dengan sendirinya akan timbul rasa ingin tahu tentang isi bahan bacaan tersebut.          Untuk mengetahui isi bahan bacaan tersebut tidak lain adalah dengan jalan membacanya, mungkin ia akan senang membacanya bila bahan bacaan tersebut menarik bagi dirinya. Dengan demikian maka selanjutnya anak akan terbiasa membaca dan membaca buku lagi merupakan kewajiban, melainkan sudah merupakan kebiasaan, dan kebutuhan. Selain pengadaan bahan bacaan dirumah, adalah perlu ditunjang dengan kebiasaan lingkungan keluarga, baik itu orang tua sendiri maupun sudara-sudaranya mensikapi terhadap bahan bacaan tersebut kalau orang tua atau saudara-saudaranya acuh atau tidak pernah membaca bahan bacaan tersebut, kemungkinan besar si anak sendiri akan malas untuk membaca bahan bacaan tersebut. Jadi agar anak gemar terhadap membaca, disini perlu adanya bahan bacaan dirumah atau perpustakaan keluarga, selain itu yang lebih penting lagi adalah sikap orang tua atau saudara-saudaranya terhadap bahan bacaan tersebut, pernah membaca atau tidak terhadap bahan bacaan yang ada tersebut.

  1. Pemberian pekerjaan rumah (PR).

Faktor pemberian tugas atau pekerjaan rumah dalam hal ini adalah juga mempengarui juga terhadap minat baca siswa. Kalau anak diberi tugas atau pekerjaan rumah, misalnya membuat paper, resume, soal-soal dan sebagainya, maka dengan sendirinya anak yang jarang atau tidak pernah membuka buku dan membacanya akan timbul untuk membuka dan membacanya untuk mengerjakan atau menjawab soal-soal tersebut walaupun bermula dari rasa keterpaksan, tapi lama kelamaan karena seringnya ada tugas dari guru maka anak akan sering juga membaca buku dan akhirnya tanpa diberi tugas pun ia akan timbul minat bacanya terhadap buku tersebut.

  1. Faktor ekonomi orang tua.
25

Sebelum membahas tentang faktor ekonomi orang tua berpengaruh terhadap minat baca anak, baiklah disini penulis likiskan sedikit tentang faktor tersebut.

Pada keluarga yang relatif maju dan mampu menunaikan tugas tersebut relative lebih baik keluarga mampu tidak hanya dalam batasan ekonomi saja, oleh sebab itu masalah pendidikan bukan masalah ekonomi, tetapi juga masalah akademis, sosiologis, dan psikhologis. (Tim Dosen IKIP Malang, 1980 : 74)

Jadi dari urutan diatas bahwa keadaan ekonomi keluarga adalah juga berpengaruh terhadap minat baca anak. Anak yang sedang membaca/ belajar disamping memerlukan kebutuhan pokok juga memerlukan fasilitas belajar, seperti ruang belajar, meja belajar, penerangan, alat tulis menulis dan buku-buku yang dibutuhkan. Dalam hal ini dapat terpenuhi oleh keluarga yang status eknominya tinggi. Bila anak dalam keluarga miskin, kebutuhan untuk membaca/ belajar kurang terpenuhi.

Terkadang banyak kegiatan yang dilakukan untuk mencari nafkah. Hal ini jelas akan menganggu terhadap kegiatan belajar anak. Walaupun satu saja kemungkinan anak yang kurang dari segi ekonomi, justru sebaliknya anak itu yang menjadi sukses dalam meraih cita-citanya. Keluarga yang kaya cenderung memanjakan anaknya. Semua kebutuhanya terpenuhi, apa kemauanya terpenuhi, akibatya anak hanya bersenag-senang dan berfoya-foya, akibatnya anak tidak punya kemandirian dan kurang memusatkan perhatianya pada belajar. Jadi faktor ekonomi keluarga adalah mempengaruhi terhadap minat baca untuk anak, tapi dalam hal ini tergantung juga dari si anakitu sendiri terhadap belajarnya agar prestasi belajarnya baik, dan juga dari pihak orang tua mau membimbingdan mengarahkanya dengan sunguh-sungguh agar si anak sering membaca buku atau bahan bacan lainya sehingga prestasi belajarnya baik dan tercapailah cita-citanya.

  1. Fakktor akademis.

Faktor akademis dalam hal ini berhubungan dengan tingkat pendidikan orang tua atau wali siswa. Jika orang tua mereka tegolong berpendidikan tentunya memiliki kebiasaan membaca buku-buku atau bahan bacaan lainnya setiap harinya. Selain itu mereka akan mempunyai koleksi atau kumpulan-kumpulan buku-buku atau bacaan-bacaan. Hal ini akan merangsang pada anak untuk meniru kebiasaan orang tua tersebut, yaitu membaca dan menyukai bacaan-bacaan tersebut. Yang akhirnya akan tumbuh dengan sendirinya minat untuk membaca.

  1. Faktor sosiologis.

Faktor sosiologis dalam hal ini adalah berhubungan dengan status keluarga atau orang tua didalam masyarakat.

Menurut Jhon Voizy, dengan berhubungan dengan hal tersebut menjelaskan sebagai berikut:

27

lebih banyak pendidikan dan lebih sukses pula dari pada mereka yang tinggal didesa.(John Vaizy, 1982 : 109)

Pendapat diatas juga diikuti oleh beberapa ahli dan eksperimennya, bahwa kedudukan orang tua anak didik ditengah-tengah masyarakat adalah berpengaruh terhadap kemampuan atau minat baca anak didik. Antara lain dapat disebut sebuah contoh eksperimen yang dilakukan oleh Hill dan Giometto, ia mengatakan bahwa “siswa kelas III SD yang kondisi SES (Status Ekonomi dan Sosial)-nya baik ternyata kemampuan membacanya juga baik dari pada anak yang SES-nya kurang baik” . (Oka, 1983 : 59)

Dari kutipan diatas menunjukkan adanya hubungan antara latar belakang sosial orang tua terhadap keberhasilan anak dalam pendidikan. Dan sudah logis hal ini asalah juga berpengaruh terhadap minat baca anak.

  1. Faktor psikhologis.

Dalam hal ini adalah menyangkut dari perhatian orang tua pada sifat-sifat kejiwaan anak secara individual. Juga dalam hal ini tak jarang orang tua harus mengakui hak-hak azasi anak. Dengan demikian orang tua memandang anak sebagai subyek didik.

Sebagai subyek didik anak diberi bimbingan dan kesempatan berkembang sesuai dengan sifst-sifst dan kebutuhan yang perlu pada tiap periode perkembangan maupun serasi dengan bakat dan minatnya, dan tak terkecuali minat bacanya. Oleh karena itu bacaan yang dibaca oleh anak-anak dihayati, maka bacaan yang disediakan harus sesuai dengan tingkat perkembangan jiwa anak.

28

Dalam hal ini Chaarlote Buhler, seorang pakar psikhologi perkembangan-perkembangaan jaman, memberi keterangan pada kita bahwa apabila diikuti dengan perkembangan usianya, perkembangan Literer seorang anak dapat dibedakan menjadi beberapa fase perkembangan . Fase-fase itu antara lain:

  1. Usia 2-3 tahun adalah fase usia fantasi. Dengan demikian bacaan yang cocok untuk anak-anak pada usia ini adalah bacaan yang berisi tentang cerita-cerita khayal.
  2. Usia 4-8 tahun adalah fase usia dongeng. Pada fase ini anak-anak suka pada cerita-cerita yang berba dongeng, seperti cerita asal-usul suatu tempat (legenda), dongeng-dongeng binatang (fabek), dan sebagainya.
  3. Usia 9-11 tahun adalah fase usia petualangan. Pada fase-fase ini anak-anak suka terhadap cerita-cerita yang berba petualangan, seperti Sinbat Raja Pelaut, Petualangan Oliver, dan sebagainya.
  4. Usia 15-20 tahun adalah fase usia romantis dan liris. Pada fase ini, anak suka pada sesuatu yang berbau romantis. Dengan demikian, bacaan yang cocok usia ini adalah bacaan yang berbau romantis, misalnya Lupus, Catatan si Boy, Arjuna mencari cinta, dan sebagainya. (Purnawati, 1990 : 165)

Dengan perimbangan kecocokanya dengan tingkat perkembangan jiwa dan perkembangan literer anak kita dapat menambah kegairahan anak untuk suka membaca, yang pada giliranya menjadi kebiasaan yang menyenangkan bagi anak untuk melakukan kegiatan membaca tersebut.

  1. 29

    Faktor motivasi.

Minat anak terhadap membaca adalah berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka. Ia yang mempunyai minat dan perhatian besar untuk membaca sesuatu

pelajaran tertentu, biasanya lebih mudah menangkap atau mempelajari mata pelajaran tersebut. Lain halnya jika ia tidak berminat membaca terhadap sesuatu pelajaran dapat diputuskan akan menurun prestasi belajarnya. Oleh karena itu agar minat baca anak besar maka perlu adanya motivasi-motivasi dari luar baik berupa bimbingan secara langsung maupun pemberian fasilitas atau sarana yang dapat membangkitkan terhadap membaca.

Istilah motivasi banyak digunakan dakam berbagai bidang dan situasi. Dalam uraian ini adalah diarahkan dalam bidang pendidikan. Seperti dikatakan oleh Witherington, bahwa motivasi adalah:

Motivasi atau motivation adalah soal memperhubungkan suatu pekerjaan yang dihadapi dengan suatu atau beberapa kebutuhan yang terasa, artinya: Memperlihatkan bahwa melakukan pekerjaan yang dihadapi tadi akan memuaskan beberapa kebutuhan dasar. ( Witherington, 1982 : 33)

30

Dengan kebutuhan dasar disini dimaksud, kebutuhan yang timbul dari keadan biologis, seperti halnya makan, minum, tidur, dan sebagainya.

Seseorang mempunyai kebutuhan membaca karena keinginan untuk menyelidiki dunia psikhis maupun phisik. Dengan membaca dia akan mengetahui dunia sekitarnya tanpa dibatasi waktu dan tempat, umpama berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sejarah maupun ekonomi di negara sendiri maupun di tempat lain.

Motivasi adalah sebagai proses, mengantarkan anak pada pengalaman-pengalaman yang menginginkan mereka untuk membaca/ belajar. Sebagai suatu proses motivasi berfungsi sebagai berikut:

  1. Memberi semangat danmengaktifkan murid agar tetap berminat dan siaga.
  2. Memusatkan anak pada tugas-tugas tertentu yang berhubungan dengan pencapaian tujuan belajar.
  3. Membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan jangka panjang. (Kahar, 1989 : 33)

Bahwa setiap anak menunjukkan problem individual sendiri-sendiri, mau tidak mau guru atau pendidik pada umumnya harus mengembangkan pemahamannya tentang motivasi dan teknik motivasi. Memotivasi anak bukanlah hal yang mudah, memerlukan kesabaran, pemahaman dan ketulusan hati.

31

Dalam kaitanya dengan hal tersebut, ada sebuah teori terkenal kegunaanya untuk menerangkan tentang motivasi siswa yang dikembangkan oleh Moslow, ia berpendapat: Tingkah laku manusia di bangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan tertentu. Menurut Moslow, kebutuhan yang penting itu adalah:

  1. Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan jasmani manusia misalnya: kebutuhan makan ,minum, hiburan, dan lain-lain.
  2. Kebutuhan akan keamanan, misalnya: kebutuhan bebas dari ancaman, rasa takut , semua jenis bahaya. Anak-anak atau siswa semuanya membutuhkan keselamatan berupa perlindungan.
  3. Kebutuhan kasih sayang, ini merupakan dorongan akan dicintai, afeksi yang bertalian dengan orang lain.
  4. Kebutuhan penghargaan, merupakan dorongan akan ketetapan dasar keteguhan, dihormati orang lain dan penghargaan lainya
  5. Kebutuhan aktualisasi diri, merupakan kebutuhan manusia untuk mengembangkan diri, membuat kesuksesan yang nyata, mewujudkan potensi-potensi yang dimilikinya.
  6. Kebutuhan untuk mengetahuinya, kenyataan kesadaran, kebutuhan akan informasi, dan kebutuhan untuk mengerti akan sesuatu. (Tarigan dkk, 1987 : 91)

Teori tersebut menyarankan bahwa di sekolah, guru membaca serta pelajar lainya hendaknya memberikan perhatian yang besar dan menempatkan masalah motivasi dalam proses pendidikan. Sebab bagaimanapun motivasi adalah penggerak atau ruh seseorang untuk berbuat sesuatu, termasuk dalam kegiatan membaca.

Dari sekian faktor yang mempengaruhi terhadap minat baca yang penulis uraikan diatas, yaitu faktor bimbingan orang tua, faktor bahan bacaan dirumah, faktor pemberian pekerjaan rumah (PR), faktor akademis, faktor sosiologis, faktor psikhologis dan yang terakhir faktor motivasi, maka disini penulis perlu tegaskan bahwa dari sekian faktor diatas yang menjadi pembahasan dalam penelitian adalah hanya tiga faktor, yaitu faktor bimbingan dari orang tua, faktor bahan bacaan dirumah dan faktor pemberian pekerjaan rumah (PR). Selanjutnya yang lain hanyalah sekedar menambah literature dan menambah wawasan saja.

Dengan demikian dari devinisi tentang pembagian minat di atas dapat disimpulkan bahwa minat baca ada dua macam, yaitu minat baca spontan atau minat baca yang timbul dari dirinya sendiri atau atas kemauan siswa sendiri, dan kedua adalah minat baca terpola atau minat baca yang timbul akibat dari pengaruh lingkungan keluarga, teman bergaul atau dorongan dari sekolah. Dalam penelitian ini kedua jenis minat baca tersebut diperhitungkan dan disikapi sebagai hal-hal yang berkaitan dengan motivasi utnuk perilaku membaca.

  1. B. Peranan Pendidikan Dalam Mengembangkan Minat Baca.

Pendidikan juga bisa berarti sebagai transformasi ilmu pengetahuan. Sebaga mana disebutkan terdahulu, bahwa dengan membaca orang akan bertambah informasinya tentang ilmu pengetahuan dan teknologi serta dapat membentuk kepribadiannya. Oleh karena itu membaca adalah kegiatan yang sangat penting dalam kehidupan manusia serta dapat mengacu pada masalah di atas pendidikan adalah sangat berperan dalam menciptakan manusia yang gemar membaca, yang pada akhirnya dengan banyak membaca akan terbentuklah manusia yang berkualitas.

Menurut Ki Hajar Dewantara bahwa lembaga pendidikan itu ada tiga, yang terkenal dengan sebutan”Tri Pusat Pendidikan”, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Untuk lebih jekasnya maka dibawah ini akan penulis bahas secara singkat tentang peranan ketiga lembaga pendidikan tersebut dalam mengembangkan minat baca anak.

  1. 1. Keluarga.

Keluarga adalah merupakan pendidikan yang pertama dan utama yang diperoleh anak. Keluarga adalah sangat berperan dalam membentuk anak menjadi manusia yang berpengetahuan selain juga sekolah dan lembaga pendidikan lainya. Agar anak menjadi manusia yang berpengetahuan, maka sudah selayaknya mengarahkan anak agar gemar membaca serta memberikan penjelasan tentang pentingnya membaca.

Dalam keiatannya dengan bimbingan kearah membaca tersebut, Cristion Nuttel (1982) didalam artikelnya yang berjudul Teaching Reding Skill in a foregn Language memberi penjelasan kepada kita bahwa ada beberapa hal yang dapat kita perbuat dalam rangka membina dan mengembangkan minat baca pada anak. Beberapa yang dapat diperbuat itu adalah:

  1. Memberi penjelasan kepada anak mengenai manfaat dan keuntungan yang kita raih apabila suka dan biasa membaca, misalnya dengan membaca kita akan memperoleh banyak pengetahuan, dan pengetahuan itu sangat berguna dalam hidup.
  2. Membacakan serba sedikit bagian-bagian buku menarik lalu menyuruh anak menerka bagian kelanjutan ceritanya.

  1. 19

    Suatu saat anak disuruh membaca sebuah buku atau cerita yang menarik baginya, lalu ia kita suruh menceritakan kembali apa yang telah dibacanya kepada kakak atau adik-adiknya.

  1. Suatu saat kita perlu memperlihatkan buku atau cerita baru kepada anak dan menceritakan serba sedikit isi yang terkandung didalamnya, kita sekali-kali perlu membeli buku baru yang lengkap dengan kaset rekamanya, lalu memutarkan bagian-bagian yang menarik beberapa saat saja. (Purwati, 1990 : 255)

Dengan cara-cara diatas anak akan terangsang minatnya untuk membaca. Jika rangsangan atau dorongan untuk membaca telah ada pada diri anak, tugas orang tua selanjutnya adalah mengupayakan agar dorongan itu dapat berkembang terus hingga membaca tidak lagi merupakan paksaan, melainkan telah merupakan kebiasaan, bahkan telah menjadikan kebutuhan baginya.

  1. 2. Sekolah.

Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang sangat berperan dalam mengembangkan minat baca siswa setelah keluarga. Di rumah (keluarga), tidak selamanya tersedia kesempatan untuk membimbing, mengarahkan dan memberi dorongan tehadap belajar terhadap anaknya. Sekolah dalam hal ini yang diatur dan disiapkan untuk dapat memenuhi kebutuhan anak. Disini peranan gurulah yang sangat menentukan terhadap keberasilan anak didiknya dalam proses belajar mengajar di sekolah tersebut. Guru bertugas selain mengajar untuk memberikan ilmu adalah juga bertugas memberkan bimbingan terhadap anak didiknya dalam mengatasi kesulitan-kesulitan dalam membaca/mengajar. Selain itu tugas guru adalah mendorong kepada siswa untuk lebih aktif membaca agar dalam proses belajarnya dapat mencapai prestasi dengan baik.

20

Ada empat hal yang dapat dikerjakan oleh guru dalam kaitanya untuk memberi dorongan pada siswanya, antara lain:

  1. Membangkitkan dorongan pada siswa untuk belajar.
  2. Menjelaskan secara konkrit kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pelajaran.
  3. Memberikan penghargaan terhadap prestasi yang di capai sehingga dapat merangsang untuk mencapai prestasi yang lebih baik dikemudian hari.
  4. Membentuk kebiasaan belajar yang baik. (Slameto, 1987 : 101)

Jadi dalam proses belajar menganjurkan untuk dapat mengantarkan anak didik sesuai dengan yang dicita-citakan, maka guru haruslah memberikan dorongan ataupun bimbingan agar lebih giat untuk membaca/ belajar sehingga dengan membaca lebih aktif maka prestasi belajarnya akan meningkat. Selain itu dari pihak sekolah sendiri haruslah menyediakan sarana yang dapat membangkitkan semangat untuk membaca tersebut, misalnya menyediakan perpustakaan dengan buku yang lengkap, dan sebagainya.

  1. 3. Masyarakat.

Lembaga pendidikan yang ketiga adalah masyarakat. Inipun juga mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan minat baca anak. Karena di masyarakat anak terjun setelah mereka pulang dari belajar di sekolah. Oleh karena itu agar anak yang masih dalam menempuh belajarnya (bersekolah) agar minat bacanya tinggi, karena dengan minat bacanya tinggi tentu akan mempengaruhi terhadap keberhasilan dalam belajarnya, maka disini masyarakat haruslah tanggap terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh anak dalam kaitanya dengan belajar, yaitu dengan jalan memberikan fasilitas berupa perpustakaan umum, masuknya koran, majalah di desa, dan sebagainya.

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A. Populasi dan Sampel

Populasi berarti “semua anggota kelompok orang kejadian atau obyek yang telah dirumuskan dengan jelas”. (Arif Furqon, hal.189)

Bertolak dari pengertian populasi diatas, maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 7 dan kelas 8 SMP Negeri 1 Ngawi. Dengan perincian kelas 7 terdiri dari 332 siswa, kelas 8 terdiri dari 325 siswa. Jadi jumlah keseluruhan siswa yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah 756 siswa.

Selanjutnya yang dimaksud dengan sampel adalah “sebagian dari keseluruhan obyek (populasi) yang dapat dipandang mewakili populasi tersebut”.

Jadi sampel adalah sebagian dari keseluruhan obyek, dalam hal ini obyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 7 dan kelas 8 SMP Negeri 1 Ngawi dipandang dapat mewakili populasi tersebut. Dalam pengambilan sampel tersebut agar dapat representative, maka haruslah menggunakan teknik-teknik pengambilan sampel yang sesuai dengan sifat dan tujuan penelitian ini.

Adapun dalam pengambilan sampel tersebut, penulis menggunakan teknik gabungan, yaitu dengan teknik proportional stratified random sampling, dimana merupakan gabungan dari proportional sampling, sratified sampling dan random sampling. Dengan pertimbangan bahwa populasi dalam penelitian ini terjadi dari kelas-kelas 7 dan 8, yang merupakan sub-sub populasi yang menunjukkan adanya strata.

Mengenai proportional sampling, Sutrisno Hadi mengemukakan:

Jika populasi terdiri dari beberapa sub populasi yang tidak homogin dan tiap-tiap sub akan diwakili dalam penyelidikan maka pada prinsipnya ada dua jalan yang dapat ditempuh:

  1. Mengambil sampel dari tiap-tiap sub populasi tanpa memperhitungkan besar kecilnya sub populasi.
  2. Mengambil sampel dari tiap-tiap sub populasi dengan memperhitungkan besar kecilnya sub populasi itu.

Kedua sampling ini mempunyai implikasi yang berbeda-beda dalam generalisasi, cara yang kedua disebut proportional dan memberikan landasan generalisasi yang lebih dapat dipertanggung jawabkan dari pada yang pertama. (Sutrisno Hadi, hal. 81)

Tentang stratified sampling, Sutrisno Hadi mengatakan “jadi sampling yang memperhatikan stratum-stratum dalam populasi disebut stratified sampling”.

(Sutrisno Hadi, hal. 82)

Adapun mengenai random sampling, Sutrisno Hadi memberikan batasan pengertian: “random sampling adalah pengambilan sampel secara random atau pandangan bulu”. (Sutrisno Hadi, hal. 75)

Selanjutnya Sutrisno Hadi menjelaskan:

Dalam random sampling semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Karena itu tidak ada alasan untuk menganggap random sampel sebagai sampel yang nyeleweng. (Sutrisno Hadi, hal. 75)

Dari uraian diatas dapat dikemukakan bahwa “proportional sratified sampling” adalah teknik pengambilan sampel secara acak atau rambang dari suatu populasi yang menunjukkan adanya srata atau tingkatan, dengan memperhatikan perimbangan atau proporsi dalam setiap stratanya.

Karena terbatasnya biaya, waktu dan tenaga, maka dalam penelitian ini penulis hanya mengambil sampel sebanyak 100 siswa, dengan perincian sebagai berikut:

-Kelas 7 =­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­     X 100  = 43 Siswa.

-Kelas 8 =    X 100  = 42 Siswa.

Jadi jumlah keseluruhan yang dijadikan sempel dalam penelitian ini adalah sebanyak 100 siswa yang diharapkan dapat mewakili populasi dalam peneltian ini.

  1. B. Metode Pengumpulan Data.

Untuk memperoleh data yang sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan beberapa metode penumpulan data, antara lain:

  1. 1. Metode Angket.

Metode ini sering disebut dengan metode quesioner. Adapun yang dimaksud metode angket adalah ”cara pengumpulan data dengan jalan mengirimkan angket yang berisi daftar pertanyaan kepada responden untuk menyampaikan pendapatnya tentang sesuatu masalah”.

(Sutrisno Hadi, hal. 158)

Metode angket ini digunakan untuk memperoleh data tentang:

–              Frekwensi baca siswa.

–              Jenis bahan bacaan siswa.

–              Tujuan membaca.

–              Alasan membaca.

–              Bimbingan orang tua kepada siwa.

–              Adanya bahan bacaan di rumah.

–              Pemberian pekerjaan rumah (PR) yang diberikan oleh guru kepada siswa.

–              Frekwensi baca pelajaran agama.

–              Frekwensi baca siswa pelajaran umum.

  1. Metode Dokumentasi.

Menurut Suharsimi Arikunto, metode dokumentasi adalah “mencari data mengenai hal-hal atau verbal yang berupa catatan, traskrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger agenda dan sebagainya”.

(Suharsimi Arikunto, hal. 188)

Metode tersebut digunakan untuk memperoleh data yang berhubungan dengan:

–              Latar belakang obyek.

–              Keadaan siswa.

–              Keadan guru.

  1. Metode observasi.

Yang dimaksud metode observasi adalah “pengamatan dan penataan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki”.

(Sutrisno Hadi, hal. 136)

Adapun metode observasi tersebut adalah digunakan untuk memperoleh data tentang:

–              Keadaan lokasi.

–              Keadaan gedung.

  1. Metode interview.

Yang dimaksud metode interview ialah “cara pengumpulan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dilakukan dengan sistematis dan berlandaskan pada tujuan penyelidikan”. (Sutrisno Hadi, hal. 193)

Metode tersebut hanya sebagai metode pelengkap dari ketiga metode di atas.

  1. C. Metode Analisa Data.

Untuk keperluan analisa data, digunakan teknik analisa data yang sesuai dengan sifat dan jenis data yang ada serta tujuan penelitian dalam pembahasan skripsi ini.

  1. Teknik Analisa Diskriptip.

Teknik ini dipergunakan untuk menganalisa data yang bersifat kwalitatif, yaitu data yang tidak bisa diwujudkan dengan angka-angka.

  1. Teknik Analisa Statistic.

Teknik ini digunakan untuk menganalisa data yang bersifat kwantitatif, yaitu data yang bisa diwujudkan dengan angka-angka. Teknik tersebut adalan sebagai berikut:

  1. a. Prosentase, rumusnya adalah:

P          =  , dengan penjelasan:

P          = Prosentase.

f           = Frekwensi jawaban, dan N= Jumlah Responden

(Anas Sudiono, hal. 40)

  1. Teknik analisa Chi kwadrat dan Chi kwadrat koreksi Yates, rumusnya adalah:

X2 =            , Dengan penjelasan

X2 = Chi kwadrat

Fo = Frekwaensi yang diperoleh dari sampel.

Fh =Frekwensi yang diharapkan dalam sampel sebagai pencerminan dari     frekwensi yang diharapkan dalam populasi.

(Sutrisno Hadi, hal. 317-318)

Setelah diketahui f o , selanjutnya dicari f h , dengan cara sebagai berikut:

f h =

(Sutrisno Hadi, hal. 398)

Adapun bentuk table kerja persiapan perhitungan harga Chi kwaderat dapat disusun sebagai berikut:

TABEL I

TABEL KERJA PERSIAPAN PERHITUNGAN

HARGA CHI KWADRAT

Keterangan:     Y = Indevenden Variabel

X = Dependen Variabel

N = Jumlah Sampel

Dari tabel kerja tersebut, “bila ada fh yang lebih kecil dari 5, maka beberapa sel harus disatukan”. (Moh Nasir, hal. 482)

“Bila d.b = 1, maka rumus X2 Yang dipakai adalah rumus X2 dengan koreksi Yates. Koreksi Yates ini hanya berlaku untuk d.b = 1”. (Sutrisno Hadi, hal. 355)

Adapun rumus koreksi Yates tersebut adalah sebagai berikut:

Selanjutnya nilai Chi kwadrat hitung (X2h ) dibandingkan dengan nilai Chi kwadrat tabel (X2t). Nilai X2t dilihat pada tabel distribusi X2 pada lampiran dengan d.b = (b-1) (k-1) dan memakai taraf signifikansi =0,05. Kemudian ditentukan daerah penolakan sebagai berikut:

  • Tolak Ho dan terima Ha jika X2h ≥ X2t , dalam taraf nyata = α dan derajat kebebasan d.b untuk disribusi Chi kwadrat = (b-1) (k-1).
  • Terima Ho dan tolak  Ha jika X2h < X2t , dalam taraf nyata = α dan derajat kebebasan d.b untuk disribusi Chi kwadrat = (b-1) (k-1).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: