skripsi8

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Dewasa ini terjadi perubahan besar dalam paradigma pendidikan di Indonesia. Pemerintah berupaya untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan dengan metode dan strategi pembelajaran baru dari sistim pendidikan sebelumnya yang dirasa telah mengalami perjalanan statis, bahkan terkesan tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Sikap (moral) ternyata berperan penting dalam pencapaian keberhasilan pendidikan seseorang. Dari sini akan terlihat bahwa aspek pengetahuan saja tidak akan menjamin seseorang berhasil didalam pendidikannya, terutama yang menyangkut hubungan pergaulan hidup sehari-hari. Peran dan kontribusi perkembangan sikap dan moral inilah yang justru harus mendapat nilai tambah karena sangat penting artinya, bukan hanya kesejahteraan dalam kemajukan hidup, tetapi juga menciptakan rasa religiusitas, toleransi dan kebersamaan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al Ankabut ayat 45 :

žcÎ) no4qn=¢Á9$# 4‘sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍s3ZßJø9$#ur 3 ãø.Ï%s!ur «!$# çŽt9ò2r& 3 ª!$#ur ÞOn=÷ètƒ $tB tbqãèoYóÁs? ÇÍÎÈ

Artinya : Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( Depag RI, 2002, 566 )

Sesuai dengan ayat diatas dijelaskan bahwa sholat itu dapat merubah moral atau sikap seseorang menjadi lebih baik. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengembangkan aspek sikap dan moral siswa adalah bentuk pelaksanaan ibadah shalat berjamaah. Akan tetapi bila kita cermati, keberadaan shalat berjamaah pada lembaga-lembaga pendidikan kurang mendapat perhatian.

Ibadah shalat berjamaah memang merupakan bentuk ibadah yang syarat dan kental dengan nilai-nilai kebersamaan. Kita tentu akan mendapatkan sebuah gambaran ketika setiap siswa terikat dan sekaligus sadar menjalankan kebiasaan ibadah ini sebagai rutinitas yang selalu mereka kerjakan, misalnya saja setelah mereka pulang sekolah alangkah baiknya jika semua siswa langsung melaksanakan shalat berjamaah dengan gurunya sendiri yang sekaligus menjadi Imamnya. Dari sana pasti akan terlihat nilai dan rasa kebersamaan yang tumbuh dan muncul diantara mereka untuk mengisi ruang rohaniahnya. Maka tidak salah jika guru harus lebih proaktif  dalam segi pembinaan dan pelaksanaannya, sehingga muncul kesadaran dari dalam diri siswa tentang hakekat dan pentingnya pelaksanaan shalat berjamaah.

Shalat berjamaah yang dapat dipandang sebagai bentuk ibadah utama dalam Islam tentu mempunyai keutamaan, salah satunya adalah seperti yang pernah disabdakan Rosulullah SAW dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

ﻮﻋﺴﺮﻴﻦﺪ ﺮﺠﺔ ﻊﺒﺴﺒ ﺫﻔﻠﺍ ﺓ ﻼﺻ ﻰﻋﻞﺿﻔﺘ ﺔﻋﺎﻣﺠﻟﺍ ﺓﻼﺻ

Artinya:

“Shalat berjamaah itu melebihi keutamaannya diatas yang dikerjakan sendirian dengan dua puluh tujuh derajat”.

( Shahih Bukhary, 1993 : 135)

Sejalan dengan betuk ibadah praktek yaitu shalat berjamaah, maka terdapat, bahan pelajaran yang tidak hanya bersifat praktek saja, tetapi juga bernuansa kajian ibadah yang luas yaitu mata pelajaran agama islam.

Mata pelajaran agama islam merupakan salah satu pelajaran yang ada di lingkup Sekolah Dasar. Bahan pelajaran ini tidak bisa terlepas dari setiap peserta didik karena selain didalamnya terdapat konsep teori, juga terdapat aspek penerapan langsung yang berhubungan dengan aktivitas dan kegiatan siswa dalam kesehariannya.

Ditengah keberadaannya dengan mata pelajaran umum, ternyata mata pelajaran agama islam kurang mendapatkan tempat dihati para siswa. Banyak siswa cenderung menganggap pelajaran agama islam adalah bentuk pelajaran biasa yang mengutamakan konsep-konsep teori saja, sehingga meraka lebih memburu  nilai dari gurunya daripada menghayati dan mengamalkan kandungan nilai yang terdapat dalam pelajaran ini. Maka sudah sewajarnya jika seorang guru agama lebih meningkatkan perannya dalam mengkaji dan sekaligus memberikan pencerahan dengan wajah baru setiap melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan siswa.

Mata pelajaran agam islam  memang identik dengan hukum Islam, karena dalam pelajaran ini mengikat dan berhubungan langsung dengan aktivitas individu sebagai seorang mukhalaf. Mata pelajaran ini memang strategis karena didalam mata pelajaran agama islam terdapat konsep-konsep dasar tentang hukum Islam yang esensial. Maka sudah selayaknya jika di-era pembelajaran sekarang ini muatan-muatan yang menjadi pokok mata pelajaran ini harus benar-benar ditanamkan sekaligus diimplementasikan dengan praktek keseharian. Esensi dari pokok materi agam islam itu diantaranya adalah tentang ibadah, dalam hal ini termasuk didalamnya adalah pelaksanaan shalat berjamaah.

Dari berbagai uraian dan latar belakang diataslah yang menggerakkan  hati penulis untuk membuat penelitian dan menuangkannya dalam sebuah skripsi yang berjudul:

“Korelasi Pelaksanaan Shalat Berjamaah Dluhur Disekolah Dengan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Agama Islam Pada Siswa Kelas II – VI SDN Sambirejo  3 Mantingan Tahun Pelajaran 2008/2009”.

B. Penegasan Istilah

Sehubungan dengan kompleksnya makna kata dalam bahasa Indonesia, maka perlu kiranya penulis tegaskan istilah per istilah judul yang penulis ambil sebagai berikut:

Korelasi :   Hubungan timbal balik atau sebab akibat .

(Depdiknas, hal. 526)

Pelaksanaan :   Melakukan, menjalankan , mengerjakan rancangan.

(Poerwodarminto,1983: 553)

Shalat Berjamaah :   Shalat bersama-sama dengan mengikuti imam.

(Depdikbud, hal 866)

Dluhur :   Waktu shalat fardlu, yaitu setelah tergelincir matahari dari pertengahan langit sampai bayang-bayang sesuatu telah sama dengan panjangnya, selain dari bayang-bayang ketika matahari menonggak. (Rasjid Sulaiman: 67)

Prestasi : Hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan). (Poerwodarminto 1983: 768)

Belajar :  Proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan .( Hamalik Oemar, 1978 : 37)

Mata Pelajaran :   Barang apa yang dipelajari.

(Poerwodarminto,1983: 724)

Agama Islam : Segenap kepercayaan terhadap Allah serta dengan ajaran dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaannya itu. ((Depdikbud, hal 18 )

Yang penulis maksud tersebut di atas adalah suatu mata  pelajaran agama islam yang diberikan di SDN Sambirejo 3 Mantingan yang mendasar pada kurikulum SD.

Siswa :    Pelajar (Poerwodarminto,1983 : 955)

Dari penegasan istilah di  atas maka yang dimaksud judul “Korelasi Pelaksanaan Shalat Berjamaah Dluhur Disekolah Dengan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Agama Islam Pada Siswa SDN Sambirejo  3 Mantingan” adalah hubungan antara keaktifan sholat berjamaah dluhur disekolah terhadap prestasi belajar agama islam pada siswa kelas II – VI SDN Sambirejo 3 Mantingan tahun pelajaran 2008/2009.

C.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan judul yang dipilih, maka penulis memusatkan perhatian pada masalah seperti yang dirumuskan berikutt ini :

  1. Adakah korelasi pelaksanaan shalat berjamaah dluhur disekolah dengan prestasi belajar mata pelajaran agama islam  pada siswa kelas II – VI SDN Sambirejo 3 Mantingan ?
  2. Sejauh mana korelasi pelaksanaan shalat berjamaah dluhur disekolah dengan prestasi belajar mata pelajaran agama islam pada siswa II – VI SDN Sambirejo 3 Mantingan ?

D.   Tujuan dan Kegunaan Penelitian.

  1. Mendasar pada rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
    1. Untuk mengetahui adakah korelasi pelaksanaan shalat berjamaah dluhur dengan prestasi belajar mata pelajaran agama islam pada siswa kelas II – VI SDN Sambirejo 3 Mantingan.
    2. Untuk mengetahui sejauh mana korelasi pelaksanaan shalat berjamaah dluhur dengan prestasi belajar mata pelajaran fiqh pada siswa kelas II – VI SDN Sambirejo 3 Mantingan.

2.         Adapun penulisan skripsi ini diharapkan mempunya kegunaan bagi beberapa pihak diantaranya :

  1. Sebagai bahan masukan kepada lembaga pendidikan untuk lebih berkreasi dalam upaya mananamkan rasa religiuitas dan kebiasaan Islami pada pesrta didik melalui bentuk pelaksanaan ibadah.
  2. Bagi guru agama, agar bisa lebih proaktif dalam mencerdaskan anak didik tidak hanya sebatas aspek pengetahuannya saja, tetapi juga aspek sikap dan pengamalan melalui pelaksanaan ibadah praktis.
  3. Bagi penulis, bisa dijadikan inspirasi untuk penelitian-penelitian selanjutnya.

E.   Alasan Pemilihan Judul

Untuk penulisan skripsi ini penulis sengaja memilih judul : “Korelasi Pelaksanaan Shalat Berjamaah Dluhur Disekolah Dengan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Agama Islam Pada Siswa kelas II – VI siswa SDN Sambirejo 3 Mantingan tahun pelajaran 2008/2009”.

Dari pokok pembahasan dan ruang lingkup didalamnya, mempunyai alasan pemilihan judul sebagai berikut:

  1. Sekarang ini pelaksanaan shalat berjamaah sangat dibutuhkan bagi siswa didalam membina sikap dan moral mereka yang agamis serta mengamalkan ajaran islam.
  2. Sepengetahuan penulis belum pernah dikaji tentang korelasi pelaksanaan shalat berjamaah dluhur disekolah dengan prestasi belajar mata pelajaran agama islam pada siswa SDN Sambirejo 3 Mantingan.

F.   Hipotesis

Hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kenyataannya (Hadi Sutrisno, 1978: 257)

Adapun Hipotesis yang penulis ajukan dalam skripsi ini adalah:

  1. Ada korelasi dalam pelaksanaan shalat berjamaah Dluhur di sekolah dengan prestasi belajar mata pelajaran agama islam (Hi)
  2. Tidak ada korelasi dalam pelaksanaan shalat berjamaah Dluhur di sekolah dengan prestasi belajar mata pelajaran agama islam (Ho)

  1. G. Sistematika Pembahasan

Agar dapat urut-urutan dalam bahasan skripsi ini maka disusunlah sistematika pembahasan mulai dari bagian preliminaries hingga akhir skripsi ini sebagai berikut :

Bab I      : PENDAHULUAN pada bab ini dibahas secara runtut mengenai Latar belakang masalah, penegasan judul, perumusan masalah, tujuan dari kegunaan penelitian, alasan memilih judul, hipotesis dan sistematika pembahasan.

Bab II     : LANDASAN TEORI pada bagian ini menjelaskan tinjauan tentang sholat berjamaah, tinjauan tentang prestasi belajar serta tinjauan tentang mata pelajaran agama islam.

Bab III   : METODE PENELITIAN pada bagian ini memuat tentang populasi dari sampel, metode-metode data dan metode yang digunakan untuk menganalisa data.

Bab IV   : LAPORAN HASIL PENELITIAN dalam bab ini dimuat gambaran umum lokasi penelitian dan penyajian dan analisa data.

Bab V     : KESIMPULAN pada bab ini berisi tentang kesimpulan akhir ini, saran-saran dan penutup sedangkan bagian paling akhir skripsi ini dikemukakan daftar kepustakaan, daftar lampiran-lampiran dan daftar ralat (jika ada)

BAB II

A.   Kajian Tentang Shalat Berjamaah

  1. 1. Hakekat Shalat Berjamaah

Jika berbicara tentang shalat berjamaah, maka kita tidak akan lepas dan merasa asing lagi dari amalan ibadah ini, yaitu tentang ibadah shalat. Sesuai dengan yang disyariatkan di dalam ajaran Islam, shalat merupakan salah satu dari ibadah inti dan pokok yang dilaksanakan umat diseluruh dunia, karena didalam Islam shalat ini termasuk dalam kategori ibadah khassah (khusus) atau ibadah mahdah. ( ibadah yang ketentuannya pasti)

Menurut Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, MA. dan Dr. Hj. Siti Musdah Mulia didalam bukunya “menyelami seluk beluk ibadah dalam Islam”dikatakan shalat termasuk dalam ibadah khasah atau mahdah karena shalat merupakan implementasi dari bentuk ibadah yang ketentuan dan pelaksanaannya telah ditetapkan oleh nash dan merupakan sari ibadah kepada Allah SWT.

Ibadah shalat merupakan manifestasi dari pelaksanaan salah satu rukun Islam yang kedua, sebagai sebuah rukun agama ia menjadi dasar yang harus ditegakkan dan ditunaikan sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang ada. pada praktek sesungguhnya harus merupakan perwujudan dari kelemahan seorang manusia dan rasa membutuhkan seorang hamba terhadap Tuhan dalam bentuk perkataan dan perbuatan.

( Raya Ahmad Thib, dan Mulia Siti Musdah, 2003:175)

Terkait dengan hal diatas yang berhubungan erat dan tidak dapat dipisahkan dari bentuk pelaksanaan ibadah shalat adalah shalat berjamaah. Beberapa pengertian tentang shalat berjamaah dan hakekat shalat berjamaah  itu adalah sebagai berikut:

Shalat berjamaah adalah shalat yang dilakukan oleh orang banyak, bersama-sama, sekurang-kurangnya terdiri dari dua orang, satu orang didepan bertindak sebagi imam dan yang lainnya berdiri dibelakangnya sebagi makmum (Depag, , 1992: 229)

Sedangkan menurut H. Sulaiman Rasjid yang dinamakan shalat berjamaah ialah apabila dua orang shalat bersama-sama dan salah seorang diantara mereka mengikuti yang lain. Orang yang diikuti (yang dihadapan) dinamakan imam dan yang mengikuti di belakang dinamakan makmum (Rasjid Sulaiman, 1987:113)

Berhubungan dengan waktu pelaksanaan shalat, salah satunya adalah waktu dluhur, yaitu waktu mengerjakan shalat dimana awal waktunya setelah tergelincir matahari dari pertengahan langit, dan akhir waktunya apabila bayang-bayang sesuatu telah sama dengan panjangnya, selain dari bayang-bayang ketika matahari menonggak. (Rasjid Sulaiman, 1987:67)

Dari sinilah dapat ditegaskan bahwa hakekat shalat berjamaah dluhur dapat didefinisikan sebagai salah satu bentuk ibadah shalat secara bersama-sama antara dua orang atau lebih, yang satu menjadi imam dan yang lainnya mengikuti geakan imam (makmum) yang dilaksanakan diwaktu dluhur.

  1. 2. Dasar dan Hukum Pelaksanaan Shalat Berjamaah

Sebagai bentuk ibadah khassah (khusus), shalat berjamaah tentunya mempunyai dasar yang kuat, sehingga ketentuan dan pelaksanaannya telah ditetapkan oleh nash, yaitu sesuai dengan firman Allah dalam  Annisa ayat 102:

Artinya :

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu.

(, Depag RI,2002: 138)

Sedangkan hukum shalat berjamaah menurut banyak ulama berbeda, sebagian ulama mengatakan shalat berjamaah itu fardlu ‘ain (wajib ‘ain) sebagian lagi berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardlu kifayah, sebagian lagi berpendapat sunah muakkad (sunah istimewa). Yang akhir inilah hukum yang lebih layak selain shalat Jum’at. Menurut kaidah penyesuaian beberapa dalil dalam masalah ini seperti tersebut diatas, berkata pengarang Nailul Authar:

Pendapat yang seadil-adilnya dan sehampir-hampirnya pada yang betul ialah shalat berjamaah itu sunat muakkad. (Rasjid Sulaiman:1987:115)

  1. 3. Syarat-syarat dan Tata Cara Shalat Berjamaah

Pada prakteknya, sebenarnya shalat berjamaah mempunyai dua subjek pokok yaitu imam dan makmum yang pada setiap pribadi ini sama-sama terikat oleh syarat dan rukun yang sama seperti pelaksanaan shalat biasa.

Secara garis besar syarat dan tata cara shalat berjamaah adalah seperti yang dijabarkan oleh H. Sulaiman Rasjid dalam bukunya “Fiqh Islam” sebagai berikut:

  1. Makmum hendaknya meniatkan mengikuti imam. Adapun imam tidak menjadi syarat berniat berniat menjadi imam, sunat agar ia mendapat ganjaran berjamaah.
  2. Makmum hendaknya mengikuti gerakan imamnya dalam segala pekerjaannya. Maksudnya, makmum hendaknya membaca takbiratul ihram sesudah imamnya, begitu juga permulaan segala perbuatan makmum hendaklah terkemudian dari yang dilakukan oleh imamnya.
  3. Mengetahui gerak-gerik perbuatan imam Umpamanya dari berdiri keruku’ dari ruku’ ke i’tidal, dari i’tidal ke sujud,dan seterusnya, baik yang diketahui dengan melihat imam sendiri, melihat saf (barisan) yang dibelakang imam, mendengar suara imam atau suara mubalighnya, agar makmum dapat mengikuti imamnya.
  4. Keduanya (imam dan makmum) berada dalam satu tempat, umpamanya dalam satu rumah. Setengah ulama berpendapat bahwa shalat di satu tempat itu tidak menjadi syarat, hanya sunat karena yang perlu ialah mengetahui gerak-gerik perpindahan imam dari rukun ke rukun atau dari rukun ke sunat, dan sebaliknya agar makmum dapat mengikuti imamnya.
  5. Tempat berdiri makmum tidak boleh lebih depan dari imamnya. Yang dimaksud disini ialah lebih depan kepihak kiblat. Bagi orang shalat berdiri diukur tumitnya dan bagi orang duduk, diukur dari pinggulnya. Adapun apabila berjamaah di masjid al-Haram, hendaklah saf mereka melengkung sekeliling Ka’bah dari imam di lain fihak.

Susunan makmum :

1)            Kalau makmum hanya seorang, hendaklah ia berdiri disebelah kanan imam agak kebelakang sedikit; dan apabila datang orang yang lain, hendaklah ia berdiri disebelah kiri imam Sesudah ia takbir, imam hendaklah maju, atau kedua orang itu (makmum) mundur.

2)            Kalau jamaah itu terdiri dari beberapa saf, terdiri atas jamaah laki-laki dewasa, kanak-kanak dan perempuan, maka hendaklah di antara saf sebagai berikut: dibelakang imam ialah saf laki-laki dewasa, saf kanak-kanak, kemudian saf perempuan.

3)            Saf hendaklah lurus dan rapat, berarti jangan ada renggang antara yang seorang dengan yang lain.

  1. Imam hendaklah jangan mengikuti yang lain. Imam itu hendaklah berpendirian tidak terpengaruh oleh yang lain; kalau ia makmum tentu ia akan mengikuti imamnya.
  2. Hendaklah sama aturan shalat makmum dengan shalat imam Artinya, tidak  sah shalat fardlu yang lima mengikuti shalat fardlu mengikuti shalat gerhana atau shalat mayat karena aturan (cara) kedua shalat itu tidak sama; tetapi tidak berhalangan orang shalat fardlu yang lima mengikuti orang shalat sunah yang sama aturannya, sepeti orang shalat isya’ mengikuti orang shalat tarawih dan sebaliknya, karena aturan dua shalat tersebut sama.
  3. Laki-laki tidak sah mengikuti perempuan. Berarti laki-laki tidak boleh menjadi makmum, sedangkan imamnya perempuan. Adapun perempuan yang menjadi imam bagi perempuan pula, tidak beralangan.
  4. Keadaan imam tidak ummi, sedangkan makmum qori’ artinya, imam itu adalah orang yang baik bacaannya.
  5. Jangan makmum berimam kepada orang yang diketahuinya bahwa shalatnya tidak sah (batal). Seperti mengikuti imam yang  diketahui oleh makmum bahwa ia bukan orang Islam, atau ia berhadats atau bernajis badan, pakaian dan tempatnya. Karena imam yang seperti itu hukumnya tidak sah dalam shalat. (Rasjid Sulaiman,1987:121)

4.Keutamaan dan Hikmah Shalat Berjamaah.

Ibadah shalat khususnya shalat berjamaah sebagai salah satu bentuk ibadah pokok dalam syariat Islam, sudah barang tentu mempunyai keistimewaan. Keistimewaan tersebut dapat terlihat dari beberapa keutamaan dan hikmah yang terdapat dalam shalat berjamaah. Adapun keutamaan dan hikmah yang terdapat dalam shalat berjamaah adalah seperti yang dituliskan dalam kumpulan kitab hadits Shahih Bukhary, diantaranya adalah:

ﺼﻼﺓﺍﻠﺠﻤﺎﻋﺔ ﺘﻌﺪ ﻞﺧﻤﺴﺎﻮﻋﺷﺮﻴﻦﻤﻦﺼﻼﺓﺍﻠﻔﻨ

Artinya :

Shalat jamaah itu menyamai dua puluh lima shalat sendirian”. ( Riwayat, Bukhari, Muslim dan Abu Hurairah) (As Suyuthi, 2003:322)

Dari hadits diatas kita dapat memperoleh suatu bahan kajian bahwa jika dipandang dari sisi pahalanya, sudah jelas dengan melaksanakan shalat berjamaah kita akan mendapatkan keutamaan dan kemuliaan sebanyak dua puluh tujuh kali jika dibandingkan dengan melaksanakan shalat secara sendirian.

Imam Bukhari juga meriwayatkan hadits yang senada dengan hadits pertama diatas :

ﺍﻋﻆﻡﺍﻟﻧﺎﺲﺃﺠﺮﺍﻔﻰﺍﻟﺻﻼﺓﺃﺒﻌﺪﻫﻡﺇﻟﻴﻬﺎﻤﻤﺶﻔﺎﺒﻌﺪﻫﻡ ﻮﺃﻟﻨﻯﻴﻧﺘﻈﺮﺍﻟﺻﻼﺓ ﺤﺘﻰ ﻴﺼﻟﻴﻬﺎ ﻤﻊﺍﻻﻤﺎﻢﺃﻋﻈﻢ ﺃﺠﺮﺍﻤﻦ ﺍﻠﻨﻯ ﻴﺼﻟﻴﻬﺎ ﺛﻢ ﻴﻨﺎ ﻢ

Artinya:

Orang yang paling besar pahalanya dalam sholat adalah orang yang jauh perjalanannya, lalu orang yang paling jauh (sesudah itu). Dan orang yang menanti sholat lalu melakukan bersama imam lebih besar pahalanya daripada orang yang melakukannya sendiri lalu tidur. (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Musa, dan riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah). (As Suyuthi, 2004:331)

Hadits diatas secara tidak langsung memberikan pengetahuan kepada kita betapa pentingnya shalat berjamaah dimasa Rasulullah S.A.W. karena jika melihat dari segi historisnya hadist tersebut menjelaskan betapa shalat berjamaah itu menjadi suatu bentuk kebiasaan dikalangan para sahabat dan begitu kuat mengikat mereka.

Secara tersirat hadits diatas juga memberikan penjelasan pada kita tentang betapa tingginya peran shalat berjamaah sebagai sebuah amalan ibadah memberi sebuah ciri khas dari sebuah agama dengan memegang prinsip dan pedoman untuk mengedepankan suatu kebersamaan.

B. Kajian Tentang Prestasi Belajar

1.Pengertian Prestasi Belajar

Dalam dunia pendidikan tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan kata prestasi dan belajar. Dua kata ini memang selalu muncul beriringan dan tiap kali akan kita dengar apabila kita bergelut dalam bidang pendidikan , terutama bagi seorang guru yang berhubungan langsung dengan peserta didik didalam interaksinya dengan sebuah kegiatan belajar mengajar.

Prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan) (WJS Poerwodarminto : 768), atau hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan (Depdikbud, 1995.:700).

Sedangkan definisi dari belajar, kaitannya dengan prestasi siswa bermacam-macam diantaranya adalah:

  1. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. (Hamalik Oemar, 2003:37).
  2. Belajar merupakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

(Syah Muhibbin, 1999: 64)

  1. Witherington, dalam bukunya “Educational Psychologi” mengemukakan: “Belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian”.

(Purwanto M. Ngalim, 2002: 84)

Terkait dengan beberapa pengertian diatas, maka DRS. M. Ngalim Purwanto, MP. Dalam bukunya “Psikologi Pendidikan” mengemukakan adanya beberapa elemen yang penting yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu bahwa:

  1. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang buruk.
  2. Belajar merupakan suatu peribahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar; seperti perubahan-perubahan yang tejadi pada diri seorang bayi.
  3. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang.
  4. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis.

(Purwanto M. Ngalim, 2002: 85)

Dari berbagai penjelasan diatas teranglah, bahwa pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik. Kekeliruan  atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.

Sehingga dari uraian diatas kita mendapat suatu penjelasan bahwa yang dimaksud prestasi belajar itu adalah merupakan  suatu yang kompleks dan utuh mengenai hasil pencapaian kegiatan belajar peserta didik setelah melakukan usaha, berupa berbagai bentuk interaksi dalam memperoleh pengetahuan dan pengalaman, sehingga dari perolehan  itu dapat menimbulkan perubahan tingkah laku yang bersifat relatif, permanen, tahan lama serta menetap.

2.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Presatasi Belajar.

Telah dikatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku dan atau kecakapan. Sampai dimanakah perubahan itu dapat tercapai atau dengan kata lain, berhasil baik atau tidaknya belajar itu tergantung kepada bermacam-macam faktor.

Menurut Muhibbin Syah dalam bukunya “Psikologi Belajar”, secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dibedakan menjadi tiga macam, yakni: faktor internal (faktor dari dalam siswa), faktor eksternal (faktor dari luar siswa), dan faktor pendekatan belajar.

Berikut ini penulis sajikan uraian singkat dari masing-masing pengertian faktor yang mempengaruhi belajar.

  1. a. Faktor Internal Siswa

Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek yakni:  aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniah)

1)      Aspek Fisiologis

Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi fisik siswa yang meliputi organ-organ tubuh, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan dikelas.

2) Aspek Psikologis

Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. Namun, diantaranya faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:

a) Intelegensi Siswa

Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau penyesuaian diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat (Reber : 1988). Jadi, intelegensi sebenarnya bukan persoalan otak saja, tetapi juga kualitas organ-oragan tubuh lainnya.

Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk memperoleh sukses sebaliknya semakin rendah kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses dalam belajar.

b) Sikap siswa

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap obyek orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.

c) Bakat Siswa

Secara umum, bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Chaplin, 1972; Reber 1988). Dengan demikian, sebetulnya setiap anak pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ketingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing.

d) Minat Siswa

Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (1988), minat tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya seperti pemusatat perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.

e) Motivasi Siswa

Pengertian dasar motivasi ialah keadaan internal organisme-baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasuk daya (energizer) untuk tingkah laku secara terarah.

(Gleitman, 1986; Reber,1988)

b.   Faktor Eksternal Siswa

Seperti faktor internal siswa, faktor eksternal siswa juga terdiri atas dua macam, yaitu: faktor lingkungan sosial dan faktor lingungan non sosial.

1) Lingkungan Sosial

Faktor lingkungan sosial sekolah umumnya dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa; selanjutnya yang juga termasuk lingkungan sosial siswa adalah masyarakat dan tetangga serta teman-teman sepermainan disekitar tempat tinggal siswa tersebut; dan lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi segiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri.

2) Lingkungan Non Sosial

Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial ialah gedung sekolah dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor itu dipandang turut menetukan tingat keberhasilan belajar siswa.

c.   Faktor Pendekatan belajar

Pendekatan belajar dapat didefinisikan sebagai segala cara atau strategi yang digunakan siswa untuk menunjang keefektifan dan efisiensi dalam proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.

(Lawson, 1991)

Disamping faktor-faktor internal dan eksternal siswa sebagaimana yang telah dipaparkan diatas, faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses pembeljaran siswa tersebut.

(Syah Muhibbin, 1999:140)

C.  Tinjauan Tentang Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

1.   Pengertian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Apabila kita bergelut didalam dunia pendidikan Islam, maka kita tidak akan asing lagi dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam . Mata Pelajaran ini adalah salah satu pelajaran inti di lembaga-lembaga pendidikan., sehingga  dalam perkembangan zaman yang modern ini keberadaan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam hendaknya harus lebih mendapatkan perhatian, terutama dalam menanamkan dasar-dasar hukum Islam sejak dini kepada peserta didik kaitannya dengan aktivitas ruang pembelajaran.

Seiring dengan roda perkembangan jaman, tentunya muncul dan nampaklah problematika hidup yang semakin kompleks dan beragam Maka sudah sepantasnya jika keanekaragaman permasalahan dan persoalan yang muncul sekarang ini membutuhkan suatu jawaban yang tepat dan menjadi titik penyelesaiannya.

Dalam komunitas muslim, berbagai persoalan dan permasalahan tersebut setidaknya terdapat bahan kajian untuk menampung itu semua yaitu tentang hukum Islam (syari’ah Islam)

Untuk mengetahui keseluruhan apa yang dikehendaki Allah tentang tingkah laku mansia, harus ada pemahaman yang mendalam tentang syari’ah sehingga secara alamiah syariah itu dapat diterapkan dalam kondisi dan situasi bagaimanapun. Hasil  pemahaman tersebut dituangkan dalam bentuk ketentuan yang terinci tentang tingkah laku manusia mukhalaf ini diramu dan diformalisasikan sebagai bentuk pemahaman terhadap syaria’ah yang disebut  Pendidikan Agama Islam.

Mendasar uraian diatas, dan terkait dengan judul yang penulis buat yaitu tentang mata pelajaran Agama Islam di tingkat Sekolah Dasar, Maka mendasar pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  maka. pengertian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah mata pelajaran yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik mengenal, memahami, menghayati dan mengamalkan hukum Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidup (way of life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, penggunaan pengalaman dan pembiasaan (Depag, 2004:48)

2. Fungsi dan Tujuan Pengajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Sebelum membahas tujuan mempelajari mata pelajaran agama islam, hendaknya kita mengetahui dahulu dasar untuk mempelajari mata pelajaran agama islam. DRS. Nazar Bakry dalam bukunya Fiqh dan Ushul Fiqh menjelaskan,  bahwa yang menjadi dasar dan pendorong bagi umat Islam untuk mempelajari Agama Islam adalah:

  1. Untuk mencari kebiasaan faham dan pengertian dari agama Islam.
  2. Untuk mempelajari hukum-hukum Islam yang berhubungan dengan kehidupan manusia.
  3. Kaum muslimin harus bertafaqquh artinya memperdalam pengetahuan dalam  hukum-hukum Islam baik dalam bidang aqoid dan akhlak maupun dalam bidang ibadat dan mu’amalat.(Nazar Bakry, 1993, hal. 5)

Secara garis besar tujuan dan manfaat dari ilmu agama islam  adalah untuk dapat menerapkan kaidah-kaidah terhadap dalil-dalil syara’ yang terinci agar sampai hukum-hukum syara’ yang bersifat amali, yang ditujukan oleh dalil-dalil itu. Dengan kaidah ilmu agama islam dan bahasannya itu dapat dipahami nash-nash syara’ dan hukum yang terkandung di dalamnya. Demikian pula dapat dipahami secara baik dan tepat apa yang dirumuskan ulama dan bagaimana mereka sampai kepada rumusan itu.

( Amir Syarifuddin, 2000:41)

Berhubungan dengan judul yang penulis kaji, secara khusus mata pelajaran agama islam mempunyai tujuan dan fungsi di jenjang Sekolah Dasar

  1. Tujuan Pengajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Segala ikhtiar  kita dalam pendidikan harus diarahkan dengan tujuan yang hendak dicapai, baik oleh pendidikan nasional ataupun oleh Pendidikan Agama itu sendiri dalam rangka pembangunan bangsa dan pembangunan manusia seutuhnya.

Disisi lain pendidikan akan membawa dan mengantar serta membina anak didik kita menjadi Warga Negara Indonesia yang baik dan sekaligus menjadi umat yang taat beragama.

Dengan adanya tujuan merupakan titik tolak untuk memberikan sifat dan nilai sampai seberapa jauh efektifitas lembaga-lembaga ini untuk menyanggah dari depan dengan segala perkembangan ilmu dan teknologi dalam kehidupan kita. Sebagaimana telah dikemukakan oleh beberapa ahli :

1)      Dirjen Binbaga Islam : tujuan pendidikan diartikan sebagai rumusan kualifikasi pengetahuan, kemampuan dan sikap yang harus dimiliki oleh anak didik setelah menyelesaikan suatu proses pengajaran di sekolah. (Dirjen Binbaga Islam, hal. 12)

2)      Dalam filsafat pendidikan Islam : Tujuan pendidikan Islam sebagai perubahan yang diringi yang diupayakan oleh proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapainya, baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan pribadinya atau dalam kehidupan masyarakat atau alam sekitarnya.

(Dirjen Binbaga Islam, 1992: 158)

3)      Abdurrahman an- Nahlawi dan buku Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam : Pendidikan Islam bertujuan untuk mengembangkan tingkah laku serta emosinya berdasarkan agama Islam, dengan maksud merealisasikan tujuan Islam dalam kehidupan individu dan masyarakat atau dalam bahasa lain seluruh lapangan kehidupan manusia ini.

(Abdurahman an-Nahwawi, hal. 50)

Dari uraian para ahli tersebut diatas, maka penulis dapat menarik kesimpulan dari tujuan yang pendidikan yang didalamnya mengandung proses hidup dan kehidupan manusia, maka tujuan pendidikan tersebut kiranya mampu memberikan jawaban yang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan perubahan dunia, sehingga dari akhir kegiatan pendidikan tersebut peserta didik (anak didik) mampu hidup dalam kehidupan yang layak tercapai suatu kondisi umat yang kuat dan sakinah.

3. Kurikulum Mata Pelajaran Agama Islam

Dalam pengajaran mata pelajaran agama islam di SD N Sambirejo 3 menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ). Obyek dari bahasan agam islam  juga menyangkut hukum-hukum amaliah dan juga aqidah.

Berhubungan dengan obyek pembahasan ilmu agama islam, penulis uraikan  secara singkat tentang ruang lingkup agama islam ditingkat Sekolah Dasar. Ruang lingkup agama islam di sekolah dasar meliputi keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara :

a)      Hubungan manusia dengan Allah SWT

b)      Hubungan manusia dengan sesama manusia, dan

c)      Hubungan manusia dengan alam dan lingkungannya.

4. Strategi Pengejaran Mata Pelajaran Agama Islam

Strategi atau metode pengajaran mata pelajaran agama islam, khususnya untuk tingkat pendidikan di Sekolah Dasar  secara garis besar terdapat dalam rambu-rambu pembelajaran mata pelajaran agama islam, yang diantaranya terdiri atas:

a.  Pendekatan Pembelajaran dan Penilaian.

1) Pendekatan

Cakupan materi pada setiap aspek dikembangkan dalam suasana pembelajaran yang terpadu, meliputi:

  1. Keimanan, yang mendorong peserta didik untuk mengembangkan pemahaman dan keyakinan tentang adanya Allah SWT, sebagai sumber kehidupan.

  1. Pengamalan, mengkondisikan peserta didik untuk mempraktekkan dan merasakan hasil-hasil pengalaman isi mata pelajaran agama islam dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Pembiasaan, melaksanakan pembelajaran dengan membiasakan sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan ajaran Islam yang terkandung dalam Al Qur’an dan Hadist serta dicontohkan oleh para ulama.
  2. Rasional, usaha untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran fiqh dengan pendekatan yang memfungsikan rasio peserta didik, sehingga isi dan nilai-nilai yang ditanamkan mudah dipahami dengan penalaran.

  1. Emosional, upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati pelaksanaan ibadah sehingga lebih terkesan dalam jiwa peserta didik.

  1. Fungsional, menyajikan materi agama islam yang memberikan manfaat nyata bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas.

  1. Keteladanan, yaitu pendidikan yang menempatkan dan memerankan guru serta komponen sekolah lainnya sebagai teladan dan sebagai cerminan dari individu yang mengamalkan materi pembelajaran agama islam.

2). Penilaian

Penilaian dilakukan terhadap proses dan hasil belajar peserta didik berupa kompetensi yang mencakup pengetahuan, sikap dan ketrampilan serta pengamalan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian agama islam adalah prinsip kontinuitas, yaitu guru secara terus menerus mengikuti pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan peserta didik. Penilaiannya tidak saja merupakan kegiatan tes formal, melainkan juga:

  1. Perhatian terhadap peserta didik ketika duduk, berbicara, dan bersikap.
  2. Pengamatan ketika peserta didik berada diruang kelas, ditempat ibadah, dan ketika mereka bermain.

(Depag, 2004, hal.51)

b.  Pengorganisasian Materi

Pengorganisasian materi pada hakekatnya adalah kegiatan mensiasati proses pembelajaran dengan perancangan/ rekayasa terhadap unsur-unsur instrumental melaui upaya pengorganisasian yang rasional dan menyeluruh. Kronologi pengorganisasian materi  itu mencangkup tiga tahap kegiatan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan penilaian.

Dalam proses perancangan dan pelaksanaan pembelajaran hendaknya diikuti langkah-langkah strategis sesuai dengan prinsip didaktik, antara lain: dari mudah kesulit; dari sederhana kekomplek; dan dari  konkret ke abstrak.

c.  Pemanfatan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Teknologi informasi dan komunikasi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar mata pelajaran agama islam. Dengan teknologi ini dimungkinkan memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik tentang beragai aspek materi agama islam. Oleh karena itu guru dapat memanfaatkan TV, Film, VCD/DVD/VCR, bahkan internet untuk menjadi media dan sumber belajar mata pelajaran agama islam

d.   Nilai-nilai

Setiap materi yang diajarkan kepada peserta didik mengandung nilai-nilai yang terkait dengan perilaku kehidupan sehari-hari, misalnya mengajarkan materi ibadah yaitu “wudlu”, selain keharusan menyampaikan air pada anggota tubuh, didalamnya juga terkandung nilai-nilai kebersihan. Nilai-nilai inilah yang ditanamkan kepada peserta didik dalam mata pelajaran agama islam.

e. Aspek Sikap

Mata pelajaran agama islam selain mengkaji hukum yang bersangkutan dengan aspek pengetahuan, juga mengajarkan aspek sikap, misalnya ketika mengajarkan shalat tidak semata-mata melihat aspek sah dan tidaknya shalat yang dilakukan tetapi juga perlu bagainana sikap yang baik ketika menunaikan shalat tersebut. Sehingga kelak peserta didik mampu bersikap sebagai seorang Muslim yang berakhlak mulia.

f. Ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler agama islam dapat mendukung kegiatan intrakurikuler, misalnya melalui kegiatan shalat berjamaah dilingkungan sekolah, pesantren kilat, infaq ramadlan, peringatan hari-hari besar Islam, bakti sosial, shalat jum’at, serdas cermat agama islam, dan lain-lain.

g. Keterpaduan

Pola pembinaan mata pelajaran agama islam dikembangkan dengan menekankan keterpaduan antara tiga lingkungan pendidikan, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Untuk itu guru perlu mendorong dan memantau kegiatan peserta didiknya di dua lingkungan lainnya (keluarga dan masyarakat), sehingga terwujud keselarasan dan kesesuaian sikap perilaku dalam pembinaannya.

(Depag, 2004: 53)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel

  1. 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi, studi atau penelitiannya juga disebut studi populasi atau studi sensus. (Suharsini Arikunto: 102)

Dalam penelitian ini penulis mengambil populasi siswa kelas II sampai kelas VI SDN Sambirejo 3 Mantingan, tahun pelajaran 2008/2009. Hal ini dapat kita lihat pada tabel 01 dibawah ini :

TABEL. 01

POPULASI

No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
1

2

3

4

5

6

I

II

III

IV

V

VI

9

8

8

3

5

8

11

7

7

5

4

8

21

15

15

8

9

16

JML 6 kelas 41 42 83

  1. 2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan penelitian, yaitu mengangkat kesimpulan dari penelitian sebagai sesuatu yang berlaku bagi populasi. (Arikunto Suharsimi,2002 : 104)

Salah satu cara yang sangat terkenal dalam statistik untuk memperoleh sampel yang representativ adalah dengan cara randomisasi (random sampel), yaitu suatu sampel adalah sampel random jika tiap-tiap individu dalam populasi diberi kesempatan yang sama untuk ditugaskan menjadi anggota sampel. (Hadi Sutrisno,1972 : 223)

Teknik sampling ini diberi nama demikian karena di dalam pengambilan sampelnya, peneliti mencampur subyek-subyek di dalam populasi, sehingga semua subyek di dalam populasi dianggap sama. Apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung setidak tidaknya dari:

1)      Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana.

2)      Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek.

3)      Besar kecilnya resiko ditanggung oleh peneliti.

(Arikunto Suharsimi,2002 : 107)

Teknik sampling yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian populasi karena subjek penelitian yaitu siswa kelas II sampai kelas IV jumlahnya kurang dari seratus yakni sejumlah 63 siswa. Hal ini dapat kita lihat pada tabel di bawah ini :

TABEL.02

SAMPEL

No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
1

2

3

4

5

II

III

IV

V

VI

8

8

3

5

8

7

7

5

4

8

15

15

8

9

16

JML 5 kelas 32 31 63

  1. B. Metode Pengumpulan Data

Adapun metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut :

  1. 1. Metode Observasi

Adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematik terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki. Observasi merupakan merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologik dan psikologik. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan (Hadi Sutrisno :1972: 137)

Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi (Arikunto Suharsimi,2003 : 199)

Metode observasi ini penulis gunakan untuk mengumpulkan data-data sebagai berikut :

  1. Situasi lingkungan dan keadaan sekolah
  2. Sarana dan prasarana sekolah
  3. Bentuk pelaksanaan shalat berjamaah dluhur
  4. 2. Metode Dokumentasi

Dokumentasi adalah benda tertentu yang tertulis atau tidak tertulis yang dapat memberikan berbaai macam keterangan. (Bernadi Imam : 36)

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, prasasti, notulen, raport, legger, agenda dan sebagainya (Arikunto Suharsimi:2002: 202)

Dengan menggunakan metode ini penulis mencari data tentang nilai praktek pelaksanaan shalat berjamaah dluhur, kurikulum dan program pengajaran mata pelajaran agama islam dan nilai raport siswa kelas II sampai  kelas IV pada mata pelajaran agama islam di SDN Sambirejo 3 Mantingan.

  1. 3. Metode Wawancara

Wawancara atau interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal menjadi semacam percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi (S. Nasution : 113)

Dalam interview selalu ada dua pihak, yang masing-masing mempunyai kedudukan yang berlainan. Pihak yang satu dalam kedudukan sebagai pengejar informasi (information hunter), sedang pihak yang lainnya dalam kedudukan sebagai pemberi informasi (information supplyer) atau informan (Hadi Sutrisno,1972: 193)

Menurut Dr. Suharsimi Arikunto, fungsi pedoman wawancara adalah :

  1. Agar tidak ada pokok-pokok yang tertinggal
  2. Agar pencatatannya lebih cepat

Secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara, yaitu:

  1. Pedoman wawancara tidak berstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan, tentu saja kreatifitas pewawancara sangat diperlukan, bahkan hasil wawancara dengan jenis pedoman ini lebih banyak tergantung dari pewawancara, pewawancaralah sebagai pengemudi jawaban responden.
  2. Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check-list. Pewawancara tinggal membubuhkan √ (check) pada nomor yang sesuai

(Arikunto Suharsimi,2002: 197)

Pedoman wawaancara yang banyak digunakan adalah bentuk “semi structured”. Dalam hal ini mula-mula intervier menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu per satu diperdalam dalam mengorek keterangan lebih lanjut. Dengan demikian jawaban yang diperoleh bisa meliputi variabel, dengan keterangan yang lengkap dan mendalam.

Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara dengan kepala sekolah, guru kelas, dan guru fak mata pelajaran agama islam.

  1. C. Metode Analisis Data

Mendasar pada judul yang penulis buat yaitu tentang hubungan antara dua variabel, maka metode pengolahan data yang penulis pergunakan adalah metode statistik teknik Korelasi Product Moment.

Melalui penelitian, data yang penulis peroleh dan gunakan adalah data kelompok yang Number of Cases-nya lebih dari 30, sehingga untuk mendapatkan angka indeks korelasi product momentnya, penulis mengacu pada ketentuan seperti yang dikemukakan oleh Prof. Drs. Anas Sudijono dalam bukunya “Pengantar Statistik Pendidikan”.

Untuk Data Tunggal yang Number of Cases-nya 30 atau lebih, dan untuk Data Kelompokan (Grouped Data), angka indeks korelasinya (rxy) dapat diperoleh dengan bantuan sebuah peta atau diagram yang disebut Peta Korelasi atau Scatter Diagram (Anas Sudijono, 2004, hal. 192).

Rumus yang dipergunakan ialah :

Keterangan :

= Jumlah hasil perkalian silang (product of the moment) antara frekuensi sel (f) dengan x’ dan y’.

= Nilai korelasi pada variabel X yang dapat  diperoleh dengan

rumus

= Nilai korelasi pada variabel Y yang dapat diperoleh dengan

rumus

SDx’        = Deviasi standar skor X dalam arti setiap skor sebagai 1 unit (dimana i-1).

SDy’      = Deviasi standar skor Y dalam arti setiap skor sebagai 1 unit

(dimana i -1).

N           = Number of cases

Sedangkan untuk mengetahui seberapa besarkah angka indeks korelasi “r” Product Moment (rxy) berdasarkan interprestasinya adalah dengan menggunakan pedoman atau ancar-ancar sebagaimana tabel.03  berikut :

Tabel .03

Tingkat Interpestasi Korelasi Product Moment

Besarnya “r”

Product Moment

(rxy)

Interprestasi
0,00 – 0,20

0,20 – 0,40

0,40 – 0,70

0,70 – 0,90

0,90 – 1,00

  • Antara variabel x dan variabel y memang terdapat korelasi, akan tetapi korelasi itu sangat lemah atau sangat rendah sehingga korelasi itu diabaikan (dianggap tidak ada korelasi antara variabel x dan variabel y)
  • Antara variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang lemah atau rendah
  • Antara variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang sedang atau cukupan
  • Antara variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang sangat kuat atau sangat tinggi
  • Antara variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang sangat kuat atau sangat tinggi

(Sudijono Anas, 2004 :193)  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: